Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Mukjizat itu ada


__ADS_3

Sontak kutarik lengan Mila. Meskipun hubungan kami tak begitu baik, tetap saja aku masih memiliki rasa kasihan. Terutama pada makhluk tak berdosa yang kini tumbuh di dalam rahimnya. Bukannya berterima kasih, dia justru cepat-cepat menjaga jarak dariku seolah merasa jijik berdekatan denganku.


"Kamu nggak apa-apa, Mila?" tanyaku.


"Kamu menolongku hanya agar terlihat baik di depan mereka 'kan?" tanyaku.


"Ibu ini aneh banget. Bukannya berterima kasih sudah ditolong, malah marah-marah. Kalau ibu ini tidak menarik tangan Ibu, Ibu pasti sudah jatuh. Kandungan Ibu bisa kenapa-napa," ucap sang kasir.


"Ini lagi, ikut-ikutan," gerutu Mila sebal.


"Tahu gitu tadi nggak perlu ditolongin, Bu." Kasir itu mengalihkan pandangannya padaku.


"Aku kapok belanja di toko ini. Pelayanannya buruk!" seru Mila.


"Bukan pelayanannya yang buruk, tapi akhlakmu yang minus." Perempuan yang sempat bersitegang dengan Mila menimpali.


"Awas saja kalau kita bertemu di tempat lain. Aku akan membuatmu malu!" ancam Mila yang justru membuat perempuan berhijab itu terkekeh.


"Saya heran. Suaminya tampan, kok mau-maunya menikah dengan perempuan model begini," ucap perempuan itu lagi.


"Tahu apa kamu tentang suami saya 'hah?"


Maaf, Bu. Sekarang juga saya mohon pada Ibu untuk meninggalkan toko saya. Saya tidak ingin kehadiran Ibu mengganggu kenyamanan pelanggan lain," ucap pak Prayoga.


"Harusnya ibu ini yang diusir, bukan saya," protes Mila.


"Silahkan tinggalkan tempat ini, pintu keluarnya di sebelah sana," ucap pak Prayoga sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah pintu.


"Saya kapok berbelanja di toko ini!" seru Mila. Dia pun lantas meninggalkan toko.


Aku benar-benar mengurut dada dengan tingkahnya.


"Maaf, sepertinya Nak Zura mengenal ibu itu," ucap pak Prayoga sesaat setelah Mila berlalu.


"I-i-iya, Pak. Dia adalah kawan saya," ucapku. Pak Prayoga mengangguk paham.


"Oh ya. Setelah dari toko ini saya langsung menuju rumah sakit. Apa Nak Zura mau sekalian ke sana bareng saya?" ucap pak Prayoga.


"Ehm, …tidak usah, Pak. Saya bisa naik taksi," ucapku.


"Dari pada naik taksi, mending bareng mobil saya saja. Lebih cepat daripada harus menunggu taksi."


"Saya tidak enak selalu merepotkan Bapak."


"Saya sama sekali tidak merasa direpotkan. Kalau Nak Zura mau, kita berangkat sekarang saja," ucap pak Prayoga. Aku yang tadinya sungkan, akhirnya mengangguk setuju. Kami berdua pun lantas menuju rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Sabrina, Dok?" tanya pak Prayoga pada dokter yang menangani ibu.


"Pasien masih belum sadar dari koma nya. Saya menyarankan agar orang terdekat pasien berinteraksi dengannya," ucap dokter.

__ADS_1


"Maksud Dokter bagaimana?" tanyaku.


"Mungkin keluarganya bisa mengajaknya mengobrol. Saya yakin, meskipun kini pasien berada di alam bawah sadar, pasien masih bisa mendengar suara di sekitarnya," jelas dokter.


"Kalau Nak Zura mau masuk ke dalam, Lyra biar sama saya. Saya akan mengajaknya berjalan-jalan di taman," ucap pak Prayoga.


"Maaf merepotkan," ucapku.


Pak Prayoga pun lantas mengambil alih Lyra dari gendonganku.


Detik kemudian langkahku kembali berayun menuju kamar perawatan ibu.


Kupandangi wajah perempuan yang begitu kukasihi itu. Tentu saja wajah ibu sudah jauh berbeda dengan ibu yang dulu. Wajahnya yang dulu selalu terlihat kencang dan terawat, kini tampak tirus dan kusam. 


Kuraih salah satu tangannya lantas kudekap erat. Tangan inilah yang tulus merawat saat aku masih kecil. Tangan ini juga lah yang memegangi tanganku saat aku belajar berjalan.


"Ibu…kumohon bangun lah. Aku ingin kita berkumpul kembali seperti dulu. Oh ya, Bu. Kak Darren ternyata masih hidup. Dia sudah menikah dan istrinya Fatimah baru saja melahirkan bayi perempuan. Namanya Anisa," ucapku setengah berbisik.


Ibu tak bergeming. Sepertinya beliau tidak merespon ucapanku.


"Aku juga sudah memiliki seorang putri, namanya Lyra. Apa Ibu tidak ingin menggendongnya?" 


Tiba-tiba mataku memanas. Buliran hangat itu pun tanpa permisi menetes begitu saja membasahi pipiku.


"Bangun lah, Bu. Jangan membuatku takut," ucapku sembari mendekap tubuhnya.


Di saat itulah keajaiban terjadi. Kulihat jari-jari tangan ibu bergerak perlahan. Sesaat kemudian kudengar beliau berucap lirih.


Aku tidak sedang salah dengar 'kan? Ibu yang divonis dokter mengalami amnesia disosiatif, tiba-tiba saja memanggil namaku.


"Ya, Bu. Ini aku, Azzura. Alhamdulillah, akhirnya Allah mengembalikan ingatan Ibu," ucapku.


"Maafkan ibu, Nak. Ibu sudah meninggalkan kalian," ucap ibu dengan suara yang masih terdengar lemah.


"Tanpa meminta maaf pun, aku sudah memaafkan Ibu," ucapku.


"Kamu terlihat semakin cantik dengan baju itu, Nak," ucap ibu lagi.


Tunggu! Bukankah kecelakaan itu juga menyebabkan ibu kehilangan penglihatannya? Lantas, kenapa beliau bisa memuji penampilanku?


"Ibu…apa Ibu bisa melihatku?" tanyaku.


Perempuan yang kupanggil ibu itu menganggukkan kepalanya.


Allahuakbar. Allah benar-benar menunjukkan mukjizatnya. Apa yang dianggap mustahil bagi manusia adalah hal yang mudah bagi Nya.


"Bu, apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu? Siapa laki-laki yang berada di dalam mobil bersama Ibu saat terjadi kecelakaan itu?"


"Ibu menyesal," ucap ibu.

__ADS_1


"Apa Ibu sudah mengingat semuanya?" tanyaku.


"Laki-laki yang bersama ibu di dalam mobil itu bernama Roni. Dia-dia adalah pacar kedua ibu. Kami menjalin hubungan di belakang pak Prayoga."


"Hah?"


Lekas kututup mulutku yang menganga. Rupanya Roni yang tewas dalam peristiwa kecelakaan itu adalah pacar ibu juga. Dan pak Prayoga tidak sedikit pun mengetahuinya.


"Pak Prayoga begitu baik. Kenapa Ibu setega itu pada beliau?"


"Saat bersama Roni yang juga keponakan pak Prayoga, ibu merasa kembali muda. Meskipun ibu tahu, dia sudah menikah dan tidak lama lagi istrinya melahirkan."


"Ibu juga perempuan.  Kenapa Ibu tega mengganggu laki-laki beristri?"


"Entahlah. Ibu tidak mampu melawan perasaan itu. Meskipun ibu juga mencintai pak Prayoga. Tapi, ibu janji, ibu akan secepatnya mengakhiri hubungan terlarang kami. Ibu ingin Roni bahagia bersama keluarganya," ucap ibu.


"Ibu tidak perlu mengakhiri hubungan Ibu dengan laki-laki bernama Roni itu."


"Apa maksudmu, Nak?"


"Allah yang telah memisahkan hubungan kalian."


"Jadi, Roni, …"


"Roni tewas di tempat terjadinya kecelakaan," ucapku. Ibu membekap mulutnya dengan salah satu tangannya.


"Ternyata Tuhan sudah menegur ibu dengan kecelakaan itu. Mulai hari ini ibu berjanji akan setia pada pak Prayoga," ucap ibu.


"Pak Prayoga sekarang juga ada di rumah sakit ini. Beliau yang menanggung seluruh biaya rumah sakit Ibu."


"Ibu menyesal sudah mengkhianati laki-laki sebaik dirinya," ujar ibu.


"Sudahlah, Bu. Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri. Yang terpenting Ibu mau mau mengakui kesalahan Ibu dsn memperbaiki diri," ujarku.


"Di mana pak Prayoga sekarang? tanya ibu.


"Beliau sedang mengajak Lyra bermain di taman."


"Siapa Lyra?"


"Lyra adalah putri semata wayangku. Usianya baru menginjak tiga bulan."


"Jadi, kamu sudah menikah? Kalian sekarang tinggal di mana?" tanya ibu penasaran.


Bersambung….


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2