Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Ganjaran


__ADS_3

"Tidak!" teriak Mila sesaat setelah jaksa mengetuk palu di ruang persidangan itu. 


Pengadilan menjatuhkan vonis empat tahun penjara, satu tahun lebih ringan dari tuntutan dari pengacara keluarga Freddy yang menjadi korban meninggal dalam kasus tersebut.


"Aku keberatan dengan vonis ini! Ini tidak adil bagiku!" protesnya.


"Sudahlah, kita terima saja keputusan pengadilan. Kamu seharusnya bersyukur mendapatkan keringanan satu tahun hukuman," ucap Fabian yang duduk di deretan paling depan di ruangan itu.


"Bersyukur katamu? Empat tahun itu bukan waktu yang sebentar."


"Kamu harus ikhlas menjalaninya. Mungkin inilah saatnya kamu merenungkan dosa-dosamu," ujar Fabian.


"Mana tanggung jawabmu 'hah?! Suami macam apa yang tega membiarkan istrinya dipenjara selama bertahun-tahun?"


"Bukan begitu. Kalau saja aku tidak kehilangan harta bendaku, aku pasti akan menyewa pengacara agar kamu bisa secepatnya bebas dari penjara," ucap Fabian.


"Awas saja jika selama aku dipenjara kamu berani macam-macam!" ancam Mila.


"Kamu tenang saja. Aku tidak akan berbuat macam-macam."


"Dan kamu! Jangan pernah menggoda suamiku!" Mila menatap tajam mata Silvia yang duduk persis di samping Fabian.


"Dasar perempuan tidak tahu diri! Harusnya kamu berterima kasih padaku. Kalau bukan karena jasa pak Abiyasa, hukuman yang akan kamu terima pasti akan lebih berat!" seru Silvia.


"Aku tahu kamu pasti senang melihatku dipenjara karena kamu pasti akan lebih leluasa mendekati mas Fabian. Bukan begitu, Ibu Silvia yang terhormat?!"

__ADS_1


"Ayo kita pulang sekarang! Aku tidak mau buang-buang waktu untuk membicarakan hal yang tidak penting!" seru Silvia. Ia lantas berlalu dari hadapan Mila.


"Jaga dirimu baik-baik, jangan lewatkan shalat lima waktu." Fabian meraih tangan Mila namun ia justru menepisnya.


"Assalamu'alaikum."


Fabian pun meninggalkan tempat tersebut.


*****


Karmila menjalani hari-harinya di dalam penjara tanpa semangat. Fabian yang awalnya sering menjenguknya perlahan mulai acuh. Jangankan mengirim makanan, sekedar menanyakan kabar pun kini begitu jarang dilakukan. Tentu saja hal itu menjadi bahan cemoohan penghuni tahanan lainnya.


"Suamimu yang katanya direktur itu sekarang jarang datang mengunjungimu. Dia pasti sudah tidak peduli lagi padamu. Atau jangan-jangan dia sudah menikah lagi dengan perempuan lain."


"Sesibuk apapun suamimu, kalau dia memang setia, dia akan menyempatkan waktunya untuk mengunjungimu."


"Kenapa kalian suka sekali mencampuri urusanku? Memangnya aku pernah peduli pada urusan kalian?"


"Kami hanya iba padamu, Ibu direktur. Kenapa kamu harus tersinggung?"


Mila enggan menanggapi ucapan tahanan itu. Dia justru memilih menghindari mereka dan berjalan menghampiri pintu sel.


"Maaf, Bu. Apa saya boleh meminjam telepon? Ada seseorang yang harus saya hubungi," ucap Mila pada sipir yang berjaga di depan sel tahanan itu.


"Dia pasti mau menelpon suaminya yang sekarang tidak peduli lagi padanya," celetuk salah satu tahanan.

__ADS_1


"Jangan sok tahu kamu!"


"Sekarang kamu pasti ketakutan kalau suamimu benar-benar punya istri baru. Jadi kamu ingin memastikannya. Begitu 'bukan?"


"Astaga. Apa kalian tidak bisa diam 'hah?! Kalian seperti anak kecil saja!" bentak sipir yang sontak membuat keduanya diam.


"Saudara Karmila, saya beri waktu lima menit untuk menelpon." Sipir itu pun lantas membuka pintu sel.


"Terima kasih, Bu."


Mila pun lekas menghubungi nomor ponsel Fabian. Dia harus tahu apa yang menyebabkan sikap Fabian berubah akhir-akhir ini. Ia sudah berkali-kali menghubungi nomor suaminya itu namun panggilannya selalu ditolak.


"Bagaimana, Bu? Apa Ibu sudah bisa tersambung?" tanya sipir.


Mila menggelengkan kepalanya.


"Mas Fabian, kenapa kamu berubah? Apa benar kamu sudah lupa denganku?" gumam Mila.


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2