
Kulihat salah satu karyawanku, Handoko, tengah merintih kesakitan sembari memegangi salah satu tangannya.
"Ya Allah, kamu kenapa, Han?" tanyaku.
"Jari tangan kirinya terkena mesin potong, Bu," jawab Seto. Sementara darah segar tak berhenti mengalir dari jari-jari tangan kirinya.
"Bagaimana ini, Bu? Handoko bisa pingsan karena kehilangan banyak darah," karyawan lainnya menimpali.
"Seto, kamu ambil kain untuk menutup lukanya, lalu kamu kita bawa Handoko ke klinik," ucapku.
"Pak Amin! Pak Amin!" teriakku.
"Ya, Bu!" Pak Amin muncul dari halaman depan dan berlari ke ruang produksi.
"Kita bawa Handoko ke klinik agar cepat mendapatkan pertolongan. Sepertinya terlalu jauh jika harus ke rumah sakit," jelasku.
Seto dengan dibantu pak Amin pun lantas membawa Handoko masuk ke dalam mobilku.
"Agak cepat ya, Pak, menyetir nya. Jangan sampai Handoko pingsan karena kehilangan banyak darah," ucapku pada pak Amin.
Setibanya di klinik.
"Maaf, Bu. Dengan sangat menyesal saya harus mengatakan dua jari tangan kiri pasien putus," ucap dokter sesaat setelah keluar dari ruang periksa.
"Astaghfirullahaldzim. Apa saya boleh menemui karyawan saya, Dok?"
"Silahkan."
"Kenapa kamu bisa sampai terkena mesin potong, Han? Setahu saya kamu bukan karyawan yang ceroboh," ucapku.
"Saya-saya sedang tidak fokus bekerja, Bu. Sedari tadi pikiran saya terus tertuju pada istri saya."
"Memangnya kenapa dengan istrimu?"
tanyaku.
"Ehm … istri saya meminta cincin berlian yang dijual kawannya. Jika saya tidak menurutinya, dia akan pergi meninggalkan rumah," ungkap Handoko.
"Selama ini dia tahu pekerjaan kamu 'bukan?"
"Ya, Bu. Dulu dia tidak pernah menuntut macam-macam. Dia selalu menerima nafkah dari saya berapa pun jumlahnya. Sifatnya berubah semenjak sering bertemu dengan kawan-kawannya semasa SMA. Dia sering memaksakan diri untuk membeli ini dan itu. Bahkan beberapa hari yang lalu dia berhutang tanpa sepengetahuan saya," ungkap Handoko.
"Istri model begitu ngapain dipelihara. Kalau aku jadi kamu, aku sudah tinggalin dia dan cari istri baru. Buat apa punya istri kalau bisanya hanya menyiksa batin dan pikiran." Seto yang memang sudah pernah gagal berumah tangga itu menimpali.
"Menurut Ibu saya harus bagaimana?" tanya Handoko.
Aku mengulas senyum.
"Sama seperti Seto, aku pun pergi gagal dalam membina rumah tangga. Aku menjadikannya sebagai pelajaran untuk lebih berhati-hati memilih pendamping hidup," ujarku. "Menurut saya, kamu harus lebih tegas pada istrimu. Jika dia berhutang demi kebutuhannya sendiri, katakan padanya untuk membayarnya sendiri. Dengan begitu dia pasti akan mikir-mikir lagi untuk berhutang."
"Istri saya keras kepala, Bu. Semua nasehat saya tidak pernah didengar. Sepertinya dia tidak pernah menganggap saya."
"Tanyakan pada hatimu. Jika kamu memang masih mencintainya, pertahankan. Akan tetapi, jika kamu merasa tidak ada kecocokan lagi, lepaskan."
"Bu Zura benar, Han. Hanya kamu sendiri yang tahu bagaimana perasaanmu," ucap Seto.
"Apa karyawan saya perlu dirawat inap, Dok?" tanyaku saat dokter memasuki ruang perawatan.
"Tidak, Bu. Pasien bisa pulang sekarang. Tetapi saran saya pasien bisa beristirahat selama beberapa hari ke depan."
"Baik, terima kasih."
"Setelah dari klinik ini, saya antar kamu pulang," ucapku.
"Tapi, Bu. Bagaimana dengan produksi?"
__ADS_1
"Kamu tidak usah memikirkan itu. Saya ingin tidak keberatan kok turun tangan langsung di bagian produksi," ucapku.
"Memangnya Ibu bisa?"
"Kamu jangan meremehkan bu Azzura, Han. Jauh sebelum menjadi bos konveksi LYRA, beliau ini adalah seorang penjahit handal yang memiliki banyak pelanggan setia."
"Tidak usah berlebihan begitu, To. Dulu saya hanya seorang penjahit kecil. Karena kebaikan Allah lah, usaha kecil saya bisa berkembang menjadi konveksi. Oh ya, Seto. Kamu tidak apa 'kan, kembali ke konveksi naik angkutan umum? Rumah Handoko cukup jauh, konveksi tidak bisa terlalu lama ditinggal. Apalagi sekarang Handoko sedang sakit."
"Oh, gak apa-apa dong, Bu."
"Ya sudah, saya akan mengurus administrasi. Setelah itu saya akan mengantar Handoko pulang."
"Saya juga akan kembali ke konveksi sekarang, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah membayar biaya pengobatan Handoko, aku dan pak Amin pun mengantarnya pulang ke rumahnya.
Setelah hampir dua puluh menit melaju, Handoko meminta pak Amin menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah. Rumah itu tidak terlalu besar, namun bukan itu yang membuatku heran. Rumah bercat hijau muda itu terlihat begitu kotor di bagian teras nya. Tidak hanya daun kering dan debu, namun kotoran ayam pun terlihat di disana sini.
"Ehm … Han. Apa istri kamu di rumah?" tanyaku.
"Di rumah kok Bu. Dia ibu rumah tangga saja."
"Jika dia hanya ibu rumah tangga, kenapa teras rumah kotor begini? Seperti tidak dihuni saja," batinku.
"Assalamu'alaikum," Seto mengucap salam.
Tidak berselang lama pintu terbuka. Tampak seorang perempuan yang mungkin usianya beberapa tahun lebih muda dariku berdiri di hadapan kami. Dia terlihat mengenakan blouse dan tas selempang berwarna senada. Riasannya cukup tebal justru membuat usianya terlihat jauh lebih tua.
"Wa'alaikumsalam. Loh, Mas. Kamu kok sudah pulang? Dan siapa wanita ini? Jangan-jangan dia pacarmu ya."
"Jangan asal menuduh, Va. Beliau ini adalah pemilik konveksi tempatku bekerja, namanya bu Azzura."
"Loh, Mas? Kenapa dengan tanganmu,?" tanyanya.
"Jari tangan Handoko putus setelah terkena mesin pemotong kain," jelasku.
"Astaga. Kenapa kamu ceroboh begini? Kalau tangan kamu cacat begini, bagaimana kamu akan bekerja? Siapa yang akan mencari uang?" cecar Eva.
"Namanya juga musibah. Aku begini juga karena sedari tadi terus memikirkan keinginanmu untuk membeli cincin berlian itu.
"Dipikirin saja, tetap saja nggak mampu beli," gerutunya.
"Ehm … Mbak. Ini ada sedikit santunan dari saya. Mungkin bisa kalian pakai untuk membeli kebutuhan dapur selama Handoko sakit." Aku mengambil amplop berisi uang lalu meletakkannya di atas meja.
"Tidak perlu repot-repot, Bu. Saya- …"
"Sini uangnya!"
Handoko belum menyelesaikan kalimatnya, namun secara tiba-tiba Eva mengambil amplop tersebut kemudian membuka isi di dalamnya.
"Eva!" sentak Handoko sembari menggelengkan kepalanya.
"Lumayan buat traktir, kebetulan aku mau keluar bertemu kawan-kawanku," ucapnya.
"Apa kamu tidak dengar kata Bu Zura tadi, pergunakan uang ini untuk kebutuhan dapur, bukan untuk hal yang tidak penting begitu."
"Siapa bilang bertemu kawan-kawan tidak penting? Itu hiburan biar aku tidak suntuk di rumah. Aku pergi dulu." Eva beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruang tamu.
"Eva! Apa kamu tidak bisa menghormati tamu? Ada bu Zura di sini, kenapa kamu pergi meninggalkannya begitu saja?" protes Handoko.
"Aku buru-buru!"
Aku hanya menggeleng heran dengan sikap Eva.
__ADS_1
"Saya minta maaf, Bu, jika sikap istri saya kurang sopan. Begitulah dia tidak pernah menggubris ucapan saya. Sepertinya dia tidak pernah menganggap saya sebagai suami."
"Semoga suatu saat nanti istrimu bisa berubah. Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu. Kamu istirahat aja di rumah jangan banyak pikiran. Insya Allah konveksi masih bisa saya handle."
"Terima kasih Bu, hati-hati."
"Assalamu'alaikum."
Aku pun lantas meninggalkan rumah Handoko.
****
"Bagaimana keadaan Handoko, Nak?" tanya ibu setibanya aku di rumah.
"Dua jari tangan Handoko putus, Bu. Dia harus beristirahat untuk beberapa hari sampai kondisinya membaik."
"Apa kita perlu mencari karyawan baru?"
"Sepertinya belum perlu, Bu. Untuk sementara aku yang akan turun langsung ke bagian produksi untuk menggantikan Handoko. Oh ya. Di mana Lyra?"
"Ada di kamarnya."
Aku berlalu dari hadapan ibu lalu menuju kamar puteri semata wayangku itu.
"Lyra sedang apa?" tanyaku.
"Lila sedang bingung, Bu."
"Bingung kenapa, Sayang?"
"Bu guru membeli tugas membuat pohon keluarga."
"Ya sudah, Lyra tinggal buat saja. Lira hanya tinggal membuat kotak berisi nama-nama Ibu, ayah, Lyra, nenek dan Mbak Fina."
"Yang bu gulu suluh bukan begitu, Bu."
"Lantas?"
"Nggak cuma nama, tapi halus ada fotonya juga. Lyla 'kan nggak punya foto ayah Fabian. Boleh nggak Bu, kalau fotonya Lila ganti dengan foto paman Giblan?"
Aku mengulas senyum.
"Mana bisa begitu, Sayang? Ayah Lyra 'kan ayah Fabian, bukan Paman Gibran."
"Jadi, bagaimana Bu?"
"Ehm … tugasnya dikumpulkan kapan, Sayang?"
"Lusa."
"Baiklah, besok ibu temui Ayah Fabian dan meminta fotonya, ya."
"Makasih, Bu," ucap Lyra sembari memelukku.
Meskipun Fabian pernah menyakitiku, bagaimanapun dia tetaplah ayah kandung Lyra. Aku tidak akan pernah sekalipun mengajari Lyra untuk membenci ayah kandungnya.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1