Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Begitu dekat?


__ADS_3

Hari ini adalah hari Minggu. Aku berencana mengajak ibu, Lyra, dan Fina berjalan-jalan di kebun binatang, seperti usul Lyra beberapa hari yang lalu.


Di saat kami bersiap berangkat itulah sebuah mobil memasuki halaman rumahku.


"Ibu … itu mobil paman Keenan 'bukan"?" tanya Lyra.


"Apa kamu membuat janji bertemu Keenan pagi ini?" tanya ibu padaku.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Paman Keenan!" panggil Lyra saat adik kandung mendiang Gibran itu berjalan ke arah teras.


"Kalian rapi sekali. Apa kalian mau keluar rumah?" tanyanya.


"Ya, Paman. Kami akan pergi ke kebun binatang."


"Oh, begitu. Padahal hari ini paman datang ke sini untuk menjemputmu. Waktu itu paman pernah berjanji mengajakmu jalan-jalan. Tapi baru sekarang paman punya waktu luang."


"Memangnya Paman mau mengajakku kemana?" tanya Lyra.


"Ada pembukaan objek wisata baru di kota ini. Kebun teh dengan wahana outbond."


"Kedengarannya seru. Bagaimana jika kita pergi ke tempat wisata baru itu dulu, ke kebun binatang setelahnya." Fina menimpali.


"Benar, ini masih pagi. Kita masih punya banyak waktu," ucap ibu. Keenan mengangguk setuju.


"Ya sudah, kamu dan Lyra naik mobil Keenan saja. Biar ibu dan Fina naik mobilmu sama pak Amin," ucap ibu.


"T-t-tapi, …"


"Ayo, Bu." Aku hanya bisa pasrah saat Lyra tiba-tiba menarik tanganku dan mengajakku masuk ke dalam mobil berwarna hitam itu.


"Maaf, ya, Lyra. Paman tidak memberitahumu lebih dulu. Niat paman ingin memberi kejutan, tapi ternyata kamu juga mau liburan hari ini," ucap Keenan.


"Tidak apa-apa kok, Paman. Aku malah senang, soalnya aku jadi liburan di dua tempat," ujar Lyra.


"Kamu ini memang paling senang kalau diajak liburan," ucapku seraya menarik hidung mungil Lyra dan sedikit memainkannya. Gadis kecilku itu pun meringis memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


"Kalau paman Gibran masih ada, pasti tambah seru."


"Paman Gibran atau paman Giblan?" sindir Keenan.


"Paman Gibran lah."


"Dulu kamu memanggilnya paman Giblan."


"Mana ada."


"Kalau tidak percaya, tanya saja pada ibumu."


Lyra yang duduk di sampingku itu pun lantas mendongakkan wajahnya.


"Memang iya ya, Bu?" tanyanya.


"Ya, begitulah. Kamu belum bisa menyebut huruf R. Jadi paman Gibran kamu panggil paman Giblan," jelasku.


"Ah, Ibu," gerutunya.


"Tidak apa. Hampir setiap anak kecil seusiamu dulu kesulitan mengucapkan huruf R. Tapi yang penting sekarang 'kan kamu sudah bisa."


"Masih jauh nggak, Paman?" tanya Lyra.


"Mungkin masih sekitar dua puluh menit lagi. Kalau kamu mengantuk, tidur saja. Nanti setelah sampai paman bangunkan."


"Aku 'kan mau liburan, bukan mau tidur di mobil," ucap Lyra yang sontak membuat Gibran terkekeh.


Sekitar dua puluh menit kemudian kami tiba di tempat wisata tujuan pertama yakni kebun teh. Meski terbilang objek wisata baru, tempat itu cukup ramai didatangi pengunjung.


"Lyra, kamu berani nggak naik flying fox?" tanya Fina.


"Flying fox itu apa, Mbak?"


"Nanti badan kita diikat pakai tali lalu meluncur dari ketinggian."


"Kalau jatuh gimana?"


"Nggak jatuh kok. Petugas akan memasangkan alat pengaman pada badan kita sebelum kita meluncur, pasti aman."


"Ehm …"


Lyra terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya memberi jawaban.


"Ya udah deh. Aku mau coba."


"Nah, gitu dong. Itu baru namanya gadis pemberani."


Fina pun menggandeng tangan Lyra kemudian berlalu dari hadapanku.

__ADS_1


"Pak Amin di mana, Bu?" tanyaku.


"Itu lagi ngopi di sana." Ibu mengacungkan jari telunjuknya ke arah sebuah warung kecil yang berada di area parkir tempat wisata itu.


"Ehm … ibu mau foto-foto di sana. Pasti bagus kalau dipajang di media sosial."


"Tunggu, Bu."


Ah, ibu rupanya berjalan terlalu cepat. Dalam hitungan detik saja beliau sudah hilang dari pandanganku. Dan kini aku hanya berdua saja dengan Keenan. Aku jadi berpikir apakah mereka sengaja membiarkan kami berduaan?


"Ehm … kita lihat Lyra dan Fina, yuk," ucap Keenan sedikit canggung.


"Kamu mau naik flying fox juga?"


"Ah, tidak. Aku-aku sebenarnya aku phobia ketinggian."


"Apa? Phobia ketinggian?" Aku terkekeh.


"Ya. Awal mula aku takut pada ketinggian adalah saat usiaku sekitar enam tahun. Saat itu aku dan Gibran memanjat pohon mangga di belakang rumah. Gibran yang suka jahil itu turun duluan tapi dia menyembunyikan tangga besi yang kami pakai untuk naik. Aku menangis hampir satu jam dan tidak ada yang menolongku karena saat itu ayah dan ibu sedang keluar rumah, sementara mbok Marni sedang ke pasar," papar Keenan.


"Lalu, bagaimana akhirnya kamu bisa turun?" tanyaku penasaran tentu saja sambil menahan tawa.


"Mbok Marni yang baru pulang dari pasar yang menemukan tangga besi itu lalu membantuku turun. Sejak saat itu aku takut pada ketinggian."


Aku mengulas senyum tipis.


"Ketakutan itu jangan dibiarkan, tapi dilawan," ujarku.


"Dilawan?"


"Ya. Kamu harus melawan rasa takutmu itu. Memangnya kamu mau seumur hidup dikalahkan rasa ketakutan itu? Bagaimana jika kamu sudah menikah dan punya anak nanti. Anakmu menangis karena layang-layangnya tersangkut di atas pohon. Apa kamu juga akan membiarkannya menangis berjam-jam?"


"Ehm … sebenarnya aku ingin lepas dari phobia ini. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya."


"Aku tahu."


"Bagaimana?"


"Ayo ikut aku."


"Loh, kamu kok mengajakku ke sini?" protes Keenan lantaran aku mengajaknya menuju area flying fox.


"Paman Keenan! Lihat kemari!" teriak Lyra dari ketinggian."


"Lyra ketagihan naik flying fox. Ini sudah yang ke tiga kali nya," jelas Fina yang baru saja melepaskan tali pengaman dari tubuhnya.


"Rupanya dia pemberani juga," ujarku.


"Ehm … ehm …"


"Ayo, tadi katanya mau naik."


"Aku-aku ta-..."


"Pak … mas yang ini mau naik." Fina terlihat sedikit mendorong tubuh Keenan ke arah petugas yang memasang alat pengaman itu.


"Ti-ti-tidak."


"Masa kalah sama adik kecil itu. Dia saja sudah naik tiga kali loh," ucap petugas seraya memasang tali pengaman di tubuh Keenan. Aku bisa menangkap ketakutan yang teramat sangat di wajahnya.


"Kamu pasti bisa melawan ketakutan ini," ucapku sembari menepuk pelan pundaknya. Entah dari mana keberanian itu datang. Saat meluncur di ketinggian aku tak melihat ketakutan ataupun kepanikannya. Ia justru berteriak lantang seolah menemukan kebebasan dari rasa takut yang selama ini mengekangnya.


"Zura … aku bisa … huuuu!" serunya.


"Astaga. Kenapa dia girang sekali," ucap Fina.


"Selama ini Keenan memiliki phobia ketinggian. Tadi aku memberi semangat padanya untuk melawan ketakutannya," ucapku.


"Ehm! Ceritanya ada yang jadi pemberi semangat," goda Fina.


"Bu-bu-bukan begitu. Aku hanya kasihan saja jika seumur hidupnya dikuasai rasa takut pada ketinggian."


"Cinta itu berawal dari kasihan loh, Bu."


"Kamu ini paling suka menggoda ibu." Aku menggelitik pinggang Fina hingga dia berteriak meminta ampun karena kegelian.


Tidak berselang lama Keenan dan Lyra menghampiri kami.


"Ibu … aku haus dan lapar," ucap Lyra. Kulihat peluh bercucuran di dahinya.


"Ya Allah, Nak. Berapa kali kamu naik flying fox sampai berkeringat begini?" Aku mengambil sapu tangan dari dalam tas ku lalu mengusap dahinya.


"Mas Keenan juga keringetan loh, nggak di lap juga?" sindir Fina yang sontak membuat pria itu salah tingkah.


"Oh, aku baru ingat. Aku membawa sapu tangan juga." Keenan mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku belakang celananya lalu mengusap dahinya yang juga berkeringat.


"Ibu mana, Nek?" tanya Lyra.

__ADS_1


Tiba-tiba ponselku berdering. Panjang umur, baru saja dibicarakan, ibu menelpon.


[Halo, Bu.]


[Kalian di mana? Kok nggak ada di tempat yang tadi]


[Ehm … kami ke tempat flying fox]


[Kita makan yuk, ibu lapar]


[Ibu tunggu di sana. Lyra dan Fina juga sudah selesai main flying fox nya]


[Baik, ibu tunggu, jangan lama-lama]


-Panggilan terputus-


Kami berempat baru saja beranjak meninggalkan area flying fox, tiba-tiba seseorang menghampiri kami.


"Tas rajut nya, Nak. Lima puluh ribu rupiah saja," ucap pria yang usianya lebih dari enam puluh tahun itu.


Tunggu! Sepertinya wajahnya tidak asing.


Aku pernah melihatnya, tapi di mana?


"Kamu masih ingat kakek, Nak?" tanyanya.


Aku ingat sekarang. Aku pernah membeli tas rajutnya saat aku berjalan-jalan bersama Lyra dan Gibran beberapa tahun yang lalu.


"Iya, Kek. Kalau tidak salah waktu itu aku membeli tas rajut dari Kakek. Kakek berjualan di sini sekarang?"


Kakek itu mengulas senyum tipis.


"Kakek berjualan di mana saja, Nak. Hampir di setiap tempat wisata."


Kakek itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah Lyra.


"Ini pasti gadis kecil yang waktu itu. Kamu sudah besar sekarang," ucapnya.


"Masyaallah, ingatan Kakek kuat sekali," ujarku.


Tidak hanya aku yang membeli tas rajut yang dijual kakek itu. Rupanya ibu dan Fina juga tertarik untuk membelinya.


"Ini, Kek, uangnya," ucapku seraya memberikan dua lembar uang pecahan seratus ribu pada sang kakek.


"Ini kembaliannya, Nak."


"Tidak usah, ambil saja kembaliannya. Anggap saja rezeki dari Allah melalui tanganku."


"Alhamdulillah terima kasih banyak, Nak. Semoga Allah memberikan rezeki yang berlipat ganda untukmu dan keluargamu."


"Amin, terima kasih, Kek. Kalau begitu kami permisi dulu. Assalamualaikum."


Aku baru saja membalikkan badanku, Tapi Kakek itu menahanku.


"Ada apa, Kek?"


"Kakek ingat waktu itu kakek pernah meramalmu. Kakek harap ramalan kakek salah."


Aku mengulas senyum getir.


"Ramalan kakek benar. Pria yang waktu itu bersamaku ini sudah tiada. Dia meninggal dunia sekitar 3 tahun yang lalu."


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un."


"Boleh kakek lihat tanganmu lagi?" tanyanya.


Aku pun lantas mengulurkan tangan kananku pada sang kakek pemilik senyum ramah itu.


"Kenapa Kakek tersenyum?" tanyaku.


"Mungkin kamu pernah kehilangan seseorang yang begitu kamu cintai. Tapi dari garis tanganmu saya melihat jika pengganti orang yang kamu cintai itu berada sangat dekat denganmu," paparnya.


"Apa maksud Kakek?"


"Kamu akan tahu seiring berjalannya waktu."


"Astaga. Zura kenapa kamu masih di belakang?! teriak ibu saat mendapatiku masih belum beranjak dari kakek penjual tas rajut itu.


"Iya, Bu! Saya permisi dulu ya, Kek. Assalamualaikum."


Aku berlalu dari hadapan kakek penjual tas rajut itu, tentu saja dengan bermacam pertanyaan yang berputar di kepalaku.


Bersambung …


Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"

__ADS_1


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2