
"Jadi, apa rencanamu sekarang? Kamu sudah kehilangan semuanya," tanya ibu pada kak Maureen.
"Siapa bilang aku sudah kehilangan semuanya? Aku masih punya uang dari hasil penjualan mobil."
"Bagaimana dengan gaji karyawan? Apa Kakak sudah memberikan hak mereka?"
Aku menimpali.
"Biar itu menjadi urusanku, kamu tidak usah ikut campur."
"Adikmu bertanya baik-baik, kenapa tanggapanmu ketus begitu," protes ibu.
"Aku sama sekali tidak keberatan jika Kakak ingin tinggal bersamaku. Aku berencana membuka konveksi cabang baru dalam waktu dekat ini. Bagaimana jika Kakak yang meng handle nya?"
"Kamu jangan sok-sokan merangkulku. Aku tahu kamu hanya ingin menjadikankku pesuruhmu 'bukan?"
"Kenapa Kakak selalu berpikiran buruk padaku? Aku benar-benar ingin mengajak Kakak bangkit dari keterpurukan ini."
Kak Maureen menyeringai kecut.
"Jika kamu pikir keadaan ini membuatku lemah, kamu salah besar. Aku akan membuktikan jika aku bisa bangkit dan melanjutkan hidup tanpa bantuanmu atau bantuan dari siapapun."
__ADS_1
"Sudahlah. Percuma berbicara dengan orang keras kepala sepertinya. Sebaik apapun niatmu akan terlihat buruk dia matanya," sungut ibu.
"Tapi, Bu. Kak Maureen keluarga kita."
"Mungkin kamu menganggapnya begitu. Tapi, bagaimana dengannya? Apa dia menganggapmu sebagai keluarganya? Yang ada di hatinya hanyalah perasaan iri hati dan dendam."
"Sikap Ibu yang selalu membedakanku dengan Zura lah penyebabnya. Ibu yang membuatku membenci Zura!"
"Kamu selalu saja mengungkit masa lalu. Kamu seharusnya berkaca, Zura lebih segalanya darimu. Dia berhati tulus dan bukan pendendam sepertimu. Bahkan setelah apa yang kamu lakukan padanya, dia masih mau peduli dan mengulurkan tangannya saat kamu jatuh dan terpuruk begini," ucap ibu.
"Ya. Dari dulu hanya Azzura dan selalu Azzura. Hanya dia yang ada di pikiran Ibu. Ibu lupa masih ada Darren dan Maureen yang juga butuh perhatian dan kasih sayang Ibu!"
Ibu terdiam. Ucapan kak Maureen kali ini sepertinya cukup menusuk perasaannya.
"Pergi menjauh dari kalian semua. Aku akan membuktikan jika aku lebih dari yang kalian pikirkan!"
"Fabian sekarang ada di rumah sakit jiwa, dia sangat membutuhkan dukungan moral dari Kakak, kenapa Kakak malah meninggalkannya?"
"Wanita bodoh mana yang mau bertahan dengan pria tidak waras sepertinya. Bisa-bisa aku ikut-ikutan gila!" ketus kak Maureen.
"Rupanya bertambah satu lagi sifat burukmu. Tidak tahu balas budi! Saat kamu keluar dari dalam penjara, bukankah Fabian yang mengajakmu tinggal bersamanya lagi? Tapi, apa balasanmu? Kamu justru meninggalkannya saat dia jatuh," ucap ibu.
__ADS_1
"Ini hidupku, kalian tidak berhak ikut campur apapun!"
"Kami mengingatkan Kakak karena kami sayang sama Kakak," ujarku.
"Omong kosong! Semakin lama aku berdebat dengan kalian, aku justru semakin muak!" Kali ini Kak Maureen mempercepat langkahnya.
"Kak Maureen! Tunggu!" pekikku. Aku hendak mengikutinya namun ibu menahanku.
"Sudahlah, biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Kita sudah berusaha menggandengnya, tapi dia menolak mentah-mentah maksud baik kita," ucap ibu.
Aku memandang punggung Kak Maureen yang semakin menjauh hingga akhirnya hilang dari pandanganku.
Semoga Allah selalu memudahkan segala urusanmu," gumamku.
Bersambung …
Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya terbaruku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰