
Masih di sambungkan telepon.
[Kamu siapa? Beraninya mengangkat telepon suami saya!]
Tiba-tiba panggilan terputus.
"Apa aku salah menekan nomor telepon?" gumamku.
Sekali lagi aku menekan tombol-tombol di telepon meja itu. Tidak lama berselang kudengar suara seseorang dari seberang sana. Aku hafal betul suara bariton itu.
[Assalamu'alaikum. Maaf, dengan siapa saya berbicara?]
[Ini aku, Mas. Azzura]
[Loh. Kamu pake telepon siapa?]
[Aku pakai telepon rumah sakit. Sekarang ibu di rumah sakit]
[Kenapa kamu membawa ibu ke rumah sakit tanpa seizinku? Tadi mbok Darmi sudah sampai di rumah 'kan?]
[Bukan saat yang tepat untuk berdebat. Mas sekarang juga datang ke rumah sakit!]
"Klik!" Kuakhiri percakapan, lalu kuletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya.
"Terima kasih, Bu," ucapku pada petugas administrasi. Perempuan yang usianya tidak terpaut jauh dariku itu menganggukkan kepalanya lalu tersenyum.
Siapa suara perempuan yang kudengar tadi? Apa mas Fabian sebenarnya tidak sedang berada di kantor? Apa dia justru berada di rumah Mila?
"Bagaimana, Mbak? Apa nak Bian bisa dihubungi?" tanya pak Burhan saat aku kembali di depan ruang pemeriksaan.
"Ehm, sudah, Pak. Sebentar lagi mas Fabian ke sini."
"Maaf, saya harus pergi sekarang," ucap pria berbaju batik itu.
"Terima kasih untuk bantuannya, Pak," ucapku.
"Sama-sama. Sebagai tetangga kita memang harus saling menolong," ujarnya.
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Aku masuk ke dalam ruang perawatan. Kulihat ibu di dalam sana tengah merintih kesakitan.
"Sabar ya Bu, sebentar lagi mas Fabian ke sini," ucapku.
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Namun mas Fabian tak kunjung datang. Sementara dokter berulang kali bertanya padaku apakah ibu jadi dioperasi atau tidak.
"Mas Bian… di mana kamu, Mas?" lirihku.
"Bagaimana, Bu? Apa sudah ada keputusan? Pasien harus secepatnya mendapatkan tindakan," ucap dokter.
Aku menghela nafas panjang. Untuk pertama kalinya aku mengambil tanpa persetujuan mas Fabian. Bismillah, aku melakukan ini untuk ibu mertuaku. Wanita yang begitu kukasihi layaknya ibu kandungku sendiri. Untuk biaya operasi, aku ikhlas jika harus memakai uang tabunganku.
"Baik, Dokter. Ibu saya bisa dioperasi saat ini juga," ucapku.
"Baik. Ibu bisa segera menyelesaikan administrasi sementara kami akan segera mempersiapkan ruang operasi."
Aku memandang punggung dokter yang semakin menjauh dari hadapanku.
"Bismillah, Bu. Semua pasti akan baik-baik saja." Kuraih tangan ibu lalu menggenggamnya. Aku berusaha terlihat tegar di hadapan beliau meskipun sebenarnya aku merasa begitu takut. Pun aku tak boleh egois, segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah milik Nya dan suatu saat akan diambil kembali oleh Nya.
Selama operasi berlangsung, doa dan kalimat sholawat tak putus dari bibirku. Aku berharap operasi ibu berjalan lancar tanpa kendala apapun.
Setelah hampir satu jam, aku bernafas lega saat kulihat lampu yang berada di atas pintu ruang operasi itu padam yang berarti operasi telah selesai.
"Bagaimana operasi ibu saya, Dokter?" tanyaku pada salah satu dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Operasi pasien sudah selesai. Tapi maaf, jika kami harus menyampaikan kabar yang kurang baik," ucap dokter berkacamata itu.
"Kabar kurang baik apa, Dokter?" tanyaku.
"Selain mengalami patah tulang di bagian punggungnya, ternyata pasien juga mengalami pecah di selaput otaknya. Dengan sangat menyesal saya harus mengatakan jika pasien mengalami stroke. Pasien akan mengalami kesulitan berbicara dan bergerak," jelas dokter.
"Astaghfirullah!" Kubungkam mulutku dengan salah satu tanganku. Berita itu sungguh membuat perasaanku hancur.
"Apa saya boleh menemui ibu saya, Dokter?" tanyaku.
"Silahkan."
__ADS_1
Meskipun berat, aku mencoba tersenyum pada ibu.
"Alhamdulillah, operasi Ibu berjalan lancar," ucapku.
"Bi-Bi-Bi-an," lirih ibu.
Bagaimana ini? Ibu pasti mencari keberadaan putra semata wayangnya itu.
"Mas Fabian sedang keluar sebentar, Bu."
Ya Allah, ampunilah hamba. Aku terpaksa berbohong pada ibu.
Tidak berselang lama pintu ruangan terbuka, mas Fabian rupanya.
"Kita perlu berbicara," ucapnya.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan mengikutinya ke luar ruangan. Kami tidak mau berdebat di hadapan ibu.
"Kenapa kamu mengambil keputusan tanpa persetujuanku?" tanyanya.
"Dokter mengatakan ibu harus secepatnya dioperasi. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
"Aku kepala keluarga. Semua keputusan harus dengan persetujuanku."
"Kenapa Mas baru datang? Apa Mas benar-benar dari kantor?" tanyaku.
Kulihat mas Fabian terlihat begitu kebingungan saat aku tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Maksud kamu apa?" tanyanya.
"Siapa perempuan yang tadi menjawab telepon dariku?" Aku balik bertanya.
Bersambung….
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
🙏🙏