Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Saingan baru


__ADS_3

Pagi itu aku dan ibu tengah memantau kegiatan di ruang produksi ketika tiba-tiba ponselku berdering. Hanya dia lah satu-satunya penelpon yang selalu membuat jantungku berdegup kencang, Gibran.


Aku melangkah keluar dari ruangan itu lantas kujawab panggilan tersebut.


[Assalamu'alaikum]


[Waalaikumsalam. Tumben cepat sekali angkat telepon nya. Atau kamu memang menunggu telepon dariku. He he he]


[Tidak usah basa-basi. Ada apa menelponku? Aku sedang di ruang produksi]


[Aku ingin memesan pakaian lagi. Kamu tahu, hanya dalam waktu kurang dari satu Minggu, pakaian yang kujual di toko milikku sudah habis terjual. Bahkan ada beberapa yang ingin menjadi reseller]


[Alhamdulillah]


[Ini karena kualitas bahan dan kerapian jahitan dari karyawan konveksi mu]


[Ya, aku selalu mengatakan pada mereka, kualitas produk dan kepuasan pelanggan lah yang harus diutamakan]


[Jadi, kapan kita bertemu?]


[Ber-ber-ber-temu?]


[Kenapa kamu jadi gugup begitu? Tentu saja kita harus bertemu untuk membicarakan bisnis kita]


[Jangan selalu mengatasnamakan bisnis]


[Memangnya kenapa kalau sesekali kita mengobrol santai sambil minum kopi di cafe]


[Aku tidak suka kopi]


[Teh, cokelat hangat, jus, atau apalah itu]


[Maaf, aku tidak bisa. Lagipula besok aku harus mendampingi Lyra. Ada kegiatan rekreasi di sekolahnya]


[Ya sudah, lain kali aku tagih lagi janjimu]


[Memangnya siapa yang janji? Aku tidak merasa mengucapkan janji]


[He he he. Jadi, untuk list pesanannya, aku kirim melalui chat saja]


[Ya, setelah list pesanan masuk, aku akan segera menyampaikannya ke bagian produksi agar segera diproses]


[Aku menyukai cara kerjamu yang sigap]


[Bukankah tidak baik menunda-nunda pekerjaan? Lakukan apa yang bisa kamu lakukan hari hari ini, jangan menundanya sampai besok]


[Ya sudah, aku buat dulu list pesanannya. Assalamu'alaikum, calon pengantinku]


[Apa kamu bilang?]


[Oh, nggak kok. Kamu salah dengar. Assalamu'alaikum]


-Panggilan terputus-


"Gibran semakin menunjukkan keseriusannya, tapi kenapa aku masih saja ragu?" batinku.


"Bu Zura."


Lamunanku buyar ketika tiba-tiba seseorang menghampiriku. Aku pun lantas menoleh ke arah suara itu. Rupanya salah satu karyawanku.


"Ya, Bu Mira."


"Maaf, mengganggu waktunya sebentar."


"Ada apa, Bu?"


"Ehm … apa di tempat ini masih membutuhkan karyawan baru?"


"Memangnya kenapa?"


"Ada seseorang yang sedang mencari pekerjaan. Jika di tempat ini masih ada lowongan, saya bermaksud mengajaknya bergabung di konveksi ini."


"Sebenarnya karyawan di bagian penjahit masih kurang karena saya belum mendapatkan karyawan pengganti Rahma. Bu Mira bisa mengajak kawan Bu Mira hari Senin untuk menemui saya. Karena besok saya dan ibu saya akan mendampingi Lyra pada kegiatan rekreasi sekolah," jelasku.


"Baik, Bu. Hari Senin besok saya akan mengajak kawan saya ke sini."

__ADS_1


"Baik, kamu bisa kembali bekerja."


Bu Mira berlalu dari hadapanku dan kembali ke ruang produksi.


"Lyra di mana, Fin?" tanyaku pada Fina yang tengah mengerjakan tugas sekolah di teras rumah.


"Ada di dalam kamarnya, Bu. Katanya lagi


merapikan barang-barang yang akan dibawa rekreasi besok."


"Oh ya, bagaimana sekolahmu? Apa kamu mengalami kesulitan belajar?" tanyaku lagi.


"Alhamdulillah tidak, Bu. Sejauh ini aku bisa mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik."


"Syukurlah."


Aku beranjak meninggalkan teras lalu masuk ke dalam kamar Lyra. Aku menggeleng heran saat mendapati putri kesayanganku itu tengah memasukkan mainannya ke dalam sebuah paperbag.


"Mau diapakan mainan-mainan ini, Sayang?" tanyaku.


"Dibawa piknik besok, Bu."


Aku mengulas senyum.


"Lyra tidak perlu membawa mainan-mainan ini."


"Memangnya kenapa, Bu?"


"Besok kita akan mengunjungi tempat-tempat wisata seperti museum, perpustakaan, monumen, dan pantai. Lyra tidak akan sempat memainkannya. Lagipula kita naik bus, bukan naik mobil. Jika kita terlalu banyak membawa barang, tempat duduk Lyra menjadi sempit," jelasku.


"Ya sudah. Lyla bawa si cantik saja buat main di dalam bis."


Si cantik adalah boneka Barbie kesayangannya yang didapatnya dari Fina setahun lalu sebagai hadiah ulang tahun.


"Sekarang Lyra ikut ibu yuk."


"Kemana, Bu?"


"Ke rumah paman Darren. Sudah lama Lyra tidak bertemu Anisa 'bukan?"


Setelah berpamitan pada ibu dan Fina, aku pun meninggalkan rumah.


"Biar saya antar, Bu," ucap pak Amin saat melihatku dan Lyra di halaman rumahku.


"Tidak usah, Pak. Saya dan Lyra naik taksi saja. Sepertinya saya agak lama di rumah kak Darren," ucapku. Pak Amin pun mengangguk paham.


Dua puluh menit kemudian kami tiba di rumah kak Darren. Tentu saja kedatangan kami disambut sukacita oleh Fatimah. Apalagi putrinya, Anisa. Keponakanku itu begitu senang dikunjungi Lyra, yang usianya hanya terpaut tiga bulan saja.


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Ra. Aku kangen pingin ngobrol banyak sama kamu," ucap Fatimah.


"Maaf, Fat. Belakangan ini aku cukup sibuk."


"Oh ya. Aku lupa, kamu ini sekarang wanita karir. Pasti banyak kesibukan. Oh ya, Lyra mau minum apa?" tanya Fatimah pada Lyra yang tengah asyik bermain dengan Anisa.


"Ehm, tidak usah, Bi. Nanti melepotkan Bibi."


"Tidak repot kok, Sayang. Hanya air minum saja. Kebetulan tadi bibi juga membuat puding. Lyra mau 'kan?"


Gadis kecilku itu menganggukkan kepalanya.


"Oh ya, Ra. Bagaimana kabar Fabian sekarang?" tanya Fatimah seraya meletakkan nampan berisi dua cangkir teh hangat dan satu piring puding.


"Beberapa waktu yang lalu Fabian datang ke rumahku."


"Ngapain?"


"Dia mengajakku rujuk."


"Jangan mau, Ra! Dulu seenaknya saja membuangmu, setelah kamu sukses, dia ngejar-ngejar kamu. Laki-laki macam apa itu?" ucap Fatimah dengan nada kesal.


"Aku tidak mau menerimanya kembali. Perasaan ini sudah lama mati."


"Lantas, bagaimana kabar istrinya yang pelakor itu?"


"Ternyata Karmila adalah Maureen."

__ADS_1


"Maureen?"


"Ya, Maureen kakak perempuanku. Ternyata dia masih hidup."


"Ja-ja-di, perempuan yang sudah merebut suamimu itu adalah saudara kandungmu sendiri? Kenapa dia setega itu?"


"Dia melakukannya karena ingin balas dendam padaku."


"Balas dendam?"


Aku membuang nafas.


"Sama seperti kak Darren, kak Mauren ternyata menyimpan rasa iri padaku karena berpikir ayah dan ibu berlaku tidak adil padanya. Terlebih lagi saat peristiwa kebakaran itu, dia merasa ditinggalkan."


"Jadi, kamu tidak tahu sama sekali jika Karmila sebenarnya kakak kandungmu sendiri?"


Aku menggeleng pelan.


"Rupanya kak Maureen selamat dari musibah kebakaran itu meskipun mengalami luka parah di bagian wajahnya. Setelah melakukan operasi, secara tidak sengaja ia bertemu dengan Fabian dan jatuh hati padanya. Saat tahu aku yang menjadi istrinya Fabian, dia pun menyusun siasat agar bisa merebut Fabian dariku sekaligus melampiaskan dendamnya.


Kak Maureen sengaja membayar orang untuk berpura-pura sebagai suaminya dan menabrakkan dirinya pada mobil Fabian dan membuatnya seolah Fabian lah yang bersalah. Wasiat dari laki-laki itulah yang kemudian membuat Fabian akhirnya menikahi Kak Maureen," ungkapku.


"Jadi, di mana Maureen tinggal sekarang?"


"Kak Maureen masih di dalam sel tahanan."


"Apa?!"


"Ya. Kak Maureen dihukum empat tahun penjara karena terlibat pertengkaran yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain."


"Rasain! Karma itu masih ada!" ucap Fatimah geram.


"Beberapa saat yang lalu aku menemuinya di lembaga pemasyarakatan. Kak Maureen sudah banyak berubah. Dia juga sudah mengenakan hijab."


"Syukurlah jika dia mendapatkan hidayah," ujar Fatimah.


Menjelang sore, aku berpamitan pada Fatimah.


"Sesekali ajak Lyra menginap di sini," ucap Fatimah.


"Maaf, belum bisa sekarang. Besok pagi ada kegiatan rekreasi di sekolahnya."


"Jangan lupa oleh-olehnya ya, La," ucap Anisa.


"Kamu mau oleh-oleh apa?" tanya Lyra.


"Ehm … apa saja yang penting kita kembalan."


"Insyaallah besok auntie belikan oleh-oleh untuk Anisa," ucapku.


"Telima kasih, Auntie."


"Kami pulang dulu, sampaikan salamku untuk kak Darren. Assalamu'alaikum."


Kami pun lantas meninggalkan rumah Fatimah.


"Bu, beli jajan untuk piknik besok ya," ucap Lyra sesaat setelah kami menaiki taksi.


"Astaghfirullahaldzim. Ibu hampir saja lupa. Untung Lyra mengingatkan."


Aku pun lantas meminta pengemudi taksi untuk menurunkan kami di depan sebuah supermarket. Persis di sebelah supermarket itu kulihat cukup banyak orang yang tengah lalu lalang di depan sebuah ruko. Demi menjawab rasa penasaranku, aku pun bertanya pada salah dua orang yang tengah mengangkat sebuah meja jahit.


"Permisi, Mas. Kalau boleh saya tahu, ruko kosong ini mau dipakai untuk apa ya?" tanyaku.


"Oh, di ruko ini akan dibuka konveksi. Dengar-dengar pemiliknya baru saja dapat rejeki nomplok."


"Apa Mas tahu siapa pemiliknya?" tanyaku.


Bersambung …


Hi, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Happy reading 🥰 🥰🥰🥰


__ADS_2