
(Masih di sambungan telepon)
[Maaf, apa benar ini nomor bapak Prayoga? Jika bukan, kamu siapa? Jangan menuduh orang sembarangan. Saya bahkan baru sekali bertemu beliau]
[Ya, benar. Ini nomor bapak Prayoga]
[Lantas, di mana beliau? Ada hal penting yang harus selalu segera saya sampaikan]
(Terdengar suara gaduh dari seberang sana)
[Assalamu'alaikum, Nak Zura]
[Waalaikumsalam, Pak. Alhamdulillah kalau ini benar nomor Bapak]
[Maaf, tadi putri saya yang mengangkat telepon nya. Saya sedang di belakang]
[Oh, begitu. Saya pikir saya salah memasukkan nomor]
[Saya minta maaf kalau ucapan putri saya mungkin sedikit kasar]
[Tidak apa, Pak]
[Oh ya. Ada apa Nak Zura menghubungi saya malam-malam begini?]
[Barusan saya mendapat telepon dari rumah sakit. Perawat mengatakan jika ibu sekarang berada di ruang ICU]
[Astaghfirullah. Memangnya Sabrina kenapa? Kemarin waktu kita kesana dia baik-baik saja 'kan?]
[Perawat mengatakan dari sehabis Maghrib ibu saya terus berteriak histeris memanggil nama Roni. Saat Perawat berusaha menenangkan ibu saya, beliau justru mengamuk sehingga terjatuh dari ranjang pasien dan tak sadarkan diri. Ibu saya kini koma, Pak]
[Astaghfirullahaladzim]
[Perawat meminta saya untuk segera datang ke rumah sakit. Tapi ini sudah malam. Apalagi di luar masih hujan deras. Saya tidak bisa mengajak serta Lyra ke rumah sakit. Saya minta tolong pada Bapak untuk datang ke rumah sakit sekarang]
[Ya, saya mengerti. Sekarang juga saya akan berangkat ke rumah sakit]
[Terima kasih, Pak. Maaf, malam-malam begini merepotkan. Selain Bapak, saya tidak tahu pada siapa lagi yang harus saya mintai tolong]
[Tidak apa-apa, Nak. Tidak usah merasa sungkan begitu. Dari awal 'kan saya sudah mengatakan saya yang akan bertanggung jawab pada Sabrina]
[Terima kasih, Pak. Semoga Allah membalas semua kebaikan Bapak]
[Aamin]
[Ya sudah, saya berangkat ke rumah sakit dulu. Assalamu'alaikum]
__ADS_1
[Waalaikumsalam]
Aku mengakhiri percakapan.
"Ya Rabb, lindungil lah selalu ibu Hamba. Selamatkan beliau, dan angkat semua penyakitnya," do'ku dalam hati.
Sejak percakapanku dengan pak Prayoga di telepon, perasaan ini sama sekali tidak tenang. Apakah ibu akan baik-baik saja, atau, …"
Sabrina, begitulah nama ibu kandungku. Di mataku beliau adalah seorang ibu yang begitu menyayangiku. Apapun yang kuinginkan selalu dikabulkannya, salah satunya saat aku menginginkan pesta ulang tahunku yang ke tujuh belas. Pesta ulang tahun yang sekaligus menjadi pesta ulang tahun terakhir yang dirayakan di rumah kami sebelum musnah karena musibah kebakaran hanya selang beberapa hari setelah pesta berlangsung.
*Flashback on*
"Azzura minta pesta ulang tahun mewah begini, diturutin sama ayah dan ibu. Tapi, kalau aku yang minta, ayah dan ibu menolak dengan berbagai alasan."
Kalimat itu tak sengaja kudengar itu baru saja terlontar dari mulut kakak perempuanku, Maureen yang saat itu berusia dua puluh tahun.
"Jelas saja. Dia kan anak kesayangan ayah dan ibu. Apa yang dia minta pasti dituruti. Aku jadi ragu, sebenarnya kita ini anak kandung ayah dan ibu atau bukan. Kenapa perlakuan mereka pada kita jauh berbeda dengan Azzurra," ucap kakak sulungku, Darren. Usianya tiga tahun lebih tua dari kak Maureen. Keduanya adalah mahasiswa di universitas yang sama.
"Kenapa sih anak itu harus terlahir di keluarga ini? Sebelum dia ada, ayah dan ibu sayang pada kita. Tapi sejak dia lahir, perhatian ayah dan ibu hanya untuknya saja," ucap kak Maureen.
"Aki jadi punya rencana untuk menyingkirkan dia dari rumah ini," ucap kak Darren.
"Tapi, gimana caranya?"
Kak Darren membisikkan sesuatu di telinga kak Maureen. Entah apa yang tengah mereka bicarakan, yang jelas mereka merencanakan sesuatu yang tidak baik padaku.
"Kamu tenang saja. Aku akan mengatur semuanya."
Aku masih belum beranjak dari balik dinding ruang tamu, tempat aku menguping pembicaraan kedua saudaraku itu. Aku memilih diam dan tak mengadukannya pada ayah ataupun ibu. Yang terpenting mulai sekarang aku harus hati-hati.
Masih begitu jelas di ingatanku satu malam setelah pesta ulang tahunku. Malam itu aku tengah bersiap tidur, ketika tiba-tiba lampu padam. Aku pun bergegas mencari lilin dan menyulutnya dengan korek api. Semuanya baik-baik saja, hingga setengah jam kemudian aku melihat sekelebat bayangan melintas di samping kamarku.
"Siapa?" tanyaku.
Tak ada jawaban.
"Kak Darren…Kak Maureen… apa itu kalian?" tanyaku lagi.
Aku yang penasaran pun lantas membuka kaca jendela itu. Raut wajahku seketika berubah ketakutan saat melihat laki-laki bertopeng berdiri persis di depan jendela kamarku. Aku berusaha secepat mungkin menutup jendela kamarku yang lebarnya seukuran pintu itu. Namun aku kalah cepat. Tiba-tiba laki-laki itu membekap mulutku dan memaksa menarikku keluar dari kamar. Tentu saja aku melawannya. Sekuat mungkin aku berpegangan pada korden jendela kamar. Sial, korden itu justru menyambar lilin yang kuletakkan di atas meja. Kulihat laki-laki bertopeng itu pun ikut panik saat melihat api yang kini mulai membesar. Dia pun akhirnya memilih kabur begitu saja dari kamarku.
Api dengan cepat menyebar dan kini telah merembet hingga membakar jendela kamar serta tempat tidurku.
"Tolong! Api! Api!" teriakku.
__ADS_1
Sepertinya semua anggota keluargaku sudah tertidur lelap hingga tak ada satupun dari mereka yang mendengar teriakanku.
Aku bergegas keluar dari dalam kamarku. Segera kuhampiri kamar kak Darren dan kak Maureen.
"Bangun, Kak! Kebakaran!" teriakku sembari menggedor pintu kamar mereka yang kebetulan bersebelahan. Rupanya api begitu cepat menyebar. Kulihat dari tempatku berdiri, kedua kamar saudaraku itu kini berwarna merah menyala yang artinya api telah merembet hingga ke dalam sana.
Dari kamar kedua kakakku, aku berlari ke kamar ayah dan ibu yang berada di dekat ruang makan.
"Ayah! Ibu! Api!" teriakku.
Tidak berselang lama pintu terbuka. Syukurlah ayah dan ibu lekas terbangun.
"Astaga! Api! Bagaimana bisa ada api di rumah kita, Nak?" tanya ayah dengan raut wajah panik.
Sementara itu api sudah mengepung kami dari arah depan dan belakang.
"Kita harus segera keluar dari rumah ini!" seru ayah.
"Tapi, Yah, kak Dareen dan kak Maureen masih di dalam kamar. Mereka belum bangun," ucapku.
"Sudahlah. Kita pikirkan saja keselamatan kita sendiri," ucap ibu.
"Kak Darren! Kak Maureen! Bangun! Kebakaran!" teriakku.
Kali ini kak Darren mendengar teriakanku. Dia bisa keluar dari dalam kamarnya dengan selamat. Tapi tidak dengan kak Maureen. Aku justru mendengar suara jeritan dari dalam kamarnya.
"Maureen! Cepat keluar!"
Kak Darren berusaha mendorong pintu kamar Maureen. Namun yang terjadi selanjutnya dia justru tertimpa reruntuhan kayu yang terbakar dan tepat mengenai punggungnya.
"Kak Darren!"
Aku berusaha menolong kak Darren namun ayah justru menarik tanganku.
"Zura! Jangan mendekat! Atau kamu akan ikut terbakar! Kita keluar sekarang dari rumah ini!" seru ayah.
"Tapi, bagaimana dengan kak Darren dan kak Maureen?"
"Sudahlah. Pikirkan saja keselamatan kita!"
Ayah dan ibu menggandeng tanganku dan membawaku keluar dari rumah. Meninggalkan kak Darren dan kak Maureen yang entah bagaimana nasibnya.
Bersambung….
Hai, pembaca setia….
__ADS_1
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰