Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Titik terendah


__ADS_3

"Apa Maureen sudah tahu perihal kematian ibu mertuanya?" tanya ibu sepulangnya kami dari pemakaman ibu Kinanti.


"Entahlah, tadi petugas kepolisian sudah meminta alamat rumahnya."


"Secara tidak langsung dia lah yang menjadi penyebab kematian Kinanti. Kalau dia tidak mengusirnya, mungkin sekarang Kinanti masih hidup."


"Penyebab kematian bu Kinanti bukanlah karena suatu penyakit ataupun kecelakaan. Allah lah yang memanggilnya ketika beliau dalam keadaan bersujud. Sebuah cara yang begitu indah yang mungkin hanya dialami orang-orang beruntung saja," ujarku.


"Mungkin dia sudah punya firasat saat mendatangi rumah kita kemarin malam untuk meminta maaf. Ibu sedikit menyesal karena masih saja bersikap ketus padanya."


"Sudahlah, Bu. Yang terpenting kita do'a kan beliau agar mendapatkan tempat yang layak di sisinya."


"Aamiin."


Sesampainya di rumah.


Aku mendapati bi Ami tengah mengobrol dengan seorang polisi di teras rumahku.


"Selamat sore, Bu Azzura."


"Selamat sore, Pak. Apa petugas kepolisian sudah bertemu dengan pemilik rumah yang alamatnya saya berikan tadi?"


"Kebetulan saya sendiri yang mendatangi alamat rumah itu."


"Lalu, di mana Maureen sekarang? Apa Bapak tidak mengajaknya datang ke rumah ini?" Ibu menimpali.


"Saya sudah memberitahu bu Maureen perihal penemuan jenazah ibu Kinanti di masjid. Tapi, sepertinya bu Maureen sama sekali tidak peduli. Dia justru melapor pada kami tentang hilangnya sertifikat tanah miliknya yang diduga dibawa kabur bu Kinanti."


"Astaga. Apa otak anak itu hanya dipenuhi harta saja," gerutu ibu kesal.

__ADS_1


"Oh ya, saya menyimpan tas milik almarhumah. Mungkin Bapak bisa memeriksanya. Saya sendiri sama sekali belum membukanya." Aku masuk kedalam rumah. Tidak lama aku keluar dengan membawa serta tas berwarna hitam. Aku pun lantas memberikannya padaku polisi tersebut.


Aku, ibu, dan bi Ami memperhatikan secara seksama saat pria berseragam itu mulai mengeluarkan satu persatu barang dari dalam tas berukuran cukup besar itu. Namun sertifikat tanah yang dimaksud Maureen tidak berada di dalam sana. Di dalam tas itu hanya ditemukan beberapa potong pakaian dan kantong plastik berwarna hitam yang diselipkan di antara pakaian-pakaian tersebut.


Dengan hati-hati petugas kepolisian itu membuka isi di dalamnya. Rupanya kantong plastik itu berisi uang tunai senilai lima juta.


"Apa sebelum pergi dari rumah itu Kinanti sempat mengambil uang?" tanya ibu.


"Sepertinya tidak, Bu. Bu Maureen hanya melaporkan kehilangan sertifikat tanah saja. Bisa jadi uang ini adalah uang pribadi


milik almarhumah. Berhubung Ibu yang sudah mengurus jenazah bu Kinanti, uang ini saya serahkan pada Ibu."


"Baik, Pak."


"Saya rasa masalah ini sudah selesai. Terima kasih atas kerjasamanya," ucap polisi.


"Lalu, bagaimana dengan laporan hilangnya sertifikat tanah itu?"


"Maureen … Maureen. Malang benar nasibmu. Sudah jatuh masih harus tertimpa tangga," ujar ibu prihatin.


"Ya sudah, Bu. Saya permisi dulu. Selamat sore."


"Selamat sore."


Aku dan ibu baru saja beranjak dari teras saat tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depan rumahku. Tidak lama pintu taksi terbuka. Tampaklah wajah perempuan yang tak asing bagi kami.


"Kak Maureen?"


"Mana tas milik ibu?! Sertifikat rumahku pasti ada di dalamnya!"

__ADS_1


"Apa kamu ini sudah tidak memiliki tata krama? Datang seharusnya mengucap salam, bukannya ngamuk-ngamuk begini!" sungut ibu.


"Di mana tas milik ibu? Pasti kamu menyembunyikannya!" Kak Maureen menatap tajam mataku.


"Itu tas yang dibawa almarhum ibu mertuamu. Polisi sudah memeriksanya, dan tidak menemukan benda selain pakaian." Ibu mengacungkan jari telunjuknya pada tas yang saat ini kutenteng. Ia pun lantas merebut tas berwarna hitam itu dengan kasar.


Seolah tak puas dengan apa yang ibu katakan barusan, kak Maureen mulai membuka resleting tas lalu mengobrak-abrik isi di dalamnya.


"Sial! Pasti babuu itu yang sudah mengambil sertifikat rumahku!" Kak Maureen membanting tas tersebut di lantai dengan cukup kasar.


"Sudahlah, Kak. Mungkin kejadian ini adalah cara Allah untuk menegur Kakak. Selama ini Kakak terlalu sombong, bahkan Kakak menanggalkan hijab Kakak. Allah ingin Kakak menjadi orang yang lebih baik. Kalaupun memang asisten rumah tangga Kakak yang mengambil sertifikat tanah itu, sungguh, hidupnya tidak akan berkah karena dia mengambil yang bukan hak nya."


"Menasehati adalah hal yang paling mudah. Coba jika kamu yang ada di posisiku sekarang. Apa kamu sanggup menghadapi kenyataan jika perusahaanmu bangkrut, suami gila, dan sekarang masih harus ditambah lagi sertifikat rumahku hilang diambil babuu sialaan itu."


"Maureen. Dari begitu banyak musibah yang kamu alami, pelajaran apa yang sudah kamu petik? Segala sesuatu yang didapatkan dengan cara kotor tidak akan pernah bertahan lama. Sama hal nya dengan konveksi milik Fabian. Ibu tahu, dari mana dia mendapatkan modal untuk membuka usaha itu. Dia memeras mantan ayah mertuanya yang tidak sengaja menabrak adiknya hingga tewas. Tentu saja usahanya tidak berkah. Itulah sebabnya usahanya jatuh bangkrut. Ibu juga tahu dari awal niat Fabian ingin menjadi pesaing Zura. Ia tidak rela jika mantan istrinya ini lebih sukses apalagi bahagia. Tapi, apa yang didapat? Iri dan kedengkiannya pada Zura pada akhirnya justru membuatnya hancur," ungkap ibu.


Aku terdiam, pun dengan kak Maureen.


Apa yang dikatakan ibu memang semuanya benar. Sebab dan akibat memang selalu berhubungan erat. Hukum tabur tuai sedang berlaku. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik


Kak Maureen atau yang mengaku dirinya sebagai Karmila pernah merebut Fabian dariku. Dengan keadaan Fabian sekarang mustahil rasanya mereka dapat kembali bersatu. Pun usaha Fabian yang sudah mengalami kerugian hingga milyaran rupiah itu kemungkinan akan gulung tikar. Sementara siapapun tidak akan tenang menghuni rumah tanpa sertifikat. Bisa saja asisten rumah tangganya sudah menjual rumah itu pada seseorang dan dia yang menikmati uang hasil penjualannya. Setiap saat rumah itu bisa diambil oleh pemilik barunya.


Kak Maureen dan Fabian kini benar-benar berada di titik terendah dalam hidup mereka.


Bersambung …


Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"

__ADS_1


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2