
Sekolah Lyra yang sekarang cukup jauh dari rumahku. Perlu waktu kurang lebih 15 menit untuk menempuhnya dengan mobil.
"Assalamu'alaikum," sapaku saat memasuki ruang guru.
"Wa'alaikumsalam," sahut salah satu guru yang pagi itu datang lebih awal dari guru lainnya.
Kebetulan sekali. Di meja guru berkacamata itu kulihat sebuah papan bertuliskan "FAHIRA, Spd", WALI KELAS 1.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?"
"Apa Ibu wali kelas 1?"
"Betul, Bu. Silahkan duduk."
"Nama saya Azzura, saya adalah orangtua dari siswa kelas satu bernama Alyra Azzalea," jelasku.
"Oh, ibunya Lyra. Ada apa, Bu?"
"Hari ini Lyra tidak bisa masuk ke sekolah. Saat bangun tidur tadi dia mengeluh kepalanya pusing."
"Sebelumnya saya selaku pihak sekolah meminta maaf karena kejadian pelemparan batu itu terjadi di lingkungan sekolah. Saya sudah melayangkan surat panggilan untuk wali nya Haikal," papar bu Fahira.
"Maaf, kalau boleh saya tahu siswa bernama Haikal itu berasal dari TK mana?" tanyaku.
"Sebenarnya Haikal adalah murid pindahan dari SD 03. Seharusnya tahun ini dia sudah duduk di kelas 2, namun dia tinggal kelas. Jadi dipindahkan ke sekolah ini."
"Oh, begitu. Maaf, apa saya boleh tahu apa yang menyebabkan Haikal tinggal kelas? Apa kemampuannya kurang?"
"Sebenarnya Haikal ini murid yang cerdas. Hanya saja dia begitu susah diatur. Dia melakukan apapun semaunya sendiri. Kebetulan saya mengenal guru yang mengajar di SD 03, beliau mengatakan Haikal ini tidak pernah masuk saat sekolah mengadakan tes semester. Mungkin itulah yang menyebabkan dia tinggal kelas," ungkap guru berhijab itu.
Tidak berselang lama terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum."
Aku pun menoleh ke arah suara itu. Tampak seorang wanita paruh baya berpakaian daster menggandeng seorang siswa laki-laki. Kurasa dia lah anak yang bernama Haikal itu.
"Wa'alaikumsalam. Haikal, di mana ayahmu?" tanya bu Fahira.
"Maaf, Bu. Pak Herdian tidak bisa memenuhi panggilan Ibu karena beliau sibuk. Pagi tadi beliau sudah berangkat ke luar kota untuk urusan pekerjaan," jelas wanita yang mengenakan pakaian daster itu. Aku paham sekarang, wanita ini bukanlah ibunya, melainkan pengasuhnya.
"Sayang sekali. Padahal banyak hal penting yang harus saya sampaikan pada beliau terkait putera nya, Haikal."
"Ibu bisa menyampaikannya pada saya, nanti akan saya sampaikan pada pak Herdi."
Di saat bu Fahira tengah berbicara pada wanita itu, tiba-tiba saja aku merasa dia melakukan sesuatu pada bagian belakang hijabku. Benar saja, saat aku menoleh ke arahnya, aku mendapati dia tengah memegang pensil warna berwarna merah. Pasti dia menggunakan pewarna itu untuk mencoret-coret hijabku.
"Astaghfirullahaladzim. Kenapa kamu mencoret-coret hijab bu Azzura? Cepat minta maaf," titah bu Fahira.
Bukannya menurut, bocah laki-laki justru menjulurkan lidahnya pada sang ibu guru.
Dia lantas pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu.
Aku heran. Pengasuh Haikal hanya diam dan tak melakukan apapun.
"Maaf, apa Ibu ini pengasuh Haikal?" tanyaku.
"Benar, Bu."
"Kalau boleh saya tahu di mana ibunya? Apa dia begitu sibuk hingga tidak bisa menyempatkan waktunya untuk datang ke sekolah ini?" tanyaku lagi.
"Ehm … pak Herdian dan ibu Kania sudah berpisah sejak Haikal masih berusia dua tahun dan hak asuh Haikal jatuh ke tangan pak Herdi."
__ADS_1
"Maaf, saya tidak tahu."
"Sejak saat itu Haikal sering tantrum. Dia tidak pernah mau mendengar nasehat siapapun termasuk saya pengasuhnya.
Ditambah lagi kesibukan pak Herdi membuat Haikal semakin jauh dengan ayah kandungnya sendiri."
"Saya rasa Haikal hanya mencari perhatian. Ibu coba lah bicara pada ayahnya agar sesekali menghabiskan waktunya bersama Haikal," ucap bu Fahira.
"Maaf, Bu. Saya tidak berani."
"Maaf, jika saya boleh tahu apa pekerjaan pak Herdi?" tanyaku.
"Pak Herdi adalah pemilik beberapa butik di kota ini."
"Apa saya boleh tahu salah satu nama butiknya?"
"Butik JF, letaknya tidak jauh dari kampus.
Tunggu, bukankah butik itu adalah salah satu langganan konveksiku?
"Jika Ibu tidak berani berbicara pada pak Herdi, biar saya yang mencobanya. Saya juga tidak ingin Lyra terus-terusan menjadi sasaran kenakalannya."
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba terdengar kegaduhan dari depan sebuah ruang kelas. Aku dan bu Fahira pun bergegas beranjak dari tempat duduk kami kemudian menuju tempat tersebut. Rupanya kegaduhan itu berasal dari depan ruang kelas tiga. Di sana kulihat seorang murid perempuan tengah menangis.
"Ada apa ini?" tanya bu Fahira.
"Haikal, Bu guru," adu beberapa siswa.
"Astaghfirullahaldzim. Apa lagi yang dilakukan anak itu?"
"Haikal menarik rambut Naira lalu memotongnya dengan gunting, Bu guru," jelas salah seorang murid.
"Bersembunyi di dalam kelasnya, Bu guru."
"Anak itu benar-benar menguji kesabaran saya!" Bu Fahira mendengus kesal.
"Jika Ibu mengizinkan, biar saya yang mencari Haikal di dalam kelasnya," ucapku. Bu Fahira mengangguk setuju.
Aku berlalu dari hadapan bu Fahira lalu menuju ruang kelas satu tempat Haikal bersembunyi setelah berbuat kenakalan pada salah seorang kawannya.
Aku mengedarkan pandanganku di ruang kelas itu hingga akhirnya aku menemukan Haikal yang tengah bersembunyi di bawah meja guru.
"Kenapa kamu bersembunyi di bawah meja? Kamu sedang main petak umpet ya?" tanyaku.
"Aku sedang bersembunyi biar tidak ketahuan bu guru."
Aku mengulas senyum.
"Percuma saja kamu sembunyi, Bu guru sudah tahu kalau kamu yang memotong rambut Naira."
Perlahan kutarik tangan Haikal agar ia mau keluar dari tempat persembunyiannya.
"Aku hanya bercanda, Bu," ucap Haikal dengan wajah tertunduk.
"Bercanda boleh saja, tapi jangan sampai keterlaluan. Naira menangis bukan karena kesakitan, tapi dia kecewa jika rambutnya dipotong dengan cara kasar begitu. Dia pasti butuh waktu bertahun-tahun untuk memanjangkan rambutnya. Kamu juga yang kemarin melempar kepala Lyra dengan batu 'kan?"
"Aku tidak suka ditegur."
"Perbuatanmu merebut bekal kawan sekelasmu itu tidak baik. Lyra puteri ibu menegurmu karena dia tidak ingin kamu menyakiti kawannya. Kalau hal itu terjadi padamu, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama. Lyra tidak pernah memilih kawan, dia menyayangi semua kawannya."
"Aku iri pada kawan-kawanku yang membawa bekal menarik, tidak seperti bekalku, nasi goreng terus."
__ADS_1
Sekali lagi aku mengulas senyum.
"Oh, jadi itu sebabnya. Ehm … ibu punya penawaran untukmu."
"Penawaran?"
"Ya. Kamu tahu 'kan isi kotak bekal Lyra?"
"Ya. Isi kotak bekalnya bagus-bagus dan ganti terus setiap harinya."
"Ibu bisa kok membuatkan bekal seperti Lyra untukmu setiap hari asalkan, …"
"Asalkan apa?"
"Kamu jangan pernah berbuat nakal lagi pada siapapun di sekolah ini."
"Aku hanya ingin bermain. Di rumah aku tidak punya kawan bermain. Ibu tidak tinggal di rumah lagi, ayah sibuk bekerja, bi Tini sibuk membersihkan rumah. Aku bosan! Tidak ada yang menemaniku belajar!"
Kutatap lembut mata Haikal, lalu kuusap rambutnya.
"Kalau kamu bosan di rumah sendirian, kamu boleh kok main di rumah Lyra. Kalau kalian belajar bersama pasti lebih seru dan menyenangkan."
"Aku sudah nakal sama Lyra, apa Ibu tidak marah padaku?" tanya Haikal.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Ibu akan marah sama kamu kalau kamu tidak mau minta maaf sama Lyra dan Naira, dan mengulanginya lagi."
"Ya sudah, nanti sepulang sekolah aku ke rumah Ibu untuk minta maaf sama Lyra. Tapi Ibu janji, buatin bekal aku seperti punya Lyra."
"Iya, Ibu janji. Sekarang kamu temui Naira lalu minta maaf padanya," titahku.
Haikal menganggukkan kepalanya.
"Aku minta maaf sudah nakal sama kamu," ucap Haikal seraya mengulurkan tangan kanannya.
Tangis Naira mulai mereda. Meski awalnya ragu, ia pun akhirnya menjabat tangan adik kelasnya itu.
Bel tanda masuk berbunyi.
"Haikal masuk kelas dulu ya. Rumah ibu di konveksi LYRA, bibi Tini pasti tahu. Pintu rumah ibu terbuka untuk siapapun," ucapku. Haikal mengangguk paham.
"Ibunya Lyra!"
Aku baru saja membalikkan badanku ketika tiba-tiba Haikal memanggilku.
"Ya, ada apa?"
"Terima kasih."
Aku tersenyum haru hingga detik kemudian sepasang netra ini menghangat.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1