
"Ya. Aku calon suami Zura."
"Aku tidak menyangka segampang ini kamu menerima laki-laki lain untuk menjadi ayah sambung Lyra. Atau jangan-jangan kamu memang sudah menjalin hubungan dengannya saat kita masih berstatus suami istri?" cibir Fabian.
"Jaga mulutmu! Aku tidak serendah yang kamu pikirkan!" tegasku.
"Sudahlah, tidak perlu meladeni pria ini. Mari kita lanjutkan perjalanan kita."
Gibran membopong Lyra lalu membawanya berlalu dari hadapan Fabian.
"Maaf, jika tadi aku mengaku sebagai calon suamimu. Bukannya apa, aku hanya tidak rela kamu dibentak-bentak begitu," ucap Gibran sesaat setelah melajukan kembali mobilnya.
Diam-diam aku tersenyum. Sungguh, perlakuannya membuatku semakin merasa nyaman saat berada di dekatnya.
"Oh, tidak apa. Aku harap jangan pernah mengulanginya lagi."
Lima belas menit kemudian kami tiba di taman bermain.
"Bu naik ayunan itu." Lyra mengacungkan jari telunjuknya pada sebuah ayunan. Namun di saat bersamaan seorang anak laki-laki seusianya juga berjalan mendekati wahana permainan itu.
"Aku duluan!"
"Aku duluan!"
Keduanya saling berebut tanpa ada yang mau mengalah.
"Lyra, di sebelah sana masih banyak wahana permainan yang jauh lebih seru dari ayunan ini. Bagaimana kalau kita ke sana?" bujuk Gibran. Putri kecilku itu mengangguk setuju. Dia lantas membopong Lyra.
Jumlah anak tangga yang kami naiki cukup banyak hingga membuatku berhenti di tengah jalan karena kelelahan.
Sambil menggendong Lyra Gibran berlalu dari hadapanku. Kupikir dia akan meninggalkanku sendirian. Namun ternyata dugaanku salah. Rupanya dia pergi untuk membeli sebotol mineral.
"Minum lah."
"Terima kasih."
Aku yang memang tengah dilanda kehausan pun lantas meneguk air mineral tersebut.
Tiba-tiba Lyra memaksa turun dari gendongan Gibran.
"Gantian ibu saja yang digendong paman Giblan," ucapnya.
"Ibu masih kuat berjalan kok Sayang, ibu hanya kecapean," ujarku.
"Nggak apa-apa. Lyla jalan kaki saja, kasihan ibu capek."
"Anak ini kenapa suka sekali membuat ibunya salah tingkah," gumamku.
Gibran pun lantas membungkukkan badannya.
"Kamu ngapain?"
"Ayo cepat naik. Nanti kamu pingsan, aku yang repot."
"Kamu jangan meremehkanku. Aku pasti bisa kok jalan sampai ke atas."
Aku pun lantas berdiri dan kembali menaiki anak tangga. Setelah perjuangan yang cukup berat, akhirnya aku sampai di tempat tujuan yakni wahana bianglala.
"Lyla mau naik itu, Bu."
"Lyra yakin? Bukannya Lyra takut ketinggian ya?"
"Kali ditemani Ibu dan paman Giblan, Lyla belani kok."
"Ibu nggak berani naik, nanti pusing."
__ADS_1
"Ayolah, Bu. Masa Ibu kalah sama Lyla," rengeknya
"Biar paman saja yang temani Lyra, ya," bujuk Gibran.
"Lyra mau sama ibu juga."
"Nanti kalau ibu pusing terus pingsan gimana? Biar paman saja yang temani Lyra.
Setelah dibujuk Gibran, akhirnya Lyra mau menaiki wahana itu tanpa aku.
"Kita beli es klim yuk, Paman," ucap Lyra setelah puas menjajal seluruh wahana yang berada di taman permainan tersebut.
Gibran pun kembali menggendongnya dan hendak mengajak kami menuju kedai es krim yang berada tidak jauh dari taman.
Setelah memesan es krim yang diinginkan Lyra, kami bertiga pun lantas duduk di bangku dengan meja berbentuk lingkaran
Di saat itulah seseorang berpakaian badut muncul dan menghampiri kami. Rupanya dia fotografer yang biasa menawarkan jasa foto pada pengunjung taman.
"Selamat siang, Adik manis. Adik manis mau nggak paman badut foto?" sapanya sekaligus menawarkan jasanya.
"Mau!" jawab Lyra cepat.
"Adik kecil berdiri diapit ayah dan ibu ya," ucap badut itu.
"Ehm … kami bukan suami istri," ralatku.
"Oh, maaf. Saya pikir kalian satu keluarga."
"Ibu … Paman … kita poto belsama ya."
"Ehm … t-t-tapi, …"
"Tidak apa. Anggap saja sebagai kenang-kenangan," ucap Gibran.
Kami mengikuti arahan fotografer keliling itu sebelum kamera nya mengambil gambar kami bertiga.
Gibran pun lantas mengambil selembar uang pecahan lima puluh ribu dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada fotografer tersebut.
"Uang pas saja, Pak. Saya tidak memiliki kembalian."
"Tidak apa, ambil saja kembaliannya. Saya juga tidak memiliki uang pecahan dua puluh ribu."
"Terima kasih banyak, Pak. Saya do'a kan semoga Bapak dan ibu ini menjadi keluarga beneran."
"Aamiin," ucap Gibran.
Badut itu pun lantas berlalu dari hadapan kami.
Tiba-tiba terdengar suara khas dari perutku.
"Sepertinya ada yang lapar," sindir Gibran.
"Siapa yang lapar?" bantahku.
"Kamu pikir aku tidak mendengar suara cacing yang berdemo di dalam perutmu? Bagaimana kalau kita mampir di warung makan sebelah sana?"
"Lyla mau makan bakso!" seru Lyra.
"Oh, Lyra lapar juga? Ya sudah kita makan siang dulu."
Entah disengaja atau tidak, Gibran yang sedari tadi menggandeng tangan Lyra, tiba-tiba saja menggandeng tanganku. Sontak aku pun menepisnya.
"Ma-ma-af, aku pikir tangan Lyra."
"Ukuran tangannya saja jauh berbeda. Bagaimana kamu bisa salah pegang," gerutuku.
__ADS_1
Sesampainya di warung itu Gibran memesan tiga porsi bakso dan tiga gelas es jeruk.
"Puterinya sudah besar. Apa belum terpikir diberikan adik, Bu … Pak?" tanya pemilik warung itu.
Ah! Lagi-lagi kami dikira pasangan suami-istri.
"Ehm … kami bukan suami istri, Bu."
"Oh, maaf. Saya pikir kalian keluarga. Soalnya Bapak dan Ibu cocok sekali sebagai pasangan."
"Do'akan saja agar kami bisa benar-benar menjadi keluarga, Bu," ucap Gibran yang kemudian kuhadiahi dengan sebuah injakan yang cukup keras di bagian kakinya.
"Paman Giblan kenapa?" tanya Lyra.
"Ah. Tidak. Ada semut yang masuk ke dalam sepatu paman."
"Setelah ini kita ke kolam lenang 'kan, Paman?" tanya Lyra.
"Iya, Lyra."
Baru saja beberapa langkah meninggalkan warung, perhatianku tertuju pada seorang kakek tua penjual tas rajut.
"Silahkan, Nak. Tas rajut nya, lima puluh ribu saja," tawarnya.
"Saya beli satu ya, Kek," ucapku sembari menunjuk sebuah tas rajut bermotif bunga-bunga.
"Alhamdulillah."
Dengan sigap kakek itu pun memasukkan tas rajut tersebut ke dalam kantong plastik lalu menyodorkannya padaku.
"Kenapa kamu tidak menawar dagangan kakek, Nak?"
Aku mengulas senyum.
"Dulu saya pernah menjadi penjahit. Saya tahu merajut itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Rasanya tidak adil jika saya masih menawarnya."
"Kalian habis jalan-jalan di taman ya?" tanyanya.
"Iya, Kek. Mumpung putri saya libur sekolah."
"Apa kakek boleh melihat telapak tanganmu sebentar, Nak?" tanyanya.
"Boleh, Kek. Kakek pasti pandai membaca garis tangan ya?"
"Belakangan ini kakek sering diminta pengunjung untuk membaca garis tangan mereka."
Kakek itu pun mulai mengamati garis tangan kananku.
"Jalan rezekimu bagus, meskipun dulu kamu pernah jatuh terpuruk. Tapi … garis jodohmu kurang baik."
"Garis jodoh?"
"Ya, kakek bisa melihat kamu bukan hanya sekali mengalami patah hati karena pria."
"Maksud kakek bagaimana?"
"Semoga ramalan kakek salah, Nak." Kakek itu lalu terkekeh.
Apa sebenarnya maksud ucapan kakek ini?
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰 🥰🥰🥰