
POV Author.
Sore itu Fabian baru saja pulang dari bekerja bersamaan dengan Silvia yang baru saja kembali entah dari mana.
"Kamu dari mana?" tanya Fabian.
"Dari salon," jawab Silvia singkat.
"Salon lagi, salon lagi. Kami tahu 'bukan, berapa penghasilanku dari bekerja di cafe. Seharusnya kamu bisa lebih bijak mengatur keuangan kita."
"Memangnya aku bilang aku ke salon pakai uangmu?" ucap Mila. Pandangannya tak lepas dari kuku-kuku tangannya yang baru saja dicat berwarna-warni itu.
"Rekeningmu sudah kosong, uang hasil penjualan mobil mu pun pasti sudah ludes untuk gaya hidupmu yang boros itu. Lantas, dari mana kamu memiliki uang untuk perawatan ke salon?"
Fabian memperhatikan penampilan Silvia yang bisa terbilang mahal untuk ukuran istri seorang pelayan cafe. Dari baju, tas, sepatu, bahkan jam tangannya, semuanya barang branded.
"Aku masih punya tabungan," ucap Silvia singkat.
"Tabungan yang mana lagi?"
"Aku lelah dan sedang malas berdebat."
Silvia beranjak dari sofa lalu melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
"Aku lapar, masakin nasi goreng dong."
"Kamu yang seharusnya melayani suami. Bukan sebaliknya. Lagipula kamu tahu seharian aku sudah bekerja di luar rumah. Harusnya kamu bisa berbagi tugas denganku," ucap Fabian.
__ADS_1
"Terus saja ceramah. Mungkin sebentar lagi aku kenyang," sindir Silvia.
"Kenyataannya memang begitu. Istri akan mendapatkan pahala jika dia melayani suaminya dengan ikhlas lantaran surga seorang perempuan setelah menikah adalah suaminya."
"Stop, Pak ustadz Fabian. Kalau memang anda tidak mau membuatkan saya nasi goreng, ya sudah. Saya bisa kok makan malam di luar." Silvia membalikkan badannya hendak keluar rumah lagi namun Fabian menahannya.
"Apa kata tetangga nanti. Kamu baru saja masuk ke dalam rumah ini, lalu pergi lagi. Baiklah, kamu tunggu sebentar. Aku buatkan nasi goreng untukmu."
"Nah, begitu dong. Aku 'kan tidak perlu marah-marah. Aku ke kamar dulu, panggil aku jika nasi gorengnya sudah siap," ucap Silvia seraya melangkah masuk ke dalam kamar.
Fabian membuang nafas.
Setelah menikah, Silvia memang lebih mendominasi. Ia yang sedari kecil hidup mewah dan bergelimang harta ternyata tidak cukup siap jika harus hidup sederhana ataupun secukupnya. Gaya hidupnya tak sedikit pun berubah. Namun, satu hal yang membuatnya penampilan adalah dari mana Silvia mendapatkan uang untuk membeli barang-barang branded itu? Sedangkan penghasilannya sebagai pelayan cafe setiap bulan hanya cukup untuk membayar uang sewa rumah dan untuk kebutuhan sehari-hari.
Fabian mulai meracik bumbu dapur yang akan ia gunakan sebagai bahan membuat nasi goreng. Meskipun rasa lelah menderanya, ia memilih mengalah dan menuruti kemauan istrinya itu. Alasannya hanya satu. Dia tidak ingin tetangga yang tinggal di sekelilingnya menjadi wartawan dadakan lagi karena seringnya mendengar keduanya berdebat.
Fabian baru saja mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu kamar itu ketika tiba-tiba terdengar Silvia sedang mengobati dengan seseorang melalui sambungan telepon.
[Baru juga ketemu satu jam yang lalu ,masa sudah kangen]
[Aku suka sekali sepatu dan tasnya]
[Imbalan? Memang kamu minta imbalan apa dariku?]
[Nakal kamu ya. Masa minta imbalannya main di kamar hotel lagi.]
"Apa-apaan ini! Siapa laki-laki itu!"
__ADS_1
Silvia tersentak kaget saat Fabian tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar dan memergokinya tengah mengobrol dengan laki-laki melalui sambungan telepon.
"Maksud kamu apa? Kamu salah paham. Yang barusan menelponku adalah kawanku. Dia perempuan kok."
"Berikan ponselmu!" seru Fabian.
"T-t-tapi, …"
"Berikan ponselmu!"
Fabian yang tengah dikuasai amarah itu pun lantas merebut paksa ponsel Silvia. Dia lantas memeriksa panggilan terakhir di ponsel tersebut. Meskipun foto profilnya seorang perempuan, ia tak akan percaya begitu saja. Ia pun mulai menghubungi nomor ponsel itu.
[Halo, Sayang. Kenapa tadi dimatikan?]
ucap seseorang dari seberang sana.
Bersambung …
Masih bersambung ya …
Sambil jalan dengan novel baru yang judulnya
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Jangan lupa mampir juga ya Kak ….
Happy reading …🥰🥰🥰
__ADS_1