Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Dilema


__ADS_3

Aku menghela nafas berat. Mungkin tidak ada salahnya berbagi cerita dengan kawan lamaku ini.


"Beberapa bulan yang lalu mobil mas Fabian menabrak seorang pejalan kaki hingga meninggal dunia. Sebelum meninggal, pria itu menitipkan amanat untuk menjaga Karmila. Aku keberatan saat mas Fabian mengutarakan keinginannya untuk menikahi Mila. Namun, satu per satu bukti perlahan muncul. Hingga akhirnya mereka membuat pengakuan jika mereka telah menikah secara siri."


"Suamimu benar-benar keterlaluan! Jadi, sebenarnya dia sudah menikahi Karmila saat dia mengatakan ingin menikahinya?" tanyanya. Aku menganggukkan kepala.


"Kamu sudah dikhianati. Kenapa kamu masih bertahan, Ra?"


"Keadaannya begitu sulit, May. Aku hampir saja pergi meninggalkan rumah, namun aku jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit ini. Ditambah lagi keadaan ibu yang belum membaik setelah operasi beberapa waktu yang lalu. Bahkan kini beliau harus kembali menjalani operasi lantaran mengalami luka bakar akibat ledakan tabung gas di rumah kami pagi tadi. Mas Fabian tak memiliki uang tabungan. Dengan terpaksa aku meminjam uang pada salah satu tetanggaku," ungkapku.


"Jadi, kamu memilih bertahan dalam keadaan ini? Ini sama artinya kamu menyakiti diri sendiri."


"Apa yang harus kuperbuat? Aku begitu menyayangi Ibu. Aku tidak bisa meninggalkan beliau dalam keadaaan sakit. Apalagi aku tahu jika Mila tidak tulus merawat ibu."


"Itulah kamu, Ra. Kamu selalu memikirkan orang lain dan mengabaikan perasaanmu sendiri," ujar Mayra.


"Jadi, apa yang harus kulakukan?"


"Jangan biarkan Fabian dan istri mudanya menginjak-injak harga dirimu. Tinggalkan rumahmu, dan buktikan jika kamu bisa hidup tanpa bergantung pada Fabian!"

__ADS_1


"Bagaimana dengan ibu? Aku yakin mas Fabian tidak akan mengizinkanku mengajak beliau pergi bersamaku."


"Fabian kan anak kandungnya. Mana mungkin dia menyakiti atau mencelakai ibunya sendiri."


"Aku tidak memiliki saudara atau kerabat di kota ini. Jika aku pergi meninggalkan rumah, aku tak tahu harus tinggal di mana,"ucapku.


Mayra tersenyum.


"Aku tidak keberatan kok jika kamu tinggal di rumahku. Kebetulan aku hanya tinggal berdua dengan kakakku. Dia jarang pulang karena bekerja di luar kota," ucapnya.


"Tapi, May, …"


"Kalau kamu peduli pada masa depanmu dan masa depan putrimu, ikuti kata-kataku. Tinggalkan suamimu yang tidak punya hati itu."


"Tapi, May, …"


Mayra beranjak dari sisiku lalu meninggalkan kamar perawatanku.


Sungguh, keadaanku begitu sulit. Aku hanya punya dua pilihan. Pergi atau bertahan dalam kepahitan.

__ADS_1


Pukul 09.00 pagi.


Perawat memberitahuku jika operasi ibu telah selesai. Ibu kini telah dipindahkan ke ruang perawatan yang berada persis di depan ruanganku.


"Di mana suami saya, Suster?" tanyaku pada perawat.


"Apa yang Ibu maksud pasien laki-laki yang pagi tadi menjadi korban ledakan tabung gas itu?"


"Benar, Sus."


"Beberapa saat yang lalu saya melihat suami ibu dan perempuan berbaju hijau muda itu berjalan keluar dari rumah sakit. Perempuan itu juga berpesan pada saya untuk memantau kamar perawatan ini, ucap perawat itu sembari mengarahkan ibu jarinya di ruang perawatan ibu.


Dalam keadaan begini kamu memilih untuk pulang, Mas? Di mana hati nuranimu? Apakah nafsu benar-benar telah membutakan matamu?


Bersambung….


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏


__ADS_2