
"Ma-ma-af, Bu. Kami tidak sengaja," ucap Ayu masih dengan wajah tertunduk. Sepertinya ia tidak memiliki keberanian untuk memandang wajahku.
"Kalau tidak sengaja itu satu atau dua potong pakaian, tapi ini hampir 100 potong!" Seto menimpali.
"Kami benar-benar minta maaf, Bu. Lain kali kami akan lebih teliti dan berhati-hati," ucap Ayu lagi.
"Sudahlah, Bu. Pecat saja mereka!" celetuk salah satu karyawanku.
"Rini … Ayu. Kali ini saya maafkan kesalahan kalian. Tapi jika kalian melakukan kesalahan lagi, maaf jika saya harus memberhentikan kalian dari konveksi ini."
"Te-te-terima kasih, Bu."
"Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian."
"Bagaimana dengan pelanggan yang harus mengalami keterlambatan pengiriman, Bu?" tanya Seto.
Aku mengulas senyum.
"Saya akan mencoba berbicara dengan pelanggan. Semoga dia bisa memaklumi keterlambatan pengiriman."
"Lantas, bagaimana dengan pakaian-pakaian yang salah jahit ini?" tanya Seto lagi.
"Untuk menghemat waktu, biar Ayu dan Rini membawa pakaian-pakaian itu pulang ke rumah mereka biar mereka bongkar jahitannya."
"Masa kita yang harus membongkar jahitannya, Bu?" protes Ayu.
"Sekarang saya tanya, ini kesalahan siapa?"
"Ehm … sa-sa-lah kami, Bu."
"Setiap orang harus bertanggung jawab atas kesalahannya 'bukan?"
"Masih bagus bu Zura tidak memecat kalian." Seto menimpali.
"Sudah, kalian kembali pada pekerjaan kalian masing-masing. Saya harap kesalahan seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi."
Aku meninggalkan ruang produksi. Lekas kuhubungi pelangganku itu.
[Assalamu'alaikum, Bu Tika]
[Waalaikumsalam]
[Sebelumnya saya minta maaf jika pesanan Ibu akan mengalami keterlambatan pengiriman]
[Memangnya kenapa?]
[Ada kesalahan di bagian produksi. Mungkin baru besok siang pesanan Ibu tiba di toko Ibu]
[Begitu, ya. Baiklah, tidak apa. Tapi Ibu usahakan besok siang pesanan saya selesai ya, Bu.]
[Insyaallah, akan kami usahakan. Saya rasa hanya itu saja yang ingin saya sampaikan, Assalamu'alaikum]
[Waalaikumsalam]
"Ada apa, Nak?" tanya ibu yang tiba-tiba saja berdiri di hadapanku.
"Ehm … barusan aku menghubungi bu Tika, memberitahu jika barang pesanannya mengalami keterlambatan pengiriman."
"Loh, memangnya kenapa?"
"Ada kesalahan di ruang produksi. Dua karyawan baruku itu salah jahit."
"Maksudmu Rini dan Ayu?"
"Benar, Bu."
__ADS_1
"Berapa potong pakaian yang salah jahit?"
"Hampir seratus potong, Bu."
"Seratus potong? Itu bukan kelalaian, Nak. Tapi kesengajaan. Ibu yakin kedua gadis itu adalah suruhan Fabian untuk membuat konveksimu merugi hingga akhirnya gulung tikar."
"Menuduh tanpa bukti sama saja dengan fitnah, Bu. Mungkin mereka memang tidak sengaja melakukan kesalahan itu."
"Kamu sudah memecat mereka 'bukan?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Aku tidak memecat mereka, tapi aku meminta mereka untuk membongkar jahitan pakaian-pakaian itu di rumah mereka."
"Harusnya kamu langsung pecat saja mereka. Jelas-jelas mereka sudah membuat konveksimu ini merugi," ucap ibu.
"Semoga saja mereka tidak mengulangi kesalahannya. Lagipula kami sudah membuat kesepakatan, jika mereka membuat kesalahan lagi, aku tidak segan-segan untuk memberhentikan mereka."
"Sepertinya kamu harus lebih selektif lagi dalam memilih karyawan," ucap ibu.
"Oh ya, di mana Lyra?"
"Di halaman belakang sedang belajar naik sepeda dengan Gibran."
"Ibu tolong awasi kegiatan produksi, terutama Rini dan Ayu. Aku ke halaman belakang dulu."
Aku berlalu dari hadapan ibu dan berjalan menuju halaman belakang. Di sana Gibran tengah memegangi Lyra yang tengah belajar menaiki sepeda. Ya, sepeda yang dinaiki Lyra adalah sepeda Kado dari Fabian saat ulang tahun pertama Lyra.
"Jangan dilepas ya, Paman Giblan. Nanti
Lila jatuh," ucap Lyra.
"Nggak kok, Sayang. Nanti paman lepasnya kalau kamu sudah mulai lancar."
"Jangan dilepas, Paman," ucap Lyra berulang. Akan tetapi tanpa disadarinya dia justru sudah bisa mengendalikan sepedanya sendiri. Lila baru sadar ketika dia telah cukup jauh mengayuh sepedanya itu.
"Loh, Paman Giblan kok di sana? Berarti dari tadi Paman tidak memegangi sepeda Lyla dong," gumamnya.
"Hole! Lyla sudah bisa naik sepeda!" soraknya.
"Lyra hebat!" puji Gibran seraya mengacungkan kedua jempol tangannya ke arah Lyra.
"Telima kasih, Paman Giblan."
"Ibu!"
Menyadari kehadiranku, puteri kecilku itu menuntun sepedanya ke arahku.
"Lyla sudah bisa naik sepeda, Bu," ucapnya.
"Lyra 'kan anak pintar."
"Paman Giblan yang sudah mengajali Lyla. Telima kasih, Paman."
Tiba-tiba Gibran melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang. Sudah beberapa hari belakangan aku tidak sempat mengunjungi toko pakaianku."
"Ehm … siapa yang berjaga di toko?"
"Ada dua orang karyawan. Seorang kasir, seorang lagi melayani pelanggan."
"Perempuan semua?" tanyaku.
"Ya, sepertinya karyawan perempuan lebih baik dalam menjaga toko dibandingkan laki-laki."
__ADS_1
"Siapa bilang. Aku pernah beberapa kali memasuki toko pakaian, pelayan ataupun kasir nya laki-laki," bantahku.
"Ngomong-ngomong kedua karyawanku itu masih muda. Usianya mungkin baru dua puluh tahunan."
Entah mengapa aku tidak menyukai kalimat itu. Tanpa kusadari aku memberengutkan wajahku. Sialnya, Gibran menangkap sinyal kekesalanku. Namun, sepertinya dia memang sengaja ingin membuatku cemburu.
"Mereka cantik, dan …."
"Ayo Lyra, kita masuk ke dalam. Ibu buatku minuman dingin. Kamu pasti haus dan kelelahan setelah belajar naik sepeda," ucapku.
"Pelatih nya tidak diajak juga nih?" sindir Gibran.
"Minum saja air kran!" ketusku.
"Siapa yang disuluh minum ail klan, Bu?" tanya Lyra.
"Ehm … ti-ti-tidak, Sayang. Maksud ibu sebelum masuk ke dalam rumah dan istirahat, kita cuci tangan di air kran."
"Oh, begitu. Bu gulu Syifa juga seling bilang agal kita seling-seling cuci tangan agal tidak kena kuman."
Aku menggandeng tangan Lyra dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Paman pulang dulu ya, Sayang," ucap Gibran.
"Yah … kok pulang. Lyla masih ingin bermain dengan Paman. Paman bobok di sini saja," rengek Lyra. Aku dapat menangkap kekecewaan di sorot matanya.
"Ehm … Lyra Sayang, paman Gibran ini harus segera pulang karena ada pekerjaan," ucapku.
"Paman janji, ya. Seling-seling main ke sini."
"Iya, Sayang. Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ya."
"Janji itu halus ditepati. Kalena sama dengan belhutang."
"Iya, Sayang. Paman pasti menepati janji," ucap Gibran seraya mengusap lembut rambut Lyra.
"Aku pamit dulu," ucap Gibran.
Aku beranjak dari ruang tamu lalu mengantar Gibran sampai di teras rumah.
"Aku ke toko dulu untuk menemui gadis-gadis cantik itu," godanya.
Aku mendengus kesal.
"Kenapa wajahmu begitu? Jangan-jangan kamu cemburu ya?"
"Siapa yang cemburu? Sudah sana kalau mau pulang."
"Jangan cemberut begitu, jelek tau!"
"Aku pergi dulu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Perasaan apa ini? Kenapa aku tidak suka saat Gibran genit begitu? Benarkah benih cinta itu sudah mulai tumbuh? Apakah aku mulai takut kehilangannya?
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1