Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Tanda tanya


__ADS_3

"Tidak perlu bingung, masih ada ibu. Ibu akan membantu semampu ibu," ucap ibu sembari melepas kalung emas yang melingkar di lehernya. Meskipun saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, ingatanku masih cukup jelas jika kalung berbandul huruf S itu adalah kado dari almarhum ayah saat hari ulang tahunnya yang ke tiga puluh lima. Aku tak menyangka ternyata kalung itu masih ada.


"Tapi, Bu. Bukankah ini satu-satunya barang peninggalan ayah?"


"Tidak apa, Nak. Kamu bisa menggadaikannya agar bisa mendapatkan uang untuk modal memulai usaha."


"Tapi, Bu, …"


"Yang penting ibu tidak menjualnya 'bukan? Jika ada rezeki lagi, ibu bisa mengambilnya kembali.


"Terima kasih, Bu," ucapku.


"Tidak perlu berterima kasih. Seorang ibu tidak akan membiarkan putrinya dalam kesulitan," ujarnya.


Aku tak berkata-kata lagi. Detik kemudian ibu merengkuhku ke dalam pelukannya.


*****


Siang menjelang sore.


Aku dan ibu baru saja keluar dari dalam kamar kost. Kami berniat mendatangi kantor pegadaian. Di saat itulah kulihat seorang perempuan yang berdiri di depan kamar Rahma. Dia mengetuk pintu 


berulang, namun pemiliknya tak kunjung keluar.


"Maaf, Mbak siapa? Dan ada keperluan apa?" tanyaku.


"Nama saya Salma. Saya adalah kakaknya Rahma," jawab perempuan yang tubuhnya terlihat berisi itu. Ya, seperti yang penah diceritakan Rahma. Perempuan yang usianya mungkin hanya terpaut beberapa tahun dariku itu kini memang tengah berbadan dua. Rahma mengatakan belum lama ini suami kakak perempuannya itu meninggal akibat kecelakaan. Jika dilihat dari bentuk perutnya, sepertinya kehamilannya susah lebih dari tujuh bulan.


"Oh iya. Rahma juga pernah bercerita tentang Mbak Salma. Saya turut berduka cita atas kepergian almarhum suami Mbak," ucapku.


"Terima kasih, Mbak. Oh ya, Rahma di mana ya? Semalam kami sempat berkirim pesan. Dia bilang Minggu ini masuk shift malam. Jam segini dia pasti belum berangkat 'kan?"


"Mungkin Rahma sedang keluar. Tidak lama lagi dia pasti pulang. Biasanya kalau pergi agak lama dia pasti pamit pada saya," ucapku.


"Mbak mau kemana?" tanya Salma.


Pertanyaan itu belum sempat kujawab. Tiba-tiba terlihat Rahma muncul di halaman.


"Mbak Salma kapan datang?" tanyanya.


"Baru beberapa menit sampai. Kamu dari mana?"


"Aku dari supermarket membeli keperluan kamar mandi."

__ADS_1


Dari Salma, pandangan Rahma beralih padaku.


"Mbak Zura mau kemana sore-sore begini?" tanyanya.


"Aku ada perlu sebentar," jawabku. Gadis itu pun mengangguk paham.


"Ya sudah, kami permisi dulu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Setengah jam kemudian kami tiba di pegadaian. Di tempat itulah ibu akan menggadaikan kalung miliknya yang akan kupergunakan untuk membuka usaha jasa jahit.


Di ruangan itu tidak begitu banyak antrean. Hanya terlihat dua orang yang tengah duduk di bangku tunggu.


Nomor yang dipanggil petugas saat itu adalah nomor antrean 57. Itu adalah nomor giliranku. Aku pun lekas memindahkan Lyra dari gendonganku lalu kuberikan pada ibu dan berjalan menuju meja petugas setelahnya. 


Petugas pegadaian heran lantaran bukan hanya aku saja yang menghadap ke mejanya. Namun, seorang perempuan juga ikut menghampiri mejanya.


"Antrean nomor 57," ucapnya.


Aku pun lantas menyodorkan kartu nomor antrean kepada petugas.


"Maaf, Ibu. Nomor antrean Ibu 60. Ibu masih harus menunggu tiga nomor lagi untuk sampai di nomor antrean Ibu," ucap petugas pada perempuan yang jika dilihat dari penampilannya adalah pekerja kantoran itu.


"Saya paham, tetapi saya akan melayani sesuai nomor antrean. Silahkan Ibu kembali ke tempat duduk Ibu. Nanti saya akan memanggil Ibu," ujar petugas.


"Sudah saya bilang tadi, saya sibuk tidak punya banyak waktu. Setelah dari tempat ini saya masih harus kembali ke kantor."


"Tidak apa, Mbak. Layani dulu saja ibu ini. Mungkin ibu ini terlalu sibuk," ucapku.


"Mohon maaf atas ketidak nyamanannya, Bu," ucap petugas.


"Tidak masalah. Saya hanya tidak menyukai keributan," ujarku.


Bukannya berterima kasih, perempuan itu justru melirik sinis ke arahku. Ah sudahlah, tiga nomor antrean lagi tidak akan membutuhkan waktu yang lama 'bukan? 


Aku pun beranjak dari meja petugas lalu kembali menghampiri ibu.


"Loh, kok balik lagi?" tanyanya.


"Ibu itu buru-buru. Aku memilih mengalah daripada ribut."


"Nggak bisa gitu dong. Kamu datang lebih dulu kok. Dia main serobot aja," gerutu ibu kesal.

__ADS_1


"Ssssst, sudah, Bu. Biarkan saja."


Aku membiarkan ibu yang masih saja menggerutu kesal lantaran antreanku diserobot oleh pengunjung lain.


Sekitar lima belas menit kemudian petugas memanggil nomor antrean 60. Aku pun beranjak dari tempat dudukku hendak menghampiri meja petugas tersebut. Namun, entah mengapa tiba-tiba Lyra menangis. 


"Pasti dia haus. Biar ibu saja yang ke meja petugas," ucap ibu.


Aku pun lantas mengambil alih Lyra dari gendongan ibu lalu mengajaknya ke dalam ruangan kecil yang memang disediakan bagi pengunjung yang ingin menyusui anaknya. 


Aku baru saja keluar dari ruang khusus menyusui ketika tiba-tiba aku merasa bertabrakan dengan seseorang. Ah! Perempuan itu lagi. Sepertinya dia baru saja kembali dari toilet.


"Ditaruh di mana mata kamu 'hah!" serunya sembari mengambil ponselnya dari atas lantai. 


"Saya yang seharusnya bertanya pada Ibu. Apa benar saat berjalan, tapi pandangan kita tertuju pada layar ponsel?"


"Kamu ini sudah salah. Bukannya meminta maaf malah ceramahin saya."


"Saya tidak bermaksud menceramahi Ibu. Hanya saja tadi Ibu berjalan tanpa memperhatikan jalan karena Ibu sibuk dengan ponsel Ibu," ujarku.


"Nggak tahu diri banget ya. Sudah miskin, sok pinter lagi!" cibirnya.


"Saya memang bukan orang berada, tapi saya masih memiliki sopan santun dan busa menjaga sikap saat berada di tempat umum," ucapku.


"Buang-buang waktu saja dengerin ceramah kamu!" Perempuan itu pun lantas berlalu dari hadapanku. Aku hanya menggeleng heran dengan sikapnya. 11-12 dengan Karmila. Angkuh dan keras kepala. Loh, kenapa aku jadi ingat Karmila?


Detik kemudian tangis Lyra kembali pecah. 


Agar tak mengganggu kenyamanan para pengunjung, aku pun memilih mengajaknya keluar. Kulihat perempuan yang sempat dua kali bersitegang denganku itu tengah berdiri di halaman. Beberapa kali dia melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu menelpon seseorang. Selang beberapa saat kemudian tampak mobil berwarna putih memasuki halaman. 


"Kamu kok lama banget sih!" serunya sembari berjalan menghampiri mobil itu. Tidak berselang lama tampak seorang pria turun dari dalam mobil tersebut. 


"Hah? Apa aku tak salah lihat?"


Aku mengucek mataku memastikan jika penglihatanku tidak bermasalah. Pria yang baru saja keluar dari mobil itu adalah pria yang begitu kukenal.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2