
Kini aku tahu alasan ketiga karyawanku tidak masuk bekerja tanpa keterangan selama lebih dari tiga hari. Mereka tidaklah sakit ataupun berkepentingan pribadi, akan tetapi mereka berhenti dari konveksi ku dan berpindah di konveksi milik Fabian.
"Ibu tidak habis pikir, kalian itu sudah hidup masing-masing, tapi kenapa Fabian masih saja mengganggu hidupmu. Setelah mengambil pelanggan konveksi kita, sekarang dia juga mengambil beberapa karyawan kita," ucap ibu.
Aku mengulas senyum.
"Ibu percaya 'bukan? Rezeki kita sudah tertakar dan tidak akan mungkin tertukar. Mereka pasti memiliki alasan tersendiri Kenapa mereka meninggalkan konveksi kita dan memilih bergabung dengan konveksi milik Fabian."
"Bagaimana kalau pelanggan kita benar-benar meninggalkan kita? Usaha kita bisa jatuh bangkrut, Nak?"
Jujur, aku pun memiliki kekhawatiran yang sama dengan ibu. Pun aku berusaha bersikap tenang di hadapannya.
"Insyaallah hal itu tidak akan terjadi, Bu. Oh ya. Hari ini aku akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri ke dokter. Jika aku belum pulang, tolong Ibu jemput Lyra di sekolahnya," ucapku.
Ibu mengangguk paham.
Aku baru berjalan beberapa langkah meninggalkan teras rumahku, di saat itulah kulihat dua orang gadis berusia dua puluh tahunan berjalan mendekat ke arahku.
"Assalamu'alaikum, Bu," sapa mereka bersamaan.
"Waalaikumsalam. Maaf, kalian ada perlu apa?"
"Perkenalkan, nama saya Rini, dan ini kawan saya, Ayu. Maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar pekerjaan sebagai penjahit."
Dari mana mereka tahu jika di konveksi ini sedang membutuhkan tenaga penjahit? Jangan-jangan, …ah! Kenapa aku jadi berprasangka buruk begini? Bukankah aku seharusnya bersyukur karena mendapat penjahit pengganti bu Mira dan Rani? Yang artinya aku tidak memiliki kekurangan tenaga penjahit lagi.
"Apa sebelumnya kalian pernah bekerja?" tanyaku.
Kedua gadis itu saling memandang sebelum menjawab pertanyaanku.
"Ehm … kami-kami pernah bekerja di konveksi X."
"Apa saya boleh tahu alasan kalian berhenti bekerja dari konveksi itu." tanyaku lagi.
"Ehm … konveksi tempat kami kerja dulu bangkrut, Bu."
"Begitu, ya. Baiklah, saya terima kalian bekerja di konveksi ini. Mari saya tunjukkan di mana ruang produksi."
Aku pun lantas mengajak kedua gadis itu ke dalam ruang produksi.
"Seto."
"Ya, Bu."
"Mereka karyawan baru di konveksi ini. Namanya Rina dan Ayu. Tolong kamu ajarkan apa saja yang harus mereka kerjakan di tempat ini."
"Baik, Bu."
"Saya harus pergi sekarang."
Aku meninggalkan ruang produksi dan berjalan menuju mobilku yang berada di halaman rumah.
Loh, mana pak Amin? Biasanya setiap pagi dia selalu membersihkan mobil.
"Kamu kok balik lagi, Nak? Apa ada yang tertinggal?" tanya ibu yang tengah berjalan menuju ruang produksi.
"Tidak, Bu. Pak Amin tidak ada di halaman rumah. Aku akan mendatangi kamarnya. Oh ya, Bu. Ada dua orang karyawan baru yang mulai bekerja hari ini. Tolong Ibu bantu mereka jika ada hal yang mereka kurang tahu," ucapku.
"Kenapa kamu begitu mudah menerima karyawan baru?" protes ibu.
"Sebelumnya mereka bilang pernah bekerja di konveksi X. Jadi kurasa mereka sudah memiliki pengalaman menjahit. Lagipula konveksi ini memang sedang membutuhkan karyawan pengganti."
"Ya sudah, ibu ke ruang produksi dulu."
Setelah ibu berlalu dari hadapanku, aku pun melangkahkan kakiku menuju kamar pak Amin.
"Pak … apa Pak Amin belum bangun?" tanyaku dari luar pintu kamarnya.
"Dari tempatku berdiri aku bisa mendengar suara pak Amin yang sedang menggigil. Karena khawatir, aku pun masuk begitu saja ke dalam kamar tersebut.
"Pak Amin kenapa?" tanyaku.
__ADS_1
"Rasanya dingin sekali, Bu," jawabnya.
"Astaghfirullahaladzim!" Aku tersentak kaget saat meletakkan punggung tanganku di keningnya.
"Badan Pak Amin panas, sepertinya Pak Amin demam. Tunggu sebentar, saya ambilkan obat."
Aku beranjak dari kamar itu lalu menuju ruang dapur di mana tempat bi Ami biasanya menyimpan kotak P3K.
"Ada obat demam Bi?" tanyaku pada asisten rumah tanggaku yang sedang membersihkan dapur.
"Ibu sakit?" tanyanya.
"Bukan saya Bi, tapi Pak Amin. Tolong Bibi buatkan teh hangat lalu antarkan ke kamarnya."
"Baik, Bu."
Setelah mengambil beberapa butir obat demam, Aku meninggalkan dapur dan kembali ke kamar Pak Amin.
"Pak Amin istirahat saja," ucapku sesaat setelah dia meminum obat demam.
"Tapi, Bu. Siapa yang akan mengantar Ibu? Hari ini Ibu mau ke rumah sakit 'bukan?"
Aku mengulas senyum.
"Tidak apa, Pak. Saya bisa naik taksi."
"Hati-hati, Bu."
"Baik, Pak. Saya permisi dulu, assalamualaikum."
Aku menaiki sebuah taksi yang akan mengantarku menuju rumah sakit.
20 menit kemudian aku tiba di rumah sakit.
Aku baru saja mengambil nomor antrean ketika tiba-tiba seseorang menyapaku.
"Zura."
"Sudah cukup lama kita tidak bertemu.
Bagaimana kabarmu, Ra?" tanyanya.
"Alhamdulillah kabarku baik, kamu sendiri?"
"Kamu lihat sendiri kan masih begini-begini saja." Kawanku saat SMA itu terkekeh.
"Kamu sendirian saja Ra?"
"Ya aku sendirian."
"Berarti kamu yang sakit. Kenapa tadi kamu bilang baik-baik saja?"
Aku mengulas senyum.
"Bukankah semua yang Allah beri harus kita terima dan kita syukuri? Begitupun dengan sakit. Sakit adalah penggugur dosa-dosa kita," ujarku.
"Ngomong-ngomong kamu sakit apa, Ra? nggak serius kan?"
"Dulu saat Lyra masih bayi aku sering merasakan mual yang teramat dan berulang. Setelah sekian lama hilang entah kenapa belakangan ini rasa itu kembali muncul."
"Semoga kamu baik-baik saja, Ra."
"Aamiin."
"Oh ya, bagaimana kabar ibu mertuamu? Dia masih tinggal bersamamu 'bukan?"
Aku menggeleng pelan.
"Tidak aku hanya tinggal bersama ibuku, Lyra, dan Fina.
"Lantas, ibu mertuamu sekarang tinggal di mana?"
__ADS_1
"Beliau tinggal bersama anak laki-lakinya, Fabian."
"Bukannya sudah enak ya tinggal bersamamu di rumah yang besar, kenapa dia harus tinggal bersama Fabian di rumah kontrakannya yang sempit, Ra?"
"Fabian sekarang tidak lagi tinggal di tempat kontrakan yang sempit. Kudengar dia sudah menjadi seorang pengusaha konveksi sepertiku."
"Begitu banyak jenis usaha, kenapa yang dipilih konveksi? Pasti dia hanya ingin menyaingi usahamu."
"Kurasa setiap orang berhak untuk membuka usaha manapun yang diinginkannya."
"Tunggu dulu. Memangnya Fabian punya uang dari mana untuk membeli rumah dan membuka usaha, Ra?"
Sekali lagi aku mengulas senyum.
"Entahlah, aku sudah bukan siapa-siapanya lagi, jadi aku tidak berhak tahu apapun tentangnya."
"Jangan-jangan dia memelihara tuyul atau pesugihan."
"Astaghfirullahaladzim. Kita tidak boleh berprasangka buruk pada orang lain, May. Apalagi jika kita menuduhnya tanpa bukti. Sama saja jatuhnya fitnah."
"Bukan begitu, Ra . Aku heran saja. Bukannya dia jatuh bangkrut? Kenapa tiba-tiba dia bisa membuka konveksi dan mempunyai rumah baru?"
Obrolan kami terhenti saat seorang dokter memanggil Mayra.
"Suster Mayra."
"Maaf, Ra. Aku tinggal dulu. Aku harus mendampingi dokter Adam di ruang operasi."
"Tidak apa, jika libur nanti bertandanglah ke rumahku. Aku juga ingin mengobrol banyak denganmu," ucapku.
"Ok, Bu pengusaha."
"Ah jangan begitu."
"Memangnya kenapa? Kamu memang sudah jadi pengusaha 'kan?"
"Suster Mayra."
"Cepat sana, temani dokter tampan itu di ruang operasi," godaku yang ditanggapi Mayra
dengan memberikan cubitan kecil di bagian perutku. Tidak berselang lama Mayra pun berlalu dari hadapanku.
Aku baru saja duduk di salah satu bangku di ruang tunggu. Di saat itulah muncul seorang pria yang usianya sudah lebih dari 60 tahun tengah mendorong kursi roda dengan tangannya sendiri. Karena terlihat kesulitan aku pun membantunya.
"Bapak sendirian saja?" tanyaku.
"Tidak, Nak. Aku bersama putriku, dia sedang ke toilet. Ehm … apa aku boleh minta tolong, Nak?"
"Tentu saja. Bapak minta tolong apa?"
"Tiba-tiba aku merasa haus."
"Oh, tunggu sebentar. Saya ambilkan minuman di sebelah sana."
Aku beranjak dari tempat dudukku dan menuju sebuah galon yang berada di sudut ruangan.
Aku baru saja membalikkan badanku usai memenuhi sebuah gelas dengan air putih. Di saat bersamaan seorang perempuan juga melintas. Dia berjalan sambil memainkan ponselnya. Tabrakan pun tak terhindarkan. Akibatnya air minum yang kubawa tumpah dan membasahi pakaiannya.
"Dasar bod*h! Apa membawa segelas air saja tidak memiliki tenaga 'hah!?"
"Mbak yang kurang hati-hati, berjalan sambil memainkan ponsel."
Perempuan itu pun lantas memandang ke arahku. Detik kemudian netra kami pun bertemu. Aku cukup kaget saat memandang wajahnya.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰