Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Sebuah alasan


__ADS_3

Siang ini aku berniat menjenguk Fatimah sekaligus keponakan baruku di rumah sakit. Aku menaiki taksi yang akan membawaku ke sebuah toko perlengkapan bayi. Tentu saja aku akan memberikan kado istimewa untuk Anisa.


Dari berbagai perlengkapan bayi yang dijual di toko, pilihanku jatuh pada selimut bayi lucu dengan telinga kelinci di bagian kepalanya. Aku lantas meminta pelayan toko membungkusnya dengan kertas kado bermotif bunga sakura. Setelah membayar kado itu, aku pun meninggalkan toko dan kembali menaiki taksi yang akan mengantarku menuju rumah sakit. Awalnya perjalanan lancar hingga aku mengalami hal yang tidak terduga.


"Brak!" Aku bisa mendengar suara keras dari bagian belakang taksi. Sepertinya kendaraan lain baru saja menabrak bagian belakang taksi yang kutumpangi. Pengemudi taksi pun sontak menginjak rem secara tiba-tiba. Nyaris saja kepalaku membentur kaca jendela mobil. Lyra yang tadinya tertidur pulas itu pun terbangun. Lekas kuberikan air susuku sebelum tangisnya pecah.


Aku menoleh ke bagian belakang mobil. Tampak pengemudi taksi tengah memeriksa kendaraannya. Tiba-tiba saja pria berseragam khas perusahaan taksi itu menggedor kaca depan mobil sedan berwarna putih yang berada persis di belakang taksi. Kurasa mobil itu yang beberapa saat lalu menabrak bagian belakang taksi ini.


"Keluar kamu! Tanggung jawab!" teriaknya.


Entah ketakutan atau apa, pengemudi mobil itu tak kunjung keluar dari dalam mobilnya. 


"Aku hitung sampai tiga. Kamu tidak keluar juga, aku akan menghubungi polisi!" ancam pengemudi taksi. Berani juga pria ini.


"Satu! Dua!" 


Sebelum hitungan ke tiga pintu mobil terbuka. Tampak seorang pria paruh baya keluar dari dalam mobil tersebut. Usianya tidak terpaut jauh dari mas Fabian. Ah! Kenapa tiba-tiba aku teringat padanya? Pria itu sudah membuatku kecewa dan sakit hati.


Kembali kulemparkan pandanganku di bagian luar taksi. Tepatnya ke arah mobil sedan berwarna putih itu.


"Apa yang ada di kepalamu saat menyetir hingga kamu menabrak kendaraan lain?"


"Maaf. Aku tidak memperhatikan jalan."


Pengemudi taksi itu mengintip sebentar ke bagian dalam mobil.


"Apa kamu mengendarai mobilmu sambil berbuat me*um?"


"Bapak jangan bicara sembarangan. Saya kan sudah minta maaf."


"Kamu pikir kata maaf bisa menyelesaikan masalah? Kamu harus mengganti rugi kerusakan taksiku. Lihat! Mobilku penyok!' Pengemudi taksi mengarahkan jari telunjuknya ke bagian belakang mobilnya.


"Aduh! Bagaimana ini?" gumam pengemudi mobil.


"Cepat bayar ganti rugi atau aku akan menghubungi polisi!" Lagi-lagi pengemudi taksi mengancam pria itu.


Pengemudi mobil mengambil dompetnya. Ia lantas mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribu dan menyodorkannya pada pengemudi taksi.


"Apa-apaan ini! Kamu mengejekku!"


"Ti-ti-tidak, Pak. Saya hanya punya uang segini. Jika Bapak tidak percaya, Bapak boleh memeriksa dompet saya." Pria berkemeja itu menyodorkan dompet miliknya ke arah pengemudi taksi. Namun pengemudi taksi itu justru melempar dompet berwarna cokelat itu ke atas jalan beraspal.


"Berikan ponselmu!" seru pengemudi taksi.


"Jangan, Pak. Jika Bapak mengambil ponselku, bagaimana cara saya berkomunikasi?"

__ADS_1


"Bukan urusanku! Kamu harus bertanggung jawab atas kecerobohanmu!"


"Begini saja. Bapak bisa menahan KTP saya dan saya minta nomor ponsel Bapak. Bapak percaya sama saya. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab. Jika saya sudah memiliki uang, saya akan menghubungi Bapak dan membayar biaya kerugian mobil ini."


"Tiga hari lagi kita bertemu di tempat ini."


Pengemudi taksi mengambil ponselnya lalu mengambil foto plat nomor mobil itu.


"Ingat! Jika tiga hari lagi kamu tidak datang, aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum!"


"Ba-ba-baik, Pak."


Pria itu pun lalu masuk kembali ke dalam mobilnya. Tidak berselang lama pengemudi taksi pun kembali di bangku kemudi.


"Nyupir sambil pacaran!" umpatnya.


"Maaf menunggu lama," ucapnya sembari menghidupkan kembali mesin kendaraannya.


"Mobilnya rusak parah ya, Pak?" tanyaku.


"Lumayan, Mbak. Pengemudinya nyetir sambil pacaran. Jadi kurang fokus."


Mobil yang tadi menabrak bagian belakang taksi ini menyalip taksi yang kutumpangi. Aku sempat melihat ke arah bangku kemudi. Jantungku seolah berhenti berdetak saat sekilas melihat wajah perempuan di dalam sana. Ibu! Ya, perempuan yang duduk di dekat bangku kemudi itu adalah ibuku.


"Kenapa, Mbak?"


"Sepertinya saya mengenal perempuan yang berada di dalam mobil itu."


Baru saja hendak menambah kecepatan mobilnya, tiba-tiba lampu lalu lintas berwarna merah. Sementara mobil sedan berwarna putih itu sudah terlanjur melaju dengan kecepatan tinggi menembus jalanan yang lengang.


"Maaf, Mbak. Mobil itu sudah terlalu jauh, pasti tidak akan terkejar," ucap pengemudi taksi.


"Ya sudah, Pak. Kita ke rumah sakit saja," ucapku. 


Setelah lampu lalu lintas berwarna hijau, taksi pun kembali melaju.


"Alhamdulillah, ibu masih hidup dan beliau baik-baik saja," gumamku.


Sekitar sepuluh menit kemudian aku dan putriku tiba di rumah sakit. Tak sabar rasanya ingin cepat-cepat melihat wajah keponakanku. Setelah bertanya pada perawat, aku pun bergegas menuju kamar pasca persalinan.


"Assalamu'alaikum," ucapku sesaat setelah membuka pintu ruangan itu.


"Waalaikumsalam. Zura?"


Aku bisa menangkap binar di sorot mata Fatimah saat mengetahui kedatanganku. Kawan lamaku itu terlihat tengah menyusui putrinya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Anisa," sapaku pada bayi mungil yang berada di dekapannya.


"Waalaikumsalam, Bibi Zura," jawab Fatimah.


"Masyaallah, wajahnya mirip sekali dengan kak Darren," ucapku.


"Sayangnya mas Darren tidak menyukai Anisa."


"Jangan bicara begitu. Aku yakin kak Darren hanya perlu waktu. Kita berdo'a saja semoga Allah lekas membuka pintu hatinya," ujarku.


"Ini kado untuk Anisa," ucapku sembari meletakkan bungkusan kado di atas meja."


"Kamu tidak perlu repot-repot begini, Ra. Aku tahu keadaan kamu sekarang sedang sulit."


"Tidak apa. Ini hanya kado kecil untuk keponakanku." Aku mengusap lembut pipi kemerahan Anisa. Dia terlihat begitu kuat menyesap daging kenyal itu yang kini menjadi satu-satunya sumber kehidupannya.


"Lyra sudah bisa apa, Ra?" tanya Fatimah.


"Miring-miring mau tengkurap."


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Rupanya kak Darren yang memasuki ruangan. Dari raut wajahnya aku tahu dia tidak menyukai kehadiranku.


"Ngapain kamu di sini?" tanyanya sinis.


"Aku datang ke sini untuk menjenguk Anisa."


"Kamu tidak usah sok peduli!" seru kak Darren yang sontak membuat dada ini terasa begitu sesak.


"Apa yang membuat Kakak begitu benci padaku? Jika aku memang punya salah, aku minta maaf," ucapku.


"Kamu ingin tahu kesalahanmu?"


Aku menyiapkan hati mendengar kalimat yang hendak diucapkan kakak kandungku itu.


"Sejak kamu lahir, aku diperlakukan seperti anak tiri. Ayah dan ibu selalu menuruti apapun keinginanmu. Bahkan di saat musibah kebakaran itu terjadi, ayah hanya memikirkan keselamatanmu saja. Kamu bahkan tidak tahu Maureen mengalami luka bakar yang parah di bagian wajahnya," ungkap kak Darren.


"Jadi, alasan itu yang membuat Kakak benci padaku? Mengapa Kakak menyalahkan takdir? Aku tak bisa memilih di keluarga mana aku dilahirkan."


Kubiarkan saja buliran hangat itu menetes dan membasahi pipiku. Kata-kata itu sungguh membuat hatiku perih.


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2