
Irwan tak bisa berkelit lagi. Ponselnya benar-benar berdering saat aku menghubungi nomor yang sebelumnya sudah kusimpan di ponselku.
"Mas bisa jelaskan apa maksud ini? Apa yang sudah mas Irwan perbuat?" tanya Khumayra penuh selidik.
"Aku-aku…benar-benar tidak mengenal perempuan bernama Sabrina itu!"
"Plak!" Sebuah tamparan yang cukup keras baru saja mendarat di pipi Irwan.
"Bukti ini sudah cukup jelas. Mas Irwan tisak usah menyangkal lagi!" seru Khumayra.
"Jadi, apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menikahi perempuan tua itu? Jawabannya tidak!"
"Mas Irwan sudah berani berbuat, artinya Mas harus berani bertanggung jawab," ujar Mayra.
"Kami melakukannya atas dasar suka sama suka. Salah sendiri ibumu tidak menjaga agar tidak kebobolan."
"Suka sama suka katamu? Ibuku mengatakan kamu meninggalkannya begitu saja setelah melakukan tindakan tidak senonoh itu," ucapku.
Irwan tersenyum hambar.
"Kamu mau saja dibohongi perempuan gatal itu. Dia yang terus mengejar dan merayuku agar mau menidurinya. Tapi kuakui, ibumu masih cukup lincah bermain di atas ranjang. Ha ha ha ha!"
Kenapa pernyataan ibu dan Irwan berbeda? Siapa yang harus kupercaya?
"Aku mau kamu bertanggung jawab atas kehamilan ibu!" seruku.
"Aku hanya melakukannya sekali. Bisa saja dia hamil dari laki-laki lain," ucap Irwan enteng.
"Apa maksudmu?"
"Aku yakin di luar sana ibumu punya banyak kawan laki-laki. Mungkin dia sudah terbiasa tidur dengan mereka. Aku saja yang apes, baru sekali melakukan, tahu-tahu dia hamil."
"Ibuku tidak serendah itu."
"Ibumu itu memang perempuan murahan!" seru Irwan.
Aku mengangkat tanganku dan berniat melayangkannya ke wajah Irwan namun laki-laki itu menepisnya.
"Bilang pada ibumu, sebelum main, jangan lupa minum obat pencegah kehamilan."
"Kamu, …!"
"Maaf, aku harus berangkat keluar kota sekarang." Irwan masuk ke dalam kamarnya. Tidak berselang lama ia keluar dengan menenteng tas berukuran cukup besar di tangan kanannya.
"Kamu jangan lari dari tanggung jawab!" teriakku.
"Tanggung jawab apa? Kami tidak punya kesepakatan apapun. Jadi, kalau terjadi sesuatu padanya, itu di luar tanggung jawabku."
"Mas Irwan! Tunggu! Kita belum selesai bicara!" teriak Mayra.
"Aku harus berangkat sekarang sebelum tertinggal bus."
"Mas Irwan! Mas Irwan!"
Laki-laki yang dipanggil mas Irwan itu tak menghiraukan teriakan Mayra. Dia justru mempercepat langkahnya dan meninggalkan rumahnya.
"Bagaimana ini, May?" tanyaku.
"Atas nama mas Irwan aku minta maaf. Aku tidak menyangka jika dia berbuat serendah itu," ujar Mayra.
"Ini bukan sepenuhnya salah mas Irwan. Ibuku juga salah."
__ADS_1
"Semoga ada jalan keluar bagi masalah ini. Maaf, jika aku sempat berpikir kamu berbohong."
"Tidak apa, May. Aku mengerti."
"Aku pamit pulang dulu, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, hati-hati."
Aku meninggalkan rumah Mayra lalu kutumpangi taksi yang akan mengantarku pulang ke rumah.
"Aku sudah tahu siapa Irwan. Ternyata dia kakak kandung Khumayra," ucapku pada ibu sesampainya di tempat kost.
"Lantas?"
"Dia tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia bahkan sudah kembali keluar kota."
"Ya sudah, biarkan saja."
"Apa maksud Ibu? Kenapa Ibu membiarkannya lepas begitu saja dari tanggung jawab? Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Irwan, jika kalian melakukannya atas dasar suka sama suka. Irwan juga mengatakan Ibu yang merayunya agar dia meniduri Ibu."
"Jadi, siapa yang lebih kamu percaya? Orang lain, atau ibu kandungmu sendiri?"
"Ehm, aku-aku, …"
"Sudahlah. Jangan membahas lagi masalah ini. Lagipula sebentar lagi Yoga melamarku dan menikahiku. Jika aku hamil, dia tidak mungkin berpikir macam-macam."
"Ibu harus ingat, serapat-rapatnya menyimpan bangkai, pasti akan tercium baunya. Jika pak Prayoga tahu anak yang dikandung Ibu bukan anaknya, bukan tidak mungkin dia akan kecewa dan meninggalkan Ibu."
"Kalau kamu diam, dia tidak akan tahu. Kecuali kamu yang menginginkan hidup ibu menderita."
Apa benar jika aku menyimpan rahasia ini dari pak Prayoga?
Obrolan kami terhenti saat terdengar seseorang mengetuk pintu depan rumah kami.
"Waalaikumsalam," jawabku sembari membuka pintu. Tampak seorang perempuan dan seorang laki-laki berdiri di hadapanku. Usia mereka mungkin baru dua puluh tahunan.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas, Mbak?" tanyaku.
"Kami ingin Mbak Zura menjahit baju kebaya dan jas untuk acara pernikahan kami. Bisa, Mbak?"
"Insyaallah bisa."
"Ini bahan kebaya dan jas nya," ucap perempuan itu sembari menyodorkan paper bag ke arahku.
"Mari, silahkan masuk. Saya catat dulu ukurannya."
Aku pun lantas mencatat ukuran baju keduanya.
"Mbak dan Mas ini bukan warga sini ya?" tanyaku sesaat setelah selesai mencatat ukuran baju mereka.
"Bukan, Mbak. Saya tahu tempat ini dari saudara saya yang kemarin menjahitkan gamis di sini. Saya lihat jahitannya rapi, itulah sebabnya saya mendatangi tempat ini," ungkapnya.
"Oh, iya. Kemarin ada yang meminta saya menjahit gamis. Alhamdulillah kalau beliau suka hasilnya."
Tiba-tiba pandangan perempuan itu pada Lyra yang berada di gendonganku.
"Berapa bulan dedek nya, Mbak?" tanyanya.
"Hampir empat bulan," jawabku.
"Ehm, wajahnya tidak mirip ibunya. Pasti lebih mirip ayahnya ya Mbak?"
__ADS_1
"I-i-iya."
Entahlah. Semakin Lyra tumbuh besar, wajahnya justru semakin mirip dengan Fabian. Dari bentuk mata, hidung, dan bibir, nyaris menyerupai ayahnya.
"Namanya siapa, Sayang?"
"Lyra, Auntie."
"Nama yang bagus."
"Saya sudah mencatat ukuran kebaya dan jas nya. Kalau boleh saya tahu kapan acara pernikahan kalian?"
"Hari Jum'at, Mbak."
"Insyaallah hari Kamis baju kalian sudah siap."
"Oh ya. Berapa ongkos menjahitnya, Mbak?"
"Terserah kalian. Saya tidak pernah memasang tarif pada pelanggan."
Laki-laki yang berdiri di samping perempuan itu lantas mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dari dalam dompetnya lalu memberikannya padaku.
"Maaf, ini terlalu banyak," ucapku.
"Tidak apa, Mbak. Anggap saja ini rejeki untuk dek Lyra. Pasti tidak mudah menjahit sambil mengasuh anak kecil."
"Tapi, Mbak, …"
"Sudah Mbak. Ambil saja."
"Terima kasih, Mas, Mbak. Semoga Allah melancarkan rezeki kalian."
"Aamiin. Ya sudah, kami pamit dulu."
"Baik, Mbak, Mas. Insyaallah hari Kamis jahitannya sudah bisa diambil."
"Kami permisi dulu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Kedua calon pengantin itu pun lantas meninggalkan kamar kost ku.
"Alhamdulillah, kehadiranmu adalah keberuntungan bagi ibu, Nak," ucapku sembari mengecup lembut kening Lyra yang baru saja tertidur di gendonganku.
Tiba-tiba terdengar suara khas dari dalam perutku. Ah! Aku baru ingat sejak pagi tadi aku belum memasukkan apapun ke dalam perutku.
Usai menidurkan Lyra di dalam kamar, aku pun melangkahkan kakiku menuju meja makan. Setelah mengisi perutku, aku kembali ke ruang tamu. Selagi Lyra sedang tidur, aku akan memulai mengerjakan jahitan baju pengantin itu.
Hampir satu jam berlalu. Aneh, Lyra yang biasanya tidur siang tidak lebih dari setengah jam belum terbangun. Mungkin dia kelelahan, pikirku.
"Lyra di mana?" tanya ibu yabg baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"Lyra tidur, Bu."
Ibu pun beranjak dari ruang tamu lalu berjalan menuju kamarku.
"Astaga. Zura! Lyra tidak ada di kamar!" teriaknya.
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰