
"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan Rayyan?" Kak Maureen balik bertanya.
"Tolong Kakak jawab dengan jujur," desakku.
"Sebenarnya … sebenarnya …" Tangis kak Maureen kembali pecah.
"Apa benar Rayyan bukan anak kandung kalian?"
"Aku-aku, …Selain telah merusak rumah tanggamu dan Fabian, ada satu kesalahan lagi yang telah kuperbuat."
"Apakah dugaanku benar, jika Rayyan itu, …"
Kak Maureen tampak menghela nafas berat sebelum menjawab pertanyaanku.
"Dugaanmu benar."
"Ja-ja-di, Rayyan, …"
"Rayyan bukan anak kandungku dan mas Fabian."
"Astaghfirullahaldzim. Lantas, di mana anak kandung kalian?"
Kak Maureen kembali menundukkan wajahnya.
"Di mana anak kandung kalian?" desakku.
"Aku membayar perawat untuk menukar bayi kami dengan bayi lain."
"Kenapa Kakak melakukan itu?"
"Ibu mana yang mau terima jika anaknya terlahir cacat?"
"Cacat?"
"Ya. Bayi kami memiliki kekurangan fisik pada bagian jarinya. Jari kanannya tidak lengkap, sementara jari kirinya berlebih."
Tentu saja pengakuan yang baru saja kudengar dari mulut kak Maureen membuatku tercengang.
"Astaghfirullahaldzim. Apa Kakak tahu, apa yang Kakak lakukan itu adalah dosa besar?"
"Apa kata orang jika anakku cacat? Seumur hidup dia akan menjadi bahan ejekan orang-orang di sekitarnya."
"Tidak ada pembenaran untuk menukar bayi. Apa yang Kakak juga merupakan salah satu perbuatan melanggar hukum."
"Aku tahu apa yang kulakukan salah. Tapi hanya cara itulah yang bisa kulakukan demi nama baik keluargaku."
"Lantas, apa Kakak pernah berpikir bagaimana nasib anak Kakak yang Kakak buang itu? Bagaimana jika ternyata dia mengalami nasib yang kurang beruntung? Seumur hidup anak Kakak dan keluarga barunya akan hidup dalam kebohongan."
"Aku sadar apa yang kulakukan adalah perbuatan dosa. Setiap hari aku berdzikir meminta ampunan pada Allah."
"Apa Fabian tahu hal ini?"
"Mas Fabian melarangku untuk menukar bayi kami. Tapi aku bersikeras melakukannya."
"Ternyata ini alasannya mengapa Fabian dengan begitu mudahnya memberikan Rayyan pada orang lain. Dia memang bukan anak kandung kalian."
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika aku keluar dari tempat ini aku akan mencari keberadaan Rayyan dan menyerahkannya kembali pada ibu kandungnya. Insyaallah aku sudah ikhlas menerima anak kandungku."
__ADS_1
"Syukurlah kalau Kakak sudah menyadari kesalahan Kakak. Oh ya, dari ciri-ciri anak Kakak yang sudah Kakak sebutkan tadi, sepertinya aku tahu di mana anak Kakak."
"Sungguh?"
"Ya. Dia salah satu murid di sekolah Lyra. Tapi, untuk memastikan kebenarannya, ini adalah hal yang cukup sulit. Kakak tidak pernah tahu wajah ibu bayi itu 'bukan?"
Kak Maureen tampak berpikir sejenak hingga tiba-tiba saja dia menyebutkan nama seseorang.
"Suster Siska."
"Siapa Suster Siska?"
"Aku masih ingat namanya. Perawat itu yang membantuku saat proses persalinan. Dia juga yang kubayar untuk menukar bayiku yang terlahir cacat dengan bayi laki-laki lain yang memiliki fisik sempurna."
"Kebetulan ada seorang kawanku yang juga bekerja sebagai perawat di rumah sakit MD. Dia pasti kenal dengan suster Siska. Insyaallah aku akan membantu Kakak mencari di mana keberadaan anak Kakak itu. Semoga Allah memudahkan niat baikku."
"Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Setelah apa yang kulakukan padamu, kamu masih saja bersikap baik, bahkan mau membantuku mencari di mana keberadaan anakku, juga bayi yang sudah Fabian titipkan pada pengemudi taksi itu."
"Aku sudah melupakan semua yang sudah terjadi di antara kita. Insyaallah aku sudah ikhlas memaafkan Kakak. Jika nanti aku sudah menemukan di mana keberadaan anak Kakak, aku akan mengajaknya tinggal bersamaku. Kakak bisa menjemputnya setelah Kakak bebas nanti."
"Terima kasih, Zura. Aku menyesal pernah menyakitimu. Ternyata hatimu benar-benar tulus," ucap kak Maureen. Kutanggapi ucapan itu dengan senyum di bibir.
"Ya sudah, hari ini juga aku akan menemui Mayra di rumah sakit. Semoga aku bisa mendapatkan titik terang di mana anak Kakak. Apakah dia benar-benar kawan sekolah Lyra atau bukan."
"Sekali lagi terimakasih. Aku yakin Allah akan membalasmu dengan kebaikan yang berkali lipat," ujar kak Maureen.
"Aamiin."
"Aku pergi dulu, jaga diri Kakak baik-baik. Assalamu'alaikum." Aku pun lantas meninggalkan tempat itu.
"Kita ke rumah sakit, Pak," ucapku pada pak Amin."
Aku pun tersenyum.
"Alhamdulillah saya sehat, Pak. Saya ke rumah sakit lantaran harus menemui seseorang," ucapku. Sopir pribadiku itu mengangguk paham.
Lima belas menit kemudian kami tiba di rumah sakit. Alhamdulillah, saat itu sahabatku Mayra mendapat giliran shift pagi.
"Masyaallah, Zura. Lama tidak bertemu, sekarang kamu beda banget," ucap Mayra.
"Tidak ada yang berubah kok May, aku masih Azzura yang kamu kenal dulu," ujarku.
"Jelas beda. Dulu kemana-mana kamu selalu pakai taksi. Sekarang sudah punya mobil bagus, pakai sopir pribadi pula."
"Alhamdulillah, May. Ini berkat do'a kamu juga."
"Aku ikut senang sekarang hidup kamu sukses. Kamu bisa membuktikan pada dunia jika kamu bisa memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dibandingkan saat kamu masih bersama Fabian."
"Alhamdulillah."
"Oh ya, kamu ada perlu apa mencariku?" tanya Mayra.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."
Tiba-tiba Mayra memandang arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Saatnya makan siang. Bagaimana jika kita mengobrol di kantin? Kamu juga pasti lapar 'kan?"
__ADS_1
Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban setuju.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Ra?" tanya Mayra di sela makan siang kami.
"Ehm … sebenarnya maksud kedatanganku ke tempat ini adalah mencari suster Siska."
"Memangnya kamu kenal dengan suster Siska?"
"Aku sama sekali tidak mengenalnya."
"Lantas, kenapa kamu mencarinya?"
"Ada hal penting yang berkaitan dengan suster Siska."
"Sebenarnya ada apa sih, Ra? Jangan membuatku bingung. Kamu bilang tidak kenal suster Siska, tapi kenapa kamu mencarinya?"
"Ehm … sebenarnya aku sedang menyelidiki sesuatu."
"Kamu seperti detektif saja." Mayra terkekeh.
"Apa suster Siska masih bekerja di sini?" tanyaku.
"Suster Siska sudah cukup lama mengundurkan diri dari rumah sakit ini. Alasannya dia ingin fokus pada usaha barunya."
Tentu saja jawaban yang baru saja terlontar dari mulut Mayra membuatku kecewa. Bagaimana aku bisa mencari tahu keberadaan anak kak Maureen jika suster Siska tidak lagi bekerja di sini?
"Sebenarnya ada apa, Ra?" desak Mayra.
"Ini berhubungan dengan anak Fabian dan Maureen.
"Siapa Maureen?"
"Aku baru tahu belakangan jika Karmila yang selama ini kukenal ternyata adalah kakak kandungku, Maureen yang sudah bertahun-tahun terpisah denganku. Rupanya dia selamat dari musibah kebakaran itu, dan melakukan operasi pada bagian wajahnya."
"Hah?! Kamu tidak bercanda kan 'Ra?"
"Kamu kenal aku 'bukan? Aku bukan tipe orang yang suka bercanda."
"Jahat sekali kakakmu itu. Tega-teganya ia masuk ke dalam kehidupan rumah tangga adik kandungnya, lalu menghancurkannya. Orang sepertinya tidak pantas dimaafkan."
Aku tersenyum tipis.
"Setiap orang pernah berbuat kesalahan 'bukan? Jika Allah saja maha pemaaf, kenapa aku yang hanya ciptaannya harus menyimpan dendam dan kebencian?"
"Kalau aku yang jadi kamu, aku akan membalasnya. Tidak peduli dia keluargaku sekalipun."
"Jadi, bagaimana ini? Suster Siska tidak lagi bekerja di sini. Bagaimana aku bisa mendapatkan informasi tentang anak kak Maureen?" tanyaku.
"Anak kak Maureen? Maksud kamu apa, Ra?" tanya Khumayra penasaran.
Bersambung …
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
🙏🙏
Happy reading…