Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kesialan Karmila


__ADS_3

"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Freddy, kamu harus bertanggung jawab!" seru si perempuan.


"Kalau kamu bisa jaga mulut, hal ini tidak akan terjadi!"


"Kamu saja yang gampang naik darah."


"Dalam keadaan begini apa kalian masih mau melanjutkan berdebat? Bu Wati, saya minta tolong panggil warga untuk membantu saya membawa Ferdy ke rumah sakit. Badannya dingin sekali, saya takut terjadi padanya."


"Bapak tidak usah berlebihan. Masa terbentur tembok saja bisa mati," tukas Mila.


"Saya melihat sendiri kepala Freddy membentur tembok dengan begitu keras dan dia pingsan seketika. Bukan tidak mungkin dia menderita luka di bagian dalam kepalanya," ucap pria yang kerap disapa pak Seto itu.


Beberapa saat kemudian Bu Wati kembali ke pos security bersama dua orang warga penghuni perumahan.


"Kita bawa Freddy ke rumah sakit dan Ibu Mila ditahan sementara di rumah kepala pak Ridwan. (Orang yang disegani di komplek perumahan)," ucap salah satu warga.


"Kenapa saya harus ditahan? Saya tidak bermaksud mencelakai Freddy. Saya hanya refleks ingin membalas serangan bu Wati."


"Kamu yang lebih dulu menyerang saya. Kenapa kamu jadi menuduh saya yang menyerangmu duluan?" protes Bu Wati.


"Kalau Ibu bisa menjaga ucapan, saya tidak mungkin marah."


"Memang kamu saja yang dasarnya pemarah dan mudah tersinggung. Tadi 'kan saya hanya bilang jadi orang jangan sombong-sombong. Akibatnya begini 'kan? Tuhan yang memberi teguran langsung."


"Saya setuju dengan usulan Bapak. Sebaiknya bu Mila ditahan di rumah pak Ridwan sampai semuanya jelas. Jika terjadi sesuatu pada Freddy, minimal dia tidak akan kabur ataupun melarikan diri." Warga lainnya menimpali.


"Saya punya bayi di rumah. Kalau saya ditahan, siapa yang akan menyusuinya?" 


Warga yang berada di tempat itu pun lantas berunding.


"Baiklah, karena Bu Mila masih punya bayi, kami izinkan Ibu pulang tapi dengan satu syarat, Ibu jangan coba-coba kabur dari masalah ini. Kalau Ibu mempersulit masalah ini, kami tidak segan-segan melaporkan Ibu ke pihak yang berwajib," ucap salah satu warga.


Sementara itu Fabian yang merasa Karmila sudah terlalu lama meninggalkan rumah, akhirnya memutuskan menyusulnya ke pos security. Alangkah terkejutnya saat mendapati ada banyak warga berkumpul di sana.


"Nah, itu dia suaminya datang," ucap Bu Wati. Sontak beberapa pasang mata yang berada di tempat itu pun menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Maaf, ada apa ini?" tanyanya.


"Ajari istrimu ini tata krama. Bagaimana seharusnya bersikap pada orang yang lebih tua," ucap bu Wati.


"Maaf, maksud Ibu apa bicara begitu?"


"Tadi istrimu menyerang saya hanya karena saya bilang jadi orang jangan sombong-sombong. Dia juga yamarah-marah sama Freddy. Dia menuduhnya tidak becus bekerja karena membiarkan pengemis dan perampok memasuki kompleks perumahan ini."


"Kenyataannya memang begitu. Seharusnya Freddy tidak membiarkan sembarangan orang masuk ke dalam kompleks perumahan ini. Karena kecerobohannya, saya harus menjadi korban perampokan bermodus gendam hingga membuat harta benda milik saya raib," ungkap Fabian.


"Saya belum selesai bicara, Pak. Freddy ini mulai bertugas pukul delapan malam. Sementara security yang bertugas pagi hingga sore tadi berhalangan hadir karena tengah sakit. Jadi, saya rasa wajar siapapun bisa masuk ke dalam komplek perumahan ini."


Tiba-tiba pandangan Fabian tertuju pada Freddy yang kini terbaring di atas bangku panjang dengan kepala berlumuran darah.


"Kenapa dengan Freddy? Sepertinya dia terluka."


"Freddy terluka karena perbuatan istrimu!" seru bu Wati.


"Mana mungkin?"


"Tadinya kami berniat menahan bu Mila di rumah pak Ridwan, namun kami urung melakukannya karena dia memiliki bayi yang masih begitu kecil."


"Kami harap Pak Fabian sebagai suami bu Mila tidak mempersulit masalah ini dengan cara melindungi ataupun menyuruhnya kabur. Sebab, jika sampai terjadi sesuatu pada Freddy, bu Mila harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."


"Baik, Pak. Saya berjanji tidak akan mempersulit masalah ini apalagi menyuruh istri saya kabur."


Warga pun lalu membawa Freddy menuju rumah sakit sementara Fabian dan Mila kembali ke rumah mereka.


"Masalah satu belum selesai, sekarang kamu tambah lagi masalah baru. Apa kamu tidak punya otak 'hah?!" seru Fabian saat keduanya tiba di rumah.


"Siapa juga yang tidak tersinggung kalau dapat masalah justru disyukurin tetangga."


"Begitu saja tersinggung. Bagaimana kalau Freddy sampai kenapa-napa? Bukan tidak mungkin kamu ditangkap dan dipenjara."


"Aku 'kan tidak sengaja mendorong Freddy. Jadi mereka tidak bisa melaporkan aku ke kantor polisi."

__ADS_1


"Kalau sampai Freddy meninggal, tetap saja kamu bersalah karena kamu yang membuat kepalanya terbentur dinding. Menghilangkan nyawa orang lain itu hukumannya berat meski tanpa disengaja sekalipun."


"Oh, aku tahu sekarang. Mas nyumpahin aku masuk penjara biar Mas bisa nikah sama Silvia. Begitu 'kan?"


"Aku hanya berbicara kemungkinan terburuk yang mungkin kita hadapi."


"Sudah lah, aku lelah dan mengantuk."


Mila berlalu dari hadapan Fabian lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Dasar keras kepala!" umpat Fabian.


*****


Keesokan paginya.


Fabian baru saja melangkah keluar dari rumahnya ketika beberapa warga mendatanginya. Dua orang di antaranya adalah polisi.


"Selamat pagi," sapa salah satu polisi.


"Selamat pagi. Maaf, ada apa ini? Kenapa kalian beramai-ramai datang ke rumah saya?"


"Di mana bu Mila?" tanya salah satu warga.


"Ada di dalam."


"Apa saya bisa minta tolong panggilkan istri Bapak?" 


"Astaghfirullah. Ada apa ini? Kenapa mereka mencari Mila. Jangan-jangan, …" 


Bersambung…


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Happy reading…


__ADS_2