
"Kamu nggak diantar pak Amin?" tanya Keenan setelah kami selesai membicarakan rencana bisnis kami di cafe.
"Sebelum ke tempat ini aku dan ibu menjenguk Fabian di rumah sakit jiwa. Aku meminta pak Amin mengantar ibu pulang."
"Rumah kita searah 'bukan? Bagaimana jika anda pulang bersama saya?" Tiba-tiba Herdian menimpali.
"Oh ya, jam segini Lyra pasti sudah pulang. Aku kangen ingin bermain dengannya," ucap Keenan.
"Haikal pasti senang jika kuajak ke rumah anda dan bertemu dengan Lyra," ucap Herdian.
Kenapa dengan dua pria dewasa ini? Kenapa mereka berebut ingin mengantarku pulang? Keenan dan Herdian sama-sama baik, Tapi, jika disuruh memilih, aku lebih memilih diantar pulang Keenan. Meski terkadang merasa canggung saat bersamanya, aku mulai merasa nyaman saat di dekatnya.
"Zura … kamu ini kenapa? Pliss nggak usah mikir yang macam-macam." Aku merutuki diriku sendiri.
"Kita pulang sekarang? Atau kamu masih ada urusan di tempat lain?" tanya Keenan.
"Kita ke sekolah Lyra dan Haikal. Sebentar lagi jam pulang sekolah," ucap Herdian.
"Ehm … aku-aku naik taksi saja. Lagipula aku mau mampir belanja di supermarket."
Ah, aku terpaksa memilih jawaban ini. Kurasa ini yang paling adil bagi mereka.
"Baiklah kalau begitu. Untuk pembayaran akan saya lakukan siang ini. Selamat siang."
Herdian terlihat meletakkan selembar uang pecahan lima puluh ribu di atas meja sebelum akhirnya meninggalkan cafe. Tidak lama aku dan Keenan pun beranjak dari meja kami. Aku baru saja membalikkan badanku, di saat bersamaan seorang pelayan cafe melintas. Tabrakan pun tak terhindarkan. Makanan berkuah entah itu sup atau bakso yang dibawanya pun tumpah dan mengenai tepat di bagian lengan hingga tanganku. Rasa perih lantaran makanan yang masih panas itu pun seketika menjalar.
"Aww!" Tak sadar aku memekik kesakitan.
"Hati-hati dong, Mbak!" sentak Keenan.
"Ma-ma-af, Tuan … Nyonya. Saya tidak sengaja."
"Sudah … aku tidak apa-apa kok." Aku berusaha terlihat baik-baik saja meskipun kini tanganku rasanya mulai terbakar.
"Zura … tanganmu melepuh." Tiba-tiba saja Keenan mengamati lengan dan tanganku yang mulai memerah. "Kamu jangan menganggapnya hal sepele," imbuhnya.
"Aku tidak apa-apa, sungguh."
"Apa Mbak bisa ambilkan kotak P3K?" tanya Keenan pada pelayan itu. Ia terlihat masih sibuk membersihkan tumpahan makanan berkuah di lantai dengan kain serbet.
"Ma-ma-af, Tuan. Kami tidak memiliki persediaan P3K."
"Brak!" Keenan memukul meja.
"Cafe macam apa ini! Bagaimana mungkin cafe sebesar ini tidak menyediakan kotak P3K. Apa kalian tidak berpikir jika terjadi kecelakaan begini?!"
Diam-diam aku mengamati wajah Keenan. Sudah lebih dari tujuh tahun aku mengenalnya, dan baru kali ini aku melihatnya marah. Tapi memang dasarnya tampan, sedang marah saja masih tetap tampan. Hehe.
__ADS_1
"Zura …apa-apan sih kamu, nggak jelas banget." Lagi-lagi aku merutuki diriku.
"Mana manager kamu?"
"Beberapa saat kemudian terlihat seorang perempuan menghampiri kami. Jika dilihat dari penampilannya, dia bukan orang sembarangan di cafe ini.
"Selamat siang, ada apa ini, Tuan … Nyonya?" tanyanya.
"Karyawanmu ini ceroboh. Lihat, gara-gara dia tangan kawanku melepuh karena terkena tumpahan kuah panas."
"Sebelumnya kami minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Saya yakin karyawan saya tidak sengaja melakukannya."
"Lantas, apa benar cafe sebesar ini tidak menyediakan P3K bagi para pengunjung?" tanya Keenan.
"Ya, Tuan. Kami memang tidak menyediakan P3K, namun kami menyediakan klinik khusus bagi pengunjung yang mengalami kecelakaan seperti ibu ini. Klinik nya ada di sebelah sana," papar perempuan berpenampilan anggun itu.
"Saya minta pertanggungjawaban cafe ini. Luka kawan saya harus segera diobati," ucap Keenan.
Tiba-tiba perempuan yang belum kuketahui namanya itu mengamati wajah Keenan.
"Tunggu. Sepertinya wajahmu tidak asing bagiku. Kamu Keenan 'bukan?"
"Benar. Maaf, Anda siapa?"
"Astaga. Ini aku, Pinkan, tetangga rumahmu dulu."
Keenan terlihat mengingat sesuatu.
"Aku Pinkan, yang dulu tinggal persis di dekat rumahmu."
"Ah, ya. Aku ingat sekarang. Pinkan yang tomboi itu 'bukan? Kenapa kamu berubah jadi perempuan begini?"
"Maksud kamu apa? Aku memang perempuan tulen."
"Maaf, dulu penampilanmu tomboi sekali, tapi sekarang kamu feminin begini."
"Astaga. Kenapa kita malah ngobrol. Mari, Bu, saya antar ke klinik." Pinkan menggandeng tanganku lalu mengajakku menuju klinik yang berada di bagian belakang cafe.
Aku merasa perih di tanganku sedikit berkurang setelah dokter mengoleskan krim khusus luka bakar di bagian lengan dan tanganku.
"Untuk beberapa waktu sebaiknya tangan jangan terkena air," ucap dokter setelah selesai memasang kain perban.
"Baik, Dok."
"Oh ya, ini antibiotik, anda minum tiga kali sehari." Dokter itu memasukkan beberapa butir obat ke dalam plastik klep lalu memberikannya padaku.
"Terima kasih, Dokter."
__ADS_1
"Semua biaya pengobatan sudah ditanggung cafe ya, Bu," ucap dokter. Aku mengangguk paham.
"Saya permisi dulu, Dok."
Aku meninggalkan ruang dokter lalu menghampiri Keenan dan Pinkan yang masih asyik bernostalgia di ruang tunggu. Ah, kenapa tiba-tiba saja aku merasa tidak menyukai keakraban mereka?
"Sudah selesai, Zura?" tanya Pinkan.
Pasti Keenan yang sudah memberitahu namaku padanya.
"Sudah, Bu."
"Jangan panggil saya ibu. Sepertinya usia kita tidak terpaut jauh. Lagipula saya belum menikah. Panggil saja saya Pinkan. Sekali lagi saya sebagai pemilik cafe meminta maaf atas kejadian ini," ucap Pinkan.
"Oh, tidak apa. Kecelakaan memang bisa terjadi pada siapa saja dan di mana saja. Saya harap anda tidak memarahi apalagi memecat karyawan yang tadi menabrak saya. Saya yakin dia tidak sengaja melakukannya."
Pinkan tersenyum tipis.
"Saya tidak akan sembarangan memecat karyawan saya. Saya minta maaf, saya pikir anda adalah istrinya Keenan."
"Oh, bu-bu-bukan. Kami hanya rekan bisnis."
"Waktu kecil saya pernah tinggal di perumahan Anyelir. Dari saat saya masih kelas 2 hingga lulus sekolah dasar. Saya pindah ke kota P lantaran ayah saya dipindah tugaskan ke sana. Saya tidak menyangka setelah lebih dari dua puluh tahun ternyata saya dan Keenan kembali dipertemukan di cafe ini," papar Pinkan.
"Masih sakit tangannya?" tanya Keenan.
"Alhamdulillah, sudah mendingan."
"Sebelum lukanya kering, kamu bisa bersuci dengan cara tayamum," ucap Keenan. Aku mengangguk paham.
"Ya sudah, kami permisi dulu."
"Terima kasih, Pinkan."
"Kenapa kamu berterima kasih? Saya yang seharusnya meminta maaf. Kamu terluka karena kecerobohan salah satu karyawan saya."
"Tidak apa, insyaallah lukanya tidak begitu parah. Beberapa hari ke depan pasti sembuh," ujarku.
"Oh ya, Ken. Apa aku boleh meminta nomor handphone mu?" tanya Pinkan seraya menyodorkan gawainya pada Keenan.
"Tentu."
Keenan pun lantas meraih ponsel itu lalu memasukkan nomor handphone miliknya.
"Terima kasih, kita sambung lagi nanti lewat chat," ucap Pinkan.
Entah mengapa aku tidak menyukai kalimat yang barusan itu. Keenan dan Pinkan sudah bertukar nomor handphone, setelah ini mereka pasti akan semakin akrab, bahkan semakin dekat, dan aku kurang menyukainya. Perasaan apa ini? Apakah ini artinya aku mulai takut kehilangan Keenan?
__ADS_1
Bersambung …