Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Berkesan


__ADS_3

Sore menjelang petang.


"Astaghfirullahaldzim, Zura. Apa yang kamu lakukan, Nak?" Kenapa kamarmu seperti kapal pecah begini?" Ibu yang baru saja memasuki kamarku menggeleng heran lantaran mendapati isi lemariku kini telah berpindah di atas tempat tidur.


"Aku-aku bingung memilih baju mana yang mau kupakai malam nanti."


Ibu mengulas senyum.


"Jadi itu masalahnya? Kenapa kamu harus bingung? Pakaian-pakaian ini semuanya bagus. Kamu sendiri 'bukan yang mendesain modelnya?"


"Justru itulah, aku merasa bingung baju mana yang harus kupilih."


Dari puluhan pakaian yang didominasi gamis itu mengambil sebuah gamis berwarna peach.


"Kamu pasti terlihat manis kalau pakai yang ini," ucapnya.


"Aku ini bukan gadis lagi. Lagipula aku tidak hanya makan malam berdua saja. Tidak perlu yang berbau manis-manis."


"Kamu ini bagaimana? Justru itulah. Kita diundang makan malam oleh ibunya Gibran. Sudah pasti ada ayahnya juga. Kamu harus berpenampilan sebaik mungkin di hadapannya. Siapa tahu jika kedua orangtua Gibran menyukai penampilanmu, mereka akan melamarmu malam ini juga."


"Jangan bicara yang tidak-tidak. Gibran sendiri yang mengatakan jika undangan makan malam nanti hanya sebagai ucapan terima kasih karena aku telah menolong ibu Anita."


"Ya sudah, cepat tentukan pilihanmu. Ibu dan Lyra tunggu di ruang tamu."


Beberapa saat kemudian.


"Wah, Ibu cantik sekali," puji Lyra saat aku keluar dari dalam kamarku.


"Apa ibu bilang, kamu terlihat manis dengan gamis ini," ujar ibu.


"Ibu dan Nenek mau mengajak Lyla kemana?" tanya puteri kecilku.


"Kita diundang makan malam Sayang."


"Di mana?"..


"Ehm … ehm … di rumah paman Gibran."


"Paman Giblan itu yang wajahnya sama dengan Nan-nan kan?


Nan-nan yang dimaksud Lyra adalah Keenan.


"Ya, paman Keenan adalah adiknya paman Gibran."


"Paman Giblan baik banget ya, Bu. Mengajak kita makan malam di lumahnya."


Kutanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.


"Oh ya, mana ibu Kinanti?"


"Ibu ada di dalam kamarnya. Aku sudah mengajaknya tapi beliau menolak."

__ADS_1


"Ya sudah, kita berangkat bertiga saja."


Setelah berpamitan pada bi Ami, kami bertiga pun melangkah keluar meninggalkan rumah.


Ketika di tengah perjalanan tiba-tiba ibu meminta pak Amin untuk berhenti di depan sebuah cafe.


"Kenapa Ibu meminta berhenti di sini? Makan malam kita bukan di cafe," ucapku.


"Coba lihat meja di sebelah sana itu. Bukankah itu Silvia? Tapi tunggu! Siapa laki-laki yang duduk di sampingnya? Sepertinya dia bukan Fabian.


Aku pun lantas menurunkan sedikit kaca jendela mobilku lalu mengarahkan pandanganku pada tempat duduk yang dimaksud ibu.


Dari tempat dudukku aku bisa melihat dengan cukup jelas siapa laki-laki yang duduk berhadapan dengan Silvia. Benar kata ibu, laki-laki itu bukanlah Fabian.


Aku semakin penasaran dengan keduanya ketika si laki-laki mulai menunjukkan sikap romantisnya. Tangan kanannya memegang sendok sementara tangan lainnya menggenggam tangan Silvia.


"Laki-laki itu pasti selingkuhannya Silvia," ucap ibu.


"Yang kutahu sedari dulu Silvia tergila-gila pada Fabian. Tidak mungkin dia selingkuh."


"Kamu lihat sendiri 'kan mereka berdua begitu mesra. Rasanya mustahil jika hubungan mereka hanya sekedar teman biasa."


Aku membuang nafas.


"Sudahlah, itu bukan urusan kita. Pak, jalan lagi."


Lima belas menit kemudian kami tiba di rumah Gibran. Tidak banyak yang berubah dari rumah bertingkat dua itu. Warna cat nya pun masih sama seperti saat pertama kali aku dibawa ke rumah ini karena Keenan menemukanku tak sadarkan diri di depan klinik.


"Apa-apaan kamu, Zura. Kenapa belum masuk rumahnya saja sudah deg-degan begini?" rutukku.


"Selamat malam, Mbak Zura, Ibu, Adek," sambut mbok Marni yang berdiri di depan pintu utama.


"Selamat malam," ucapku dan ibu serempak.


"Mari ikut saya. Tuan, Nyonya, mas Keenan dan mas Gibran sudah menunggu di meja makan."


Aku menggandeng tangan Lyra lalu mengikuti mbok Marni masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum," sapaku ketika aku sudah berada di ruangan itu. Sontak ke empat orang itu menoleh ke arah kami.


"Waalaikumsalam."


Tanpa harus menunggu perintah, Lyra menyalami ke empatnya secara bergantian.


"Kamu pasti Lyra 'kan? Sudah besar ya sekarang," ucap Keenan seraya mengusap kepalanya yang tertutup kain hijab. Sama sepertiku, malam ini puteri semata wayangku itu juga mengenakan gamis berwarna peach.


"Iya, Paman Nan-Nan. Lyla sudah sekolah."


"Begitu ya."


"Nan-Nan?"

__ADS_1


"Itu panggilan khusus Lyra untuk Keenan," jelasnya.


"Telima kasih Paman Giblan, sudah mengundang kami makan malam," ucap Lyra.


"Lyra anak yang manis dan sopan. Kamu berhasil mendidiknya dengan baik," ujar pak Yudha.


"Seperti peribahasa, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Azzura orang baik, tentu saja putrinya juga baik." Bu Anita menimpali.


Kutanggapi ucapan sepasang suami istri itu dengan senyum tipis.


"Oh ya, bagaimana keadaan Ibu Anita sekarang? Apa Ibu sudah memeriksakan diri ke rumah sakit?" tanyaku.


"Kenapa istri saya harus ke rumah sakit? Sakit perut yang dialaminya kemarin hanya karena asam lambungnya naik. Bukan begitu, Sayang?"


"Ehm … ehm …"


"Sebenarnya ada apa, Bu? Ibu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari kami 'kan?" desak Keenan.


"Dokter yang memeriksa bu Anita kemarin mengatakan ibu harus melakukan pemeriksaan ke rumah sakit sebab beliau khawatir sakit perut yang dialaminya bukan hanya sakit perut biasa, melainkan gejala suatu penyakit," ungkapku.


"Kenapa Ibu merahasiakan hal sepenting ini dari kami?" protes Gibran.


"Ibu … ibu hanya tidak ingin membuat kalian khawatir."


"Jadi, Ibu bermaksud mengabaikan saran dari dokter itu?"


"Besok kita ke rumah sakit!" tegas Yudha.


"Aku-aku takut, Sayang."


"Apa yang kamu takutkan? Mencegah lebih baik daripada mengobati 'bukan? Aku tidak mau ada penyesalan di kemudian hari," ungkap Yudha.


"Besok pagi kita Ibu periksa ke rumah sakit, titik!" tegas Gibran.


"Kalian kompak menyerangku, lalu aku bisa apa," gerutu bu Anita.


"Mereka bersikap begitu karena menyayangi Ibu. Mereka takut Ibu kenapa-napa," ucapku. Wanita itu pun lantas menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Mari kita mulai makan malam nya," ucap pak Yudha.


"Lyra mau makan sama apa?" tanyaku.


"Ayam goleng."


Setelah menuangkan nasi ke dalam sebuah piring, aku pun hendak meraih sepotong ayam goreng. Namun di saat bersamaan tangan Gibran juga mengarah ke piring yang sama. Untuk pertama kalinya tangan kami pun bersentuhan.


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"

__ADS_1


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰 🥰🥰🥰


__ADS_2