Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Hadiah manis


__ADS_3

Siang itu aku tengah berada di ruang produksi ketika tiba-tiba bi Ami memanggilku.


"Ada tamu, Bu," ucapnya.


"Siapa, Bi?"


"Itu … istrinya pak Darren."


"Ya, Bi. Saya segera ke depan."


Bibi meninggalkan ruang produksi dan kembali menuju bagian depan rumahku, di belakangnya aku mengekor.


Benar saja, Fatimah datang bersama keponakanku, Anisa.


"Assalamu'alaikum, Auntie Zura," panggilnya.


"Wa'alaikumsalam, keponakan auntie yang paling cantik."


Anisa meraih tanganku lalu menciumnya.


"Ayo masuk," ucapku seraya mengajak keduanya masuk ke dalam ruang tamu.


"Lyra belum pulang, Auntie?"


"Sebentar lagi, sedang dijemput pak Amin."


Tidak berselang lama bi Ami muncul dari arah dapur dengan membawa sebuah nampan berisi dua cangkir teh hangat dan satu toples keripik pisang.


"Silahkan, Bu … Dek."


"Terima kasih, Bi."


Asisten rumah tanggaku itu pun lantas meninggalkan ruang tamu.


"Kamu kenapa? Sepertinya ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" tanyaku pada Fatimah.


"Ehm … "


"Assalamualaikum," siapa Lyra yang kini sudah berdiri di ambang pintu.


"Lyra!" Anisa bergegas beranjak dari tempat duduknya lalu menghambur ke dalam pelukan puteri semata wayangku itu.


"Anisa dan Bibi Fatimah kapan datang?" tanyanya.


"Kami baru saja masuk, Sayang."


Lyra pun lantas meraih tangan Fatimah lalu menciumnya penuh takdzim.

__ADS_1


"Anisa, main di kamarku, yuk."


"Ayok."


Kedua gadis kecil itu pun lantas beranjak dari ruang tamu dan menuju kamar Lyra.


"Apa kamu mau mengatakan sesuatu?" tanyaku pada Fatimah.


"Ini tentang Widya."


"Tunggu. Apa Widya yang kamu maksud itu adalah Widya yang pernah menjadi mahasiswa Kak Darren?" tanyaku lagi.


Sahabat sekaligus kakak iparku itu menganggukkan kepalanya.


"Memangnya kenapa dengan Widya? Sudah cukup lama dia tidak terdengar kabarnya. Kenapa tiba-tiba dia muncul lagi?"


"Tiba-tiba saja dia muncul dan berniat ingin menculik Anisa."


"Astaghfirullahaladzim!"


"Beruntung Anisa diselamatkan warga meskipun pada akhirnya Widya berhasil melarikan diri. Aku pikir dia sudah benar-benar pergi, Namun ternyata dia menghadang mas Darren di perempatan jalan. Aku menyusulnya karena ponsel mas Darren ketinggalan."


"Apa Widya melakukan sesuatu?"


"Ya. Dia memaksa mas Darren untuk menikahinya atau mengajaknya mati bersama."


"Lantas, apa yang terjadi selanjutnya?"


"Innalillahi wa innailaihi rojiun. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya."


"Aamiin. Oh ya, beberapa waktu yang lalu aku mendengar kabar tentang konveksi Fabian yang menjadi korban penipuan seorang pengusaha ekspor pakaian. Apa benar begitu?"


"Ya. Usaha Fabian sekarang jatuh bangkrut, dia dirawat di rumah sakit jiwa, Kak Maureen pergi entah kemana, dan bu Kinanti ditemukan meninggal dunia di sebuah masjid tidak jauh dari toko kue milikku."


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Aku turut prihatin pada nasib mereka. Akan tetapi aku tidak setuju dengan sikap Maureen. Seharusnya dia mendampingi suaminya yang kini sedang terpuruk bukannya malah pergi meninggalkannya."


"Aku sudah mencoba memberi nasehat padanya, tapi dia sama sekali tidak mau menghiraukanku."


"Kakakmu itu memang keras kepala, Ra."


"Meskipun begitu aku selalu mendoakannya agar dia selalu baik-baik saja di manapun dia berada saat ini," ujarku.


"Aku nggak tahu terbuat dari apa hatimu. Setelah apa yang dia lakukan padamu kamu masih saja mau mendo'akannya."


Aku mengulas senyum tipis.


"Sampai kapanpun Kak Maureen tetap kakakku."

__ADS_1


"Oh ya, Ibu di mana?" tanya Fatimah.


"Sepertinya sedang tidur siang."


"Oh ya, Ra, dua hari Mas Darren berulang tahun. Aku ingin kamu membuatkan kue untuknya."


"Ya Allah, besok tanggal 12 Mei ya? Aku hampir lupa ulang tahunnya. Kamu jangan khawatir, aku membuat kue yang spesial untuknya."


"Menurutmu kado apa yang tepat untuknya ya, Ra?"


"Kamu 'kan sudah lebih dari 8 tahun menikah dengannya? Masa kamu tidak tahu benda apa yang disukainya." Aku terkekeh.


"Mas Darren sudah punya banyak jam tangan, dasi, sepatu. Memangnya benda apalagi yang disukai pria selain benda-benda itu?"


"Ehm … aku boleh tanya sesuatu nggak?"


"Boleh."


"Apa kamu dan mas Darren sudah memiliki keinginan untuk menambah momongan?"


"Ya aku sudah berkali-kali mengatakan ingin memberikan adik untuk Anisa, tapi, …"


"Tapi kenapa?"


"Mas Darren selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia hampir tidak memiliki waktu untuk berduaan denganku."


"Bulan madu."


"Bulan madu? Yang benar saja, Ra. Memangnya kami pengantin baru?"


Aku mengulas senyum tipis.


"Memangnya ada undang-undang yang mengatur jika bulan madu hanya untuk pengantin baru?"


"Ya, nggak ada sih."


"Baiklah, kalau begitu di hari ulang tahun mas Darren nanti aku akan memberi kado ulang tahun berupa tiket bulan madu untuk kalian berdua di pulau Dewata."


"Sungguh?"


"Kamu tahu kan aku paling tidak bisa bercanda."


"Tapi bagaimana dengan Anisa?"


"Kenapa kamu harus mikirin Anisa. Biarkan dia di sini selama kalian pergi. Aku akan menjaganya dengan baik."


"Terima kasih, Ra. Kamu memang sahabat dan adik iparku yang paling baik." Fatimah meraih tanganku lalu menggenggamnya erat.

__ADS_1


"Semoga setelah bulan madu nanti kalian bisa cepat memberikanku keponakan baru," godaku yang sontak membuat Fatimah salah tingkah.


Bersambung …


__ADS_2