
"Tidak usah peduli padaku lagi. Biar Evan yang mengurusku!" seru tuan Anthony.
"Tapi, Yah, …"
"Ke rumahku sekarang!"
ucap tuan Anthony pada seseorang melalui sambungan telepon. Sebelum ia mengakhiri percakapan.
"Kenapa kamu masih di sini? Kamu lebih memilih suamimu 'bukan?"
"Aku khawatir pada Ayah. Tidak mungkin aku meninggalkan Ayah dalam keadaan begini."
Beberapa saat kemudian Evan tiba di rumah itu. Jarak dari rumahnya menuju rumah tuan Anthony memang tidak begitu jauh. Hanya memerlukan waktu lima menit saja jika ditempuh dengan menggunakan sepeda motor.
"Ada apa ini? Kenapa ada Fabian juga? Dan siapa pria asing ini?" gumamnya saat memasuki ruang tamu.
"Ada apa Tuan memanggil saya malam-malam begini? Dan, maaf, Bapak ini siapa?" tanyanya saat melihat pak Hannan yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk.
"Nama saya Hannan. Saya kepala desa di mana pak Fabian tinggal."
Dari pak Hannan, pandangan Evan beralih pada tas ransel yang berada di punggung Fabian.
"Kenapa kamu ada di sini? Dan kenapa kamu membawa tas ransel itu?" tanyanya.
"Mulai malam ini pak Fabian dan mbak Silvia sudah resmi menjadi pasangan suami istri," jelas pak Hannan.
"Me-me-ni-kah? Mana mungkin? Bapak pasti bercanda."
"Tidak ada untungnya saya bercanda. Lagipula tidak mungkin saya berada di tempat ini kalau bukan untuk urusan yang penting."
"Benar juga," gumam Evan. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini? Saya benar-benar bingung."
__ADS_1
"Aku dan Fabian memang sudah menikah," ucap Silvia.
Seandainya saja Silvia tahu, ada perasaan yang hancur saat kalimat itu meluncur dari mulutnya.
"Ja-ja-di benar, Nona dan Fabian sudah menikah?" tanya Evan setengah tak percaya.
"Ya."
"Kenapa kalian tiba-tiba menikah?"
"Tentu saja karena kami saling mencintai."
"T-t-tapi … kenapa mendadak begini?"
"Pernikahan pak Fabian dan mbak Silvia memang tanpa rencana atau persiapan apapun." Pak Hannan menimpali.
"Kenapa bisa begitu?"
"Kenapa kamu lakukan itu pada nona Silvia 'hah?!" Evan mengangkat salah satu tangannya dan bersiap menghantamkannya di bagian wajah Fabian namun laki-laki itu menangkisnya.
"Memangnya apa urusanmu? Kamu ini hanya orang suruhan Silvia. Tidak usah berlagak sok peduli!" seru Fabian.
"Aku tahu, kamu sengaja melakukan ini agar bisa Menikahi Silvia, karena aku tahu
yang ada di isi kepalamu hanya uang dan jabatan," cibir Evan.
"Jaga mulutmu! Sekali lagi kamu menghina suamiku, aku tidak segan untuk memecatmu!" ancam Silvia.
"Hanya aku yang berhak memecat Evan. Jika kamu lebih memilih laki-laki itu, pergilah. Aku tidak akan menghalangimu. Jangan khawatirkan aku. Evan bisa menjaga dan merawatku dengan baik."
"Tapi, Yah, …"
__ADS_1
"Antar saya ke kamar. Saya mau istirahat," titah sang tuan pada sang asisten.
"Baik, Tuan."
Silvia hanya mampu memandang punggung ayah yang berlalu dengan tatapan nanar. Di satu sisi ia ingin bersama sang ayah, namun di sisi lain ia tak bisa membiarkan Fabian pergi. Apalagi pernikahan ini sudah menjadi impiannya sejak lama.
"Saya pamit dulu, Pak … Mbak," ucap pak Hannan.
"Terima kasih sudah mau menemui dan berbicara dengan ayah saya," ucap Silvia.
Pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya. Tidak berselang lama ia pun meninggalkan rumah tersebut.
"Jadi, kamu yakin ingin tinggal bersamaku?" tanya Fabian pada Silvia.
"Apa kamu sanggup hidup dalam kesederhanaan dan meninggalkan semua kemewahan yang selama ini kamu miliki?" tanya Fabian lagi. Untuk kali ke dua Silvia menganggukkan kepalanya.
Entah mengapa ada perasaan ragu di hati Fabian. Bagaimana mungkin seorang Silvia yang sedari kecil hidup bak seorang putri, tiba-tiba harus hidup sederhana bersamanya?
"Kita pergi sekarang," ucap Silvia sesaat setelah ia mengemasi pakaiannya dalam sebuah koper. Ia memandang potret dirinya bersama sang ayah yang terpajang di ruang tamu itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah tersebut.
Bagaimana kehidupan Silvia setelah meninggalkan kemewahannya? Bagaimana pula Fabian bisa menghidupi Silvia sementara dirinya tak lagi memiliki pekerjaan? Ikuti terus kisahnya ya, Kak🥰🥰
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
Happy reading…
__ADS_1