Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Saling memendam rasa?


__ADS_3

POV Author


Pagi itu Maureen batu saja membuka salonnya ketika tiba-tiba seseorang menyapanya.


"Selamat pagi, Ibu Maureen."


"Selamat pagi. Maaf, kamu siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Mungkin kita belum saling mengenal, tapi saya sangat mengenal adik Ibu."


"Maksudmu Azzura?"


"Ya, memangnya Ibu punya berapa saudara perempuan?"


"Ya, saudaraku hanya Zura."


"Ibu yakin masih menganggapnya sebagai saudara?"


"Apa maksudmu? Ya, saya akui sedari dulu hubungan kami memang tidak begitu baik, bahkan bisa dibilang semakin memburuk."


"Saya tahu semua yang anda alami, mulai dari konveksi milik suami anda yang jatuh bangkrut, suami anda yang depresi hingga di rumah sakit jiwa, hingga ibu mertua anda yang ditemukan meninggal dunia di salah satu tempat ibadah."


"Sebenarnya anda ini siapa? Kenapa anda tahu banyak tentang saya?"


"Oh ya, kita belum kenalan. Nama saya Luna, saya adalah orang yang memiliki dendam pribadi dengan Azzura."


"Dendam pribadi?"


"Ya, Azzura sudah merebut Gibran dari saya, bahkan gara-gara dia laki-laki yang begitu saya cintai itu meninggal dunia. Sampai kapan pun saya tidak akan pernah memaafkannya."


"Saya benar-benar tidak paham dengan arah pembicaraanmu."


"Apa anda tidak tahu, Azzura gagal menikah dengan Gibran karena laki-laki yang saya cintai itu meninggal dunia sehari sebelum hari pernikahan mereka."


"Ya, saya memang mendapat undangan pernikahan darinya, tapi saya malas datang."


Luna menyeringai kecut.


"Dari hal ini saya sudah bisa membaca seburuk apa hubungan kalian sebagai saudara."


"Dari kecil saya dan Zura sering mendapat perlakuan yang berbeda dari kedua orangtua saya. Itulah sebabnya saya menaruh dendam dan kebencian padanya."


"Saya lihat sekarang Azzura sudah sukses. Selain memiliki usaha konveksi yang laris manis, dia juga memiliki toko kue yang cukup terkenal. Jauh berbeda dengan anda yang hanya memiliki salon kecil yang sepi seperti kuburan begini.'


"Maaf, saya paling tidak suka jika saya dibandingkan dengannya."


"Bukan begitu maksud saya, Bu Maureen."


"Lantas?"


"Apa anda tidak ingin memiliki apa yang dia miliki sekarang?"


"Apa maksudmu?"


"Jika anda mau, saya bisa membantu anda mengambil semua yang dia miliki sekarang. Jujur, saya tidak suka melihatnya sukses apalagi bahagia."


"Ehm … tawaranmu boleh juga. Tapi, bagaimana caranya?"


Luna mendekatkan wajahnya lalu membisikkan sesuatu ke telinga Maureen.


"Bagaimana? Anda tertarik dengan rencana saya?"


"Baiklah, kamu atur saja semuanya. Untuk masalah uang kamu jangan khawatir, saya akan menyiapkannya. Satu hal yang kamu perlu tahu, saya ingin melihat Azzura hancur."


"Ya, tujuan kita memang sama. Itu sebabnya saya mengajak anda menjalin kerjasama. Ini kartu nama saya, anda bisa menghubungi saya setiap saat." Luna mengambil selembar kartu nama dari dalam dompetnya lalu menyodorkannya pada Maureen.


"Baiklah."


"Saya permisi dulu, selamat pagi."


Luna pun lantas meninggalkan salon Maureen.

__ADS_1


"Aku heran, semakin hari salonmu semakin sepi, tapi kenapa kamu masih saja bertahan?" ucap penyewa ruko yang membuka toko pakaian persis di sebelahnya.


"Memangnya apa urusanmu? Biarpun salonku sepi, aku masih bisa makan 'bukan? Karena apa? Uang di rekeningku banyak, aku membuka salon ini hanya untuk mengisi waktu luang. Nggak seperti kamu yang menjadikan toko pakaian ini sebagai sumber mencari makan."


"Saya sumpahi salonmu cepat bangkrut!"


"Ya … kita lihat saja. Siapa yang akan bangkrut, aku, atau kamu."


"Permisi, Mbak. Saya mau creambath."


"Saya mau potong rambut," ucap dua orang gadis yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


"Oh, mari silahkan masuk," ucap Maureen sembari mendorong pintu salonnya.


"Siapa bilang salonku nggak laku?!" sungut Maureen.


"Hufht!" Pemilik toko pakaian itu mendengus kesal sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Maureen.


****


Semenjak pertemuannya kembali dengan Pinkan, hubungan Keenan dengan kawan lamanya itu menjadi semakin dekat. Seperti siang itu, Pinkan mengajaknya bertemu di cafe miliknya.


"Ken, kamu tahu nggak di mana agen tiket paket wisata yang terpercaya?"


"Memangnya kenapa?"


"Aku ingin memberi kado bagi ulang tahun pernikahan ayah dan ibuku. Kalau hanya dalam bentuk barang sepertinya terlalu biasa, jadi aku memilih kado ini."


"Ehm … kebetulan aku mengenal salah satu pemilik agen tiket wisata."


"Hari ini kamu ada waktu 'kan? Jika tidak keberatan aku ingin kamu mengantarku ke agen nya langsung."


"Ya, kamu beruntung. Hari ini aku banyak memiliki waktu luang."


"Baiklah, bagaimana kalau kita pergi sekarang?"


"Boleh."


Tempat itu cukup sepi, hanya terlihat seorang pengunjung yang berada di depan loket. Setelah mendapatkan tiketnya, pengunjung itu pun beranjak dari tempat tersebut. Kinan cukup kaget saat tahu siapa pengunjung agen tersebut.


"Azzura?"


"Ehm … sebentar. Bu Pinkan ya?"


"Tidak usah memanggilku ibu. Kita seumuran 'bukan?"


"Oh, baiklah. Kamu beli tiket juga?" tanya Azzura.


"Ya, aku ingin memberi kado ulang tahun untuk ibu dan ayahku. Kamu sendiri?"


"Kebetulan sekali tujuan kita sama. Aku juga ingin memberi kado tiket paket wisata untuk kakakku dan istrinya. Oh ya, kamu sendirian saja?"


"Nggak kok, aku sama Keenan. Dia lagi terima telepon di depan."


"Keenan?"


"Ya, Keenan kawan kamu juga."


"Oh. Sepertinya kalian semakin akrab saja."


"Begitulah. Sedari kecil kami memang sudah dekat."


"Kalau begitu aku permisi dulu."


"Hei, kenapa buru-buru? Padahal saya mau mengajakmu makan siang. Sepertinya seru kalau kita makan siang bertiga."


"Maaf, sepertinya lain kali saja. Aku sudah ditinggu sopir."


"Ya sudah, kamu hati-hati, sampai ketemu lagi," ucap Pinkan.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa'aalaikumsalam."


Azzura pun lantas meninggalkan tempat tersebut. Tak diduga, ia nyaris bertabrakan dengan seseorang di depan pintu.


"Ma-ma-af."


"Zura? Kamu di sini juga?"


"Keenan? Kamu ke sini sama Pinkan ya?"


"Iya, kebetulan hari ini aku ada waktu luang. Kamu sendirian saja?"


"Aku diantar pak Amin. Ya sudah, aku pergi dulu, masih ada urusan."


"Zura! Tunggu!"


"Assalamualaikum."


"Wa'aalaikumsalam."


"Kamu tadi ketemu Zura?" tanya Keenan sesaat setelah Pinkan mendapatkan tiket.


"Ya. Aku sempat mengajaknya makan siang bareng kita, tapi dia menolak. Sepertinya dia cemburu padaku."


"Cemburu?"


"Ya, aku bisa melihatnya dari gestur tubuhnya juga dari caranya menatapku."


"Kenapa dia harus cemburu padamu?"


"Astaga. Kamu ini tidak paham atau tidak peka sih, Ken. Dari awal aku bertemu kalian, aku tahu dia merasa nyaman saat bersamamu."


"Sok tahu kamu."


"Gini-gini 'kan aku pernah kuliah jurusan psikologi. Aku bisa tahu perasaan seseorang dari gestur tubuhnya dan sorot matanya. Oh ya, memangnya perasaan kamu sendiri bagaimana?"


"Apanya yang bagaimana?'


"Kamu ada perasaan nggak sama dia?"


"Aku dan Zura hanya berteman dan rekan bisnis."


"Kamu yakin? Tapi, aku melihat ada sesuatu dari caramu memandangnya."


"Ah! Jangan bicara yang tidak-tidak."


"Kamu suka ya sama Zura?"


"Sudah selesai 'kan beli tiket nya? Ayo kita makan siang." Keenan berlalu dari hadapan Pinkan.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Kamu suka 'kan sama Zura? Ken! Ken! Cie … pipinya memerah."


"Berhenti meledekku, atau kita nggak jadi makan siang."


"Dia baik kok, cantik, solehah lagi. Aku setuju kalau kamu sama dia."


"Astaga. Pinkan. Itu mobil siapa?"


Pinkan pun sontak menoleh ke arah mobil yang berada di dekatnya itu.


"Oh, ma-ma-af, Pak. Saya salah mobil," ucapnya pada pemilik mobil yang juga berwarna hitam itu.


"Nyerocos terus sih, jadi nggak fokus 'kan?"


"Eh, gimana yang tadi? Kamu suka nggak sama Zura?" Pinkan terus mengulangi pertanyaannya.


"1 … 2 … 3. Kalau nggak masuk mobil aku tinggal."


"Ken. Kamu suka 'kan sama Zura?"


Keenan memelototi kawan masa kecilnya itu.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2