
"Mas Gibran di mana?" Fina menimpali.
"Gibran … Gibran … ehm …"
"Jangan membuat kami bingung. Cepat katakan di mana Gibran?" Ibu turut mendesak Keenan.
"Gibran sudah meninggalkan kita semua."
"Kamu pasti bercanda 'kan, Ken? Bercandamu sama sekali tidak lucu," ucapku.
"Kamu jangan main-main, Ken. Akad nikah akan dilaksanakan sebentar lagi. Gibran harus tiba di tempat ini secepatnya. Lihat, bapak penghulu sedari tadi sudah menunggu. Beliau harus segera menikahkan pasangan di tempat lain," ucap ibu.
"Paman Nan-Nan … ayah Giblan di mana?" Giliran putri kecilku Lyra, bertanya.
"Zura, bisa kita bicara sebentar?" ucap Keenan.
Aku pun lantas mengajaknya sedikit menjauh dari tempat itu. Rupanya ibu juga mengikuti di belakang kami.
"Sebenarnya di mana Gibran? Ini sudah hampir jam delapan. Kenapa dia belum datang juga?" Aku terus mengulangi pertanyaan itu.
"Gibran … Gibran sudah meninggalkan kita semua. Dia sudah tiada."
__ADS_1
Aku membekap mulutku. Mendadak sendi-sendi tubuhku terasa lemas. Jika ibu tak menopangku, aku pasti sudah luruh di atas lantai.
"Innalilahi-wa-inna-ilaihi-roji'un."
Buliran bening itu mengalir deras tanpa permisi dari sudut mataku. Riasan yang susah payah dibuat oleh juru rias pun seketika luntur karena dibanjiri air mataku.
"Gibran … Gibran … kenapa kamu tinggalkan aku?" lirihku.
"Sabar, Nak, sabar. Ibu paham dengan perasaanmu saat ini," ucap ibu seraya menggenggam erat kedua tanganku.
"Kenapa dia harus pergi di saat aku mulai membuka hati untuknya?" isakku.
"Ini semua sudah kehendak Allah. Sebagai manusia kita tidak bisa menolak takdir kematian," ujar Keenan.
Aku bingung bagaimana cara menjelaskan semua ini pada putri kecilku itu.
"Ibumu sedang kurang sehat, Sayang," jelas ibu.
"Di mana ayah Giblan? Apa dia tidak jadi datang ke sini?" tanya Lyra lagi.
"Nanti ayah Gibran pasti datang kok, Sayang," ucap ibu.
__ADS_1
"Oh ya, Lyra belum sarapan 'kan? Lyra sama mbak Fina dulu ya."
Fina yang tengah beranjak dewasa itu sepertinya paham dengan keadaanku saat ini. Dia pun lantas mengajak Lyra masuk ke dalam rumah.
"Apa yang terjadi dengan Gibran? Sepertinya kemarin siang dia menghubungi Zura melalui panggilan video," ucap ibu.
Keenan menghela nafas berat.
"Gibran meninggal dunia di tangan perampok."
"Perampok?"
"Ya. Kemarin siang toko pakaian miliknya didatangi dua orang perampok. Salah satu perampok mengancam Gibran untuk memberikan uang yang berada di mesin kasir. Sementara perampok lainnya menyandera salah satu karyawannya. Demi keselamatannya dan kedua karyawannya, Gibran membiarkan saja saat perampok itu menguras uang yang berada di dalam laci mesin kasirnya. Namun, tiba-tiba saja salah satu karyawannya berteriak hingga memancing kepanikan perampok itu. Perampok pemegang senjata api yang menyandera karyawannya itu tidak sengaja menarik pelatuk pistol hingga membuat Gibran tertembak bagian dadanya. Gibran pun meninggal dunia di toko pakaiannya sendiri," ungkap Keenan.
Rupanya ini jawaban dari mimpiku semalam. Gibran, pria yang berhasil membuatku jatuh cinta itu pergi di saat hari pernikahan kami. Ya Rabb … tempatkan lah Gibran di sisi terindah Mu. Terima kasih, telah menghadirkannya dalam hidupku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰