
Aku tak boleh tinggal diam. Aku masih ingat betul bagaimana perlakuannya pada mbak Salma dulu saat amarahnya meledak. Aku khawatir ibu melakukan tindakan nekad pada kak Maureen.
"Pak Amin! Antarkan saya, cepat!" teriak ibu.
Pria paruh baya yang tengah sibuk membersihkan taman kecil di depan rumahku itu pun sontak meninggalkan pekerjaannya dan berlari kecil ke arah ibuku.
"Kita mau kemana, Bu?" tanyanya.
"Antarkan saya ke LP," jawab ibu sembari menarik handle pintu mobilku.
Pak Amin yang selalu menyimpan kunci mobil di dalam saku celananya itu pun mengangguk paham.
"Ibu tidak akan kemana-mana!"
Pak Amin terlihat kebingungan saat aku merebut paksa kunci mobil dari genggaman tangannya.
"Masyaallah, ada apa ini? Sebenarnya perintah siapa yang harus saya ikuti?"
"Pak Amin boleh lanjutkan pekerjaan pak Amin di taman," ucapku.
"Baik, Bu," ucapnya sembari berlalu dari hadapanku.
"Ibu tenang, sabar. Amarah tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Perbuatan kak Maureen memang sudah kelewatan. Tapi, apa Ibu tahu, dia melakukan itu juga karena kesalahan Ibu?"
"Kesalahan apa maksudmu?"
"Sama halnya seperti kak Darren, Kak Maureen merasa iri dan sakit hati karena Ibu selalu memberikan perlakuan yang berbeda kepadanya. Rasa sakit hati itu pun akhirnya berubah jadi dendam dan pada akhirnya menghancurkanku."
"Astaghfirullahaldzim. Ibu macam apa aku ini? Setelah kamu lahir, ayah dan ibu selalu memperlakukanmu bagaikan seorang putri. Kami seolah lupa jika kami juga memiliki anak yang lain."
Raut wajah ibu yang tadinya dipenuhi amarah kini justru terlihat dipenuhi rasa bersalah.
"Ibu dan ayah menganggap kehadiranmu adalah pembawa keberuntungan bagi kami. Itulah sebabnya kami memperlakukanmu berbeda dari kedua kakakmu. Ibu tidak menyangka kesalahan kami lah yang justru menjadi bumerang bagi hidupmu di kemudian hari. Ibu benar-benar minta maaf, Nak," ungkap ibu.
"Bukan aku saja yang perlu Ibu mintai maaf, tapi kak Maureen juga," ujarku.
"Apa kamu mau menemani ibu menemuinya?"
"Tentu saja, Bu. Besok kita temui kak Maureen. Dia juga berpesan agar aku membawakan kain hijab untuknya."
"Kain hijab?"
"Ya, Bu. Kak Maureen bilang jika dia ingin mulai mengenakan hijab."
"Alhamdulillah."
"Ya sudah, sekarang kita ke bagian produksi. Tadi ada kawanku yang mengajak bekerjasama. Atas rekomendasi pak Willy dia ingin menjadikan konveksi milikku sebagai pemasok baju muslim untuk toko pakaiannya."
"Masyaallah, rezekimu terus mengalir seperti air, Nak," ujar ibu.
"Alhamdulillah, ini berkat do'a Ibu juga."
"Oh ya, bagaimana kabar mantan suamimu yang tidak tahu diri itu? Jika melihat kesuksesanmu saat ini, dia pasti akan merasa menyesal pernah membuangmu."
"Terakhir aku bertemu dengannya, dia sedang mencari pekerjaan lantaran dipecat dari kantor."
"Dipecat? Bukankah dia karyawan kesayangan atasannya itu?" Bagaimana mungkin dia bisa dipecat?"
"Entahlah, Bu. Aku juga baru tahu belakangan jika dia sudah menikahi Silvia. Pantas saja waktu itu Silvia marah-marah pada Fabian saat mendapati kami tengah mengobrol di depan ruko."
"Benar-benar laki-laki baj*ngan! Membuangmu begitu saja setelah tergoda Maureen Sekarang Maureen di dalam penjara, dia menikah lagi dengan Silvia."
"Aku tidak paham apa yang sebenarnya Fabian cari dari pasangannya. Jika mencari yang sempurna, sampaikan kapan pun dia tidak akan pernah menemukannya. Kesempurnaan hanya milik Allah," ujarku.
__ADS_1
"Ayo kita ke ruang produksi."
Aku berjalan beriringan bersama ibu menuju konveksi yang berada di rumah bagian belakang.
"Perhatian semuanya, saya baru saja bertemu dengan seseorang yang ingin menjalin kerjasama dengan konveksi ini. Apa kalian keberatan jika saya menaikan target produksi pakaian muslim? Kalian jangan khawatir. Kalaupun kalian harus kerja lembur, saya pastikan jam kerja kalian tidak lebih dari jam delapan malam. Saya juga pasti akan memberikan gaji tambahan di luar gaji pokok. Bagaimana, apa ada yang keberatan? Jika ada yang keberatan silahkan angkat tangan."
Dari seluruh karyawanku yang jumlahnya tiga puluh orang meliputi bagian produksi, packing, hinggga admin, ada dua orang yang mengangkat tangannya. Keduanya adalah bu Irma dan Novi.
"Ya, Bu Irma … Novi."
"Maaf, Bu Azzura. Bukannya saya menolak rezeki, tapi saya tidak bisa jika harus bekerja lebih dari jam empat sore. Saya masih memiliki anak balita. Jika siang dia diasuh kakeknya, namun akhir-akhir ini bapak saya sering sakit-sakitan," ungkapnya.
"Kalau Novi?"
"Saya juga tidak bisa bekerja lebih dari jam empat sore, alasannya saya harus merawat ibu saya yang sudah mulai sakit-sakitan," ungkap Novi.
"Baiklah, khusus untuk bu Irma dan Novi, kalian saya perbolehkan pulang seperti biasanya."
"Terima kasih atas pengertiannya, Bu."
Aku tersenyum.
"Aku pernah berada di posisi kalian. Menjahit sambil merawat bayi, juga ibu yang saat itu keadaannya tidak begitu baik," ujarku. Apa masih ada lagi yang tidak sanggup bekerja lembur?" tanyaku kemudian.
"Insyaallah kami sanggup, Bu," ucap ke 28 karyawanku serempak.
"Alhamdulillah, silahkan kembali bekerja."
Aku beranjak meninggalkan ruang produksi, sementara ibu yang memang menjadi pengawas di konveksi ini, tetap berada di sana. Lekas kuhubungi nomor Gibran yang tercantum di kartu namanya.
[Halo, Assalamu'alaikum]
[Waalaikumsalam. Maaf, dengan siapa saya berbicara?]
[Oh. Ya. Aku tidak menyangka kamu akan menghubungiku secepat ini. Atau kamu memang sengaja ingin berlama-lama mengobrol denganku?]
[Jangan menuduhku yang tidak-tidak. Aku menelponmu karena ada hal penting yang harus aku sampaikan. Aku sudah berbicara dengan karyawanku. Mereka bersedia menerima tawaran kerjasama denganmu]
[Alhamdulillah. Jadi, bagaimana jika besok kita bertemu berdua saja?]
[Kamu jangan macam-macam ya]
[Kita harus bertemu secara langsung untuk membicarakan banyak hal mengenai bisnis kita ini. Desain baju muslim yang akan kujual nanti juga aku sendiri yang merancangnya. Kita tidak bisa membicarakannya hanya melalui sambungan telepon]
[Memangnya kamu bisa menggambar?]
[Tentu saja. Dulu aku kuliah di bagian seni]
[Begitu ya. Aku pikir kamu menyukai seni hanya untuk mencari popularitas dengan cara membentuk band]
[Awalnya begitu, tapi akhirnya aku sadar jika band tidak bisa selamanya dapat diandalkan. Apalagi dengan band-band baru yang bermunculan. Akhirnya aku mengikuti jejak Keenan untuk menggeluti dunia bisnis. Selain hasilnya lebih menjanjikan, aku juga bisa berkenalan dengan banyak pengusaha]
[Ya sudah, besok jam sembilan pagi kita bertemu di cafe]
[Cafe mana?]
[Ehm … Kamu saja yang menentukan tempatnya]
[Bagaimana dengan cafe Rainbow?"
[Di mana itu?]
[Cafe baru di dekat taman]
__ADS_1
[Insyaallah aku akan datang tepat waktu]
[Aku akan menunggumu walaupun sampau seribu tahun lamanya]
[Tidak usah ngmong yang aneh-aneh]
[Aku hanya bercanda. Aku sudah bilang jadi orang jangan terlalu serius]
[Nanti cepat tua, kena stroke, cepat mati. Begitu kan kelanjutannya?]
[Rupanya kamu masih ingat kata-kata itu]
[Ya sudah, kita bertemu besok di cafe. Assalamu'alaikum]
[Assalamu'alaikum. Halo]
[He he he]
[Bukannya menjawab salamku, malah tertawa]
[Sengaja agar aku lebih lama mendengar suaramu]
[Aku masih banyak kesibukan. Assalamu'alaikum]
"Orang ini menyebalkan sekali," gerutuku sesaat setelah mengakhiri panggilan telepon.
"Cie … yang baru saja ngobrol dengan ayang." Fina yang baru saja pulang sekolah mencolek pundakku.
"Kalau masuk rumah itu ucapkan salam."
"Ibu tadi sedang asyik menelpon hingga tidak mendengar salamku."
"Masa."
"Kalau tidak percaya tanya saja bibi."
Bi Mia yang baru saja keluar dari dalam dapur tersenyum tipis.
"Tadi mbak Fina sudah mengucapkan salam kok Bu. Tapi Ibu tidak mendengar karena sibuk menelpon."
"Kalau begitu ibu minta maaf, Fin."
"Pasti yang tadi itu mas Keenan ya?"
"Bukan."
"Atau kembarannya? Mas Gibran. Ibu suka ya sama dia?" goda Fina.
"Ah! Kamu bicara apa sih."
"Cie … wajah ibu merah," ledeknya lagi.
Aku lekas berlalu dari hadapan Fina. Tentu saja aku ingin menyembunyikan wajahku yang terasa memerah. Dan tiba-tiba saja hatiku merasa begitu hangat. Perasaan apa ini?
Bersambung …
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
__ADS_1
Happy reading…