Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Haruskah aku peduli?


__ADS_3

Taksi yang kutumpangi dari toko perlengkapan alat jahit baru saja berhenti di depan pintu gerbang tempat kost. Setelah membayar ongkos, akupun bergegas keluar dari dalam taksi tersebut. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara teriakan seorang perempuan yang berada tidak jauh dari pintu gerbang.


"Maling! Maling!"


Aku mengenal suara itu. Ya, suara teriaknya yang cukup lantang itu adalah suara ibuku. Ada apa ini? Apakah ada pencuri yang memasuki tempat tinggal kami? Bagaimana jika pencuri itu melukai ibu dan… Lyra! Rasa khawatir pun seketika menyerangku.


"Maling! Maling!" teriak ibu sembari mengarahkan jari telunjuknya pada sebuah mobil berwarna hitam yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tunggu! Bukankah itu mobil Fabian? Mengapa ibu meneriakinya pencuri?


"Apa yang terjadi, Bu? Kenapa Ibu meneriaki Fabian pencuri?" tanyaku penuh selidik.


"Zura? Ayo kita masuk!" seru ibu sembari menggandeng tanganku. Namun, aku tak bergeming. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini.


"Tunggu, Bu. Kenapa Ibu meneriaki Fabian pencuri?" Aku mengulangi pertanyaanku.


"Laki-laki itu benar-benar tidak tahu diri! Tidak tahu malu!"


"Zura, kita perlu bicara. Ada hal penting yang harus kusampaikan," ucap Fabian yang kini sudah berdiri persis di hadapanku.


"Sudahlah. Jangan digubris. Kamu masuk saja." Kali ini mendorong paksa agar aku lekas masuk ke dalam tempat kost namun Fabian menahanku.


"Zura! Tunggu! Kita perlu bicara!" serunya.


"Pergi sana. Jangan pernah menginjakkan kaki di tempat ini lagi!"


"Sebenarnya ada masalah apa, Bu?" tanyaku lagi.


"Masuk!"


"Zura, dengar. Ibu merindukanmu dan Lyra. Beliau ingin bertemu dengan kalian," ucap Fabian.


Entah mengapa tiba-tiba sorot mataku berkaca-kaca. Jujur, aku pun begitu merindukannya.


"Sudah beberapa hari belakangan beliau kerap menangis saat malam hari sambil menyebut nama kalian. Aku mohon, datang lah ke rumahku. Hanya cara ini yang bisa membuat keadaan beliau lebih baik," ungkap Fabian.


"Jangan dengarkan dia, Nak. Laki-laki itu hanya ingin memanfaatkanmu. Bisa saja dia disuruh istri mudanya untuk menjemputmu. Ibu yakin dia tidak mau merawat ibu mertuanya yang sakit-sakitan itu," ujar ibu.


"Tidak, Bu. Aku mencari keberadaan Zura karena ibu yang memintanya. Beliau sangat ingin bertemu dengannya, dengan Lyra juga," bantah Fabian.


"Aku tidak akan mengizinkan Zura datang ke rumahmu!"


"Tapi, Bu. Ibu saya ingin sekali bertemu dengannya."


"Zura. Cepat masuk!" 


"Aku tahu kamu masih peduli pada ibu. Kamu akan datang menemuinya 'bukan?"


tanya Fabian penuh harap.


Meskipun begitu berat, aku memaksa kalimat ini meluncur dari bibirku.


"Maaf, kita sudah tidak ada urusan apapun. Ibumu bukan lagi ibu mertuaku," ucapku.


"Kamu jangan bohong, Zura. Aku tahu kamu khawatir pada ibu."

__ADS_1


"Ya, tapi itu dulu. Sekarang pulang lah. Mungkin ibumu hanya belum terbiasa tanpaku."


"Jika kamu tidak mau menemui ibu, tak apa. Tapi aku akan membawa Lyra untuk bertemu dengannya."


"Tidak! Kamu tidak akan membawa Zura ataupun Lyra!" seru ibu.


"Bagaimana pun Lyra adalah putriku. Aku juga masih suami sah Zura. Aku memiliki hak atas Lyra," ujar Fabian.


"Kamu seharusnya berkaca. Setelah apa yang kamu lakukan pada Zura, apa masih pantas kamu menyebut diri kamu sebagai ayahnya Lyra."


"Sampai kapan pun tidak ada istilah mantan anak. Lyra tetap putriku."


"Sebaiknya kamu pulang sekarang. Jangan membuat keributan di tempat ini," ucapku.


"Di mana hatimu? Apa kamu sudah benar-benar tidak peduli pada ibu?" tanya Fabian.


Suasana hening sejenak.


"Baiklah, jika kamu tidak mau lagi menemui ibu. Kamu akan menyesal!" 


Fabian berlalu dari hadapanku kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya. Aku berjingkat saat pintu mobil itu sengaja dibanting dengan begitu keras. Tidak berselang lama mobil itu pun meninggalkan tempat kost ku.


"Sudahlah, Nak. Jangan menoleh ke belakang lagi. Tatap masa depanmu. Buktikan jika kamu bisa bahagia setelah lepas darinya," ucap ibu.


Kutanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.


"Oh ya, Nak. Tadi ada dua orang ibu datang kemari. Mereka ingin kamu menjahit baju untuk mereka."


"Siapa, Bu?"


"Sepertinya keberadaan spanduk yang dibuatkan Rahma cukup membantu promosi usahaku," ucapku.


"Semoga tempat usaha ini semakin ramai."


"Aamiin."


Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba seseorang membuka pintu gerbang. Rupanya Rahma dan kakak kandungnya, Mbak Salma. 


"Syukurlah, akhirnya Mbak Salma diperbolehkan pulang," ucapku.


Tak ada tanggapan apapun dari mbak Salma. Dia hanya memandangku dengan tatapan kosong. Aku paham bagaimana perasaannya kini. Ibu manapun akan terpukul hebat saat kehilangan buah hatinya.


"Saya masuk dulu, Mbak, Bu," ucap Rahma sembari merangkul pundak sang kakak. Keduanya pun lantas masuk ke dalam kamar Rahma yang berada persis di samping kamarku.


"Bagaimana keadaan mbak Salma?" tanyaku saat Rahma menghampiriku.


"Sejak kemarin Mbak Salma diam. Aku ajak bicara pun dia tidak mau menanggapi," jawab Rahma.


"Apa kata dokter?"


"Dokter mengatakan mbak Salma terpukul setelah bayinya meninggal. Beliau memintaku untuk mengawasi mbak Salma selama beberapa hari ke depan. Jika keadaannya membaik, mbak Salma tidak harus dirawat di rumah sakit lain," jelas Rahma.


"Rumah sakit lain?" tanyaku.

__ADS_1


"Ya, Mbak. Maksudnya dokter rumah sakit jiwa."


"Aku bantu doa agar keadaan mbak Rahma lekas membaik."


"Terima kasih, Mbak."


Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari kamar Rahma. 


"Anakku masih hidup! Anakku masih hidup!"


Aku dan Rahma bergegas mendatangi kamar itu. Miris, kulihat mbak Rahma tengah memeluk bantal guling sambil menciuminya berulang.


"Astaghfirullah, Mbak. Istighfar. Itu bukan bayi Mbak, itu hanya bantal guling."


Suara Rahma terdengar bergetar. Sebagai saudara terdekatnya, hatinya pasti turut perih melihat apa yang kini terjadi pada mbak Salma.


"Ridho, itu tante kamu, namanya Rahma," 


ucap mbak Salma sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah Rahma.


Ridho. Nama yang indah untuk anak laki-laki. Mbak Salma pasti sudah mempersiapkan nama ini untuk bayinya meskipun Allah menakdirkan lain.


Aku membiarkan Rahma terisak di pundakku. Rupanya kehilangan itu benar-benar membuat jiwa mbak Salma terguncang. Tidak hanya berpikir jika bayinya masih hidup, kini dia menganggap jika bantal guling itu adalah bayinya.


"Bagaimana ini, Mbak? Aku takut," lirih Rahma.


"Mbak Salma tidak siap kehilangan bayinya. Itulah sebabnya jiwanya terguncang," ujarku.


"Mas Roni! Anak kita laki-laki, Mas!"


teriak mbak Salma sembari berlari keluar kamar. Dia terlihat tengah mencari keberadaan seseorang hingga akhirnya memasuki kamarku.


"Mas Roni! Ini anakmu. Apa kamu tidak ingin menggendongnya?"


Ibu yang tengah berada di dapur tentu saja kaget bukan main saat mendapati mbak Salma sudah berdiri di tengah pintu.


"Maaf, Di rumah ini tidak ada yang namanya Roni," ucapnya.


"Mana mas Roni! Dia pasti ada di sini," ucap mbak Salma.


"Mas Roni dan Ridho sudah berada di surga," ucap Rahma.


"Maaf, apa suami Salma sudah meninggal?" tanya ibu padaku.


"Ya, Bu. Suami mbak Salma namanya Roni. Ia meninggal dunia akibat kecelakaan," jawabku.


"Roni?"


"Benar. Memangnya kenapa, Bu?" tanyaku penasaran.


Bersambung….


Hai, pembaca setia….

__ADS_1


Ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2