
Hari bahagia itu pun akhirnya tiba. Ya, hari ini adalah hari pernikahanku dengan Gibran. Kupandang pantulan wajahku di cermin. Tak apalah hari ini saja aku menggunakan riasan yang cukup tebal. Baju pengantin rancangan Gibran pun sudah melekat di tubuhku, juga hijab berwarna senada. Aku hanya tinggal menunggu calon imamku datang untuk mengucapkan ijab qobul yang yang hanya tinggal menunggu hitungan menit saja.
"Akad nikahnya jam berapa, Nak?" tanya Ibu sesaat setelah aku keluar dari dalam kamarku.
"Jam 08.00 pagi Bu," jawabku.
Tidak lama terdengar suara sepeda motor dari arah halaman rumahku. Ah, itu dia bapak penghulunya sudah datang.
"Bapak penghulunya sudah datang, Ra," ucap sahabatku sekaligus kakak iparku Fatimah. Ia beserta Anisa dan kak Darren menginap di rumahku sejak kemarin malam.
"Alhamdulillah."
"Ibu cantik sekali," puji Lyra yang pakai itu juga telah terlihat begitu manis dengan gaun karena kesukaannya, hijau tosca. Rambutnya disanggul kecil dengan hiasan mahkota di bagian sisi kirinya.
"Terima kasih, Sayang, Lyra juga cantik sekali seperti puteri." Aku balas memujinya.
"Assalamualaikum, Bu Azzura," sapa bapak penghulu.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Apa calon pengantin laki-lakinya belum datang, Bu?" tanyanya.
"Belum, Pak. Insya Allah sebentar lagi," jawabku.
"Kamu sudah menghubungi Gibran?" tanya ibu.
"Belum, Bu. Aku belum sempat memegang handphone."
"Ya sudah, biar ibu yang hubungi dia."
Aku pun lantas mempersilahkan bapak penghulu menuju tempat yang sudah dipersiapkan sebagai tempat pelaksanaan akad nikah.
"Nomor handphonenya Gibran kok tidak bisa dihubungi ya?" ucap ibu.
__ADS_1
"Mungkin dia sedang sibuk, Bu. Atau sedang dalam perjalanan ke sini," ucapku.
Waktu terus berjalan, jam hampir menunjukkan pukul 08.00 pagi. Entah sudah berapa kali bapak penghulu bertanya padaku kenapa calon pengantin laki-lakinya tidak kunjung datang.
"Maaf, Bu, saya juga harus menikahkan pasangan di tempat lain."
"Saya mohon beri waktu 10 menit lagi, Pak," ucap ibu.
Jangan ditanya bagaimana perasaanku saat ini. Takut, khawatir, cemas semuanya campur aduk menjadi satu.
"Apa terjadi sesuatu pada mereka di jalan?" batinku.
"Ibu punya nomor handphone saudaranya mas Gibran 'kan?" tanya Fina.
Ku anggukkan kepalaku sebagai jawaban.
Aku pun mengambil ponselku dan bergegas menghubungi nomor adik laki-laki dari calon suamiku itu. Nada sambung memang terdengar, namun dia mengabaikan panggilanku.
Aku bernafas lega saat sebuah mobil berwarna hitam memasuki pekarangan rumahku. Ya, mobil itulah yang sedari tadi kutunggu-tunggu.
"Alhamdulillah," ucap kami bersamaan.
Tapi, tunggu dulu. Kenapa yang keluar dari mobil itu Keenan?
Aku mengucek mataku untuk memastikan penglihatanku tidak sedang bermasalah.
Memang benar laki-laki yang baru keluar dari mobil itu bukan Gibran calon suamiku melainkan adik laki-lakinya, Keenan.
"Mungkin Gibran berada di mobil terpisah dengannya," hiburku.
Satu lagi yang membuatku heran. Kenapa Keenan memakai pakaian serba hitam?
Raut wajahnya pun terlihat lesu dan tidak bersemangat. Apa dia sedang kurang sehat?
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," sapanya.
"Waalaikumsalam," jawab kami serempak.
"Mari kita langsung mulai saja akad nikahnya," ucap bapak penghulu.
Dia pasti mengira jika Keenan calon pengantinnya.
"Maaf, Pak, bukan laki-laki ini calon pengantinnya," jelasku.
"Oh maaf saya kira beliau calon pengantinnya."
"Mas Keenan … mana mas Gibran?" tanya Fina yang berdiri persis di sebelahku.
Keenan menghela nafas berat.
"Gibran tidak bisa datang di pernikahan ini," jawabnya.
"Maksud kamu apa, Ken?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Atas nama Gibran, aku minta maaf," ucap Keenan dengan wajah tertunduk.
"Sebenarnya ada apa, Ken? Mana Gibran? Mana calon suamiku?" desakku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1