
POV Author
"Laki-laki yang tadi datang bersama bu Zura itu siapa, Budhe?" tanya Rizal pada bu Murni sesaat setelah Azzura dan Keenan meninggalkan rumahnya.
"Oh, tadi Zura kalau pria itu kawannya. Tapi menurut budhe mereka cocok menjadi pasangan. Yang satu ganteng, yang satu cantik. Serasi pokoknya."
"Apanya yang serasi? Menurutku pria itu biasa saja. Dia tidak pantas jalan sama bu Zura."
"Kamu ini kenapa? Sepertinya nggak suka banget dengan pria itu. Apa kamu kenal dia?"
"Ehm … nggak kenal sih, Budhe. Menurutku mereka kurang cocok saja."
"Ya sudah, sekarang bantu budhe pindahin sofa ke depan untuk tempat duduk tamu yang mau do'a bersama di sini," ucap bu Murni. Rizal mengangguk paham.
****
Sementara itu di rumah Fabian.
"Kamu kenapa, pulang dari toko wajahnya ditekuk begitu?" tegur Fabian saat Maureen melintasi ruang tamu.
"Kue ku nggak laku. Pembeli bilang kue ku pahit lah, amis lah, kemahalan lah, mereka banyak mulut."
"Jadi, begitu saja mau menyerah?"
"Mas nggak ngerasain. Aku sudah seharian berjaga di toko, tapi pembeli kabur setelah mencicipi kue buatanku."
"Mungkin kamu perlu belajar membuat kue lagi sebelum menjualnya. Kalau Zura memang punya bakat, jadi tidak harus kursus pun dia bisa membuat kue dan tokonya banyak diserbu pembeli," ucap Fabian.
"Sanjung saja terus mantan istrimu itu. Dia memang lebih segalanya dari aku!"
"Kalau memang nggak bisa buat kue ya sudah, jangan memaksakan diri untuk jualan. Buang-buang waktu dan tenaga saja." Bu Kinanti yang baru saja muncul di ruangan itu menimpali.
"Diam deh, nggak usah ikut campur. Ngomong begitu kaya pintar buat kue saja," gerutu Maureen.
"Begitu lah istrimu, tidak pernah mau menerima masukan orang lain. Bagaimana dia mau sukses? Harusnya kamu banyak belajar dari adikmu."
"Zura lagi … Zura lagi. Kalian benar-benar membuatku kesal!" Maureen beranjak dari ruangan itu lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Bian … Bian. Punya istri kok begitu amat."
"Maureen lagi kesal karena kue nya tidak laku, Ibu malah nambah-nambahi perkara."
"Istri model begitu kok dibelain. Kalau ibu jadi kamu sudah lama ibu buang."
"Sudahlah, Bu. Aku lelah, jangan mengajakku berdebat." Fabian melengang begitu saja dari hadapan sang ibu lalu menyusul Maureen masuk ke dalam kamar.
"Aku tidak mau kalah dari Zura. Toko kue ku harus ramai!"
"Tapi, bagaimana caranya? Kue buatanmu tidak disukai pembeli,"
"Aku ada ide." Maureen mendekatkan wajahnya lalu membisikkan sesuatu di telinga Fabian.
"Kalau aku pakai cara itu, pasti toko kue ku laris manis."
"Benar juga, tapi, …"
"Mas dukung saja apa susahnya sih?!"
"Iya … iya. Aku dukung kamu."
"Terima kasih, Sayang." Maureen mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipi Fabian.
"Aku mau mandi dulu."
"Aku juga, badanku rasanya lengket. Seharian ini cuacanya panas sekali."
"Ya sudah, kita mandi bersama."
Maureen pasrah saja saat Fabian membopong tubuhnya lalu membawanya menuju kamar mandi.
*****
Di rumah Keenan.
"Kenapa kamu lama sekali, Ken? Bisa gagal acara surprise untuk ayahmu kalau dia pulang duluan dari kamu," ucap sang ibu, Anita.
__ADS_1
Keenan lalu meletakkan kue ulang tahun yang tadi dibelinya di atas meja.
"Bagus sekali kue nya. Kamu beli di mana?"
"Di toko kue LYRA."
"Tunggu. Nama toko kue nya kok mirip seperti nama anaknya Zura."
"Ya, pemilik toko itu memang Azzura."
"Dia buka toko kue juga?"
"Ya, aku juga baru tahu tadi. Aku sedikit terlambat karena tadi membantunya mengantarkan kue pesanan salah satu pembeli."
"Apa banyak pesanannya?"
"Lumayan, 50 box kue bolu panggang. Ibu tahu, Zura memberi kue ini gratis."
"Sungguh? Zura itu memang begitu baik. Sayang, Allah tidak mentakdirkannya untuk menjadi bagian dari keluarga kita."
Tiba-tiba saja raut wajah sang ibu berubah menjadi sedih.
"Sudah, jangan membahas sesuatu yang membuat Ibu sedih."
"Kue buatan Zura pasti enak. Ibu tidak sabar ingin mencicipinya." Anita mencoba menyentuh kue tart yang berada di atas meja namun Keenan menghalaunya.
"Ibu ini bagaimana? Katanya ingin memberi kejutan untuk ayah. Kenapa malah ingin memakan kue nya duluan?" protesnya.
"Sedikit … saja. Ibu penasaran dengan rasa kue nya."
"Tidak bisa. Nanti saja kalau ayah sudah pulang. Mbok!mbok!" serunya.
Mbok Marni yang tengah berada di dapur itu pun bergegas menuju ruang tamu."
"Ada apa, Mas?"
"Kue ini untuk ayah. Tolong simpan dulu di kulkas. Kalau di sini nanti habis dimakan ibu."
"Ah kamu. Ibu 'kan hanya ingin mencicipinya saja."
"Kemana semua orang? Sayang … Ken … mbok …" panggilnya pada seisi rumah.
Tak ada sahutan.
Yudha melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Ternyata ruangan itu juga sama gelapnya.
"Astaga. Apa Anita lupa mengisi token listrik di rumah ini?" gumamnya.
"Suprise!"
Pria berjambang itu tersentak kaget saat tiba-tiba lampu di ruangan itu menyala. Tampak Anita berdiri tepat di hadapannya dengan membawa kue tart berhiaskan buah cery dan lilin berbentuk angka 55 di atasnya. Sementara Keenan dan mbok Marni berdiri mengapitnya.
"Selamat ulang tahun, Sayang?"
"A-a-pa? Memangnya hari ini aku ulang tahun?"
"Lihat Tuan Yudha ini. Karena kesibukannya, ia melupakan hari ulang tahunnya sendiri," ujar sang istri, Anita.
"Demi apapun, aku benar-benar lupa."
"Ya sudah, sekarang Ayah pejamkan mata, laku buat permohonan," ucap Keenan.
"Memangnya harus begitu?"
"Tidak usah protes, lilin nya keburu habis," ucap Anita.
Yudha pun lantas memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian ia pun mulai meniup lilin di atas kue tart tersebut.
"Ini kado untuk Ayah," ucap Keenan seraya menyodorkannya sebuah kotak berbentuk persegi panjang pada ayah kandungnya itu.
"Apa ini?" tanyanya.
"Buka saja."
Sorot mata pria paruh baya itu berbinar saat melihat isi kotak tersebut. Keenan rupanya memberinya hadiah ulang tahun berupa alat pancing.
__ADS_1
"Ah, sudah lama ayah menginginkan barang ini. Tapi ayah tidak punya waktu ke toko untuk membelinya. Terima kasih, Ken." Yudha merengkuh tubuh puteranya itu ke dalam pelukannya.
"Ibu juga sudah menyiapkan kado untuk ayah 'kan?" tanya Keenan.
"Ehm … pasti dong."
Anita pun lantas menyodorkan kotak berbentuk persegi pada pria yang sudah menikahinya lebih dari 30 tahun itu.
Senyum mengembang di bibirnya saat melihat isi di dalam kotak tersebut yakni sepasang sepatu jogging berwarna silver yang juga sudah cukup lama menjadi incarannya.
"Terima kasih, Sayang," ucapnya seraya mendaratkan sebuah kecupan lembut kening Anita.
"Maaf, Tuan. Saya tidak punya kado. Nyonya dan mas Keenan tidak ngajak-ngajak sih," ucap mbok Darmi.
"Tidak apa, Mbok. Selama ini Mbok sudah bekerja dengan baik di rumah ini saja sudah cukup. Tapi … tahun ini ada yang kurang. Ini pertama kalinya saya merayakan ulang tahun tanpa Gibran," ungkap Yudha.
"Kamu jangan membuatku sedih dong, Sayang. Aku yakin saat ini Gibran berada di ruangan ini untuk merayakan ulang tahunmu," ucap Anita.
"Semoga. Oh ya, kue ini buatanmu sendiri?" tanya Yudha pada Anita.
"Tentu saja … tidak." Anita terkekeh.
"Ah, kamu. Aku juga ragu kalau kamu bisa membuat kue secantik ini." Gantian Yudha terkekeh.
"Apa Ayah ingin tahu siapa yang membuat kue ini?" tanya Keenan.
"Siapa, Ken?"
"Azzura."
"Sungguh?"
"Ya, gratis lagi."
"Loh, bagaimana ceritanya dia bisa membuat kue ulang tahun untuk ayah? Memangnya kamu memberitahu padanya jika hari ini hari ulang tahun ayah?"
"Tadinya aku ingin membeli kue di sebuah toko kue, ternyata Zura pemiliknya."
"Jadi, dia punya usaha kue juga?"
"Ya, tapi sepertinya belum begitu lama."
"Kalau kalian mengobrol terus, kapan kue ini akan dipotong?" protes Anita.
"Bilang saja Ibu sudah tidak sabar ingin mencicipi kue itu," tukas Keenan.
"Ya, ibu penasaran sekali dengan kue buatannya. Kalau rasanya lezat, ibu 'kan bisa memesannya kalau ibu ulang tahun nanti."
"Biar kalian tidak ribut lagi, sini mbok potong kue nya." Mbok Marni mengambil pisau lalu memotong kue tersebut.
"Kue buatan Zura memang lezat. Pokoknya mulai sekarang aku akan sering-sering membeli kue," ucap Anita sesaat setelah menikmati sepotong kue itu.
"Jangan keseringan juga, nanti kolesterol mu naik, jadi masalah lagi," protes Yudha yang membuat tawa mereka meledak.
*****
"Sayang, aku boleh tahu 'nggak, apa do'amu sebelum tiup lilin tadi?" tanya Anita ketika ia dan Yudha beranjak tidur.
"Do'a untuk kebaikan keluarga kita."
"Ya, aku tahu. Apa kamu tidak bisa menjelaskannya lebih rinci?" desak Anita.
Yudha mengulas senyum.
"Aku ingin Keenan memiliki istri sebaik Azzura," jawabnya.
"Aamin. Hal itu juga menjadi harapanku," ujar Anita.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰