Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Hilangnya rasa


__ADS_3

"Nduk, …"


Meski lirih, aku bisa mendengar suara ibu memanggilku. 


"Maafkan Zura, Bu. Zura harus pergi," ucapku. Aku merasakan buliran hangat itu mulai menetes dan membasahi pipi.


Tidak, Zura. Kamu tidak boleh menangis. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi pengkhianatan ini. Lekas kuseka air mataku sebelum siapapun melihatnya.


"Aku pergi, Assalamu'alaikum."


"Mas mohon jangan pergi," ucap mas Fabian yang kini berdiri di tengah pintu.


"Maaf, Mas. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa menerima semua ini."


"Biarkan saja kalau Mbak Zura memang ingin pergi. Paling setelah keluar dari rumah ini dia akan menjadi gelandangan," cibir Karmila.


"Aku yakin Allah akan selalu bersama kami," ujarku.


"Mas mohon. Jangan tinggalkan rumah ini. Mas masih begitu mencintaimu, Dek.


Aku tersenyum kecut.


"Cinta macam apa yang tega menyakiti pasangan?"


"Mengertilah, Dek. Mas lakukan semua ini karena, …"


"Aku titip ibu. Jaga dan rawat lah beliau dengan baik, jangan pernah sekalipun menyakiti apalagi bersikap kasar padanya," ucapku pada Mila.

__ADS_1


"Mas Fabian pasti akan segera mengurus surat perpisahan kalian. Bukan begitu, Mas?" tanya Mila pada mas Fabian yang kini sedikit bergeser dari pintu. Sepertinya dia mulai menyerah untuk menahanku pergi dari rumah ini.


Mas Fabian tak menanggapi ucapan Mila. Namun, apa yang dilakukannya sungguh di luar dugaan. Tiba-tiba saja pria yang paling tampan di mataku itu memaksa mengambil alih Lyra dari gendonganku.


"Kamu boleh pergi meninggalkan rumah ini, tapi tidak dengan putriku!" serunya. Aku bisa melihat amarah di sorot matanya.


"Maksud Mas apa? Lyra masih begitu kecil. Hidupnya hanya bergantung pada ASI ku saja."


"Kamu tidak usah khawatir, aku dan Mila yang akan merawatnya."


"Tidak bisa begitu, Mas. Usia Lyra masih belum genap tiga bulan. Mas tidak bisa memisahkannya dariku."


"Mbak hanya punya dua pilihan. Tetap tinggal di rumah ini atau pergi tanpa Lyra." Karmila menimpali.


"Diam kamu! Perempuan tak tahu diri!" bentakku.


Lyra terbangun mendengar suaraku yang cukup nyaring.


Mas Fabian pun lantas mencoba menenangkannya, namun putri kecilku itu tak kunjung diam. Aku paham betul dia menangis karena ketakutan.


"Biar aku saja yang menggendongnya," ucapku.


"Kalau kamu memang ingin pergi, pergilah. Bukankah kamu memang sudah tidak peduli lagi pada ibu?"


"Aku tidak akan pergi tanpa Lyra ku!"


"Tidak bisa! Lyra akan tetap di sini bersama kami!" 

__ADS_1


"Kumohon, Mas. Jangan egois begini. Lyra masih terlalu kecil untuk dipisahkan dariku."


"Apa Mbak lupa? Aku juga perempuan. Aku bisa kok merawat dan mengurus bayi," ucap Mila.


"Diam kamu! Aku tidak meminta pendapatmu!"


"Jadi orang keras kepala banget sih. Pantas saja mas Fabian mencari istri lain."


"Plak!" 


Aku tak bisa lagi menahan amarahku. Selain mas Fabian, Mila juga mendapatkan tamparan keras dariku. Sakit memang, tapi tetep saja tak sebanding dengan hancurnya perasaan ini. Perempuan manapun yang berada di posisiku sekarang ini kujamin dadanya akan berdebar hebat diiringi gelagak amarah yang membuat kepala seperti hendak meledak. Amarah dari seorang istri yang kesetiaan dan pengabdiannya dikhianati.


"Mas lihat sendiri 'kan? Selain pembantah, istri pertama kamu juga kasar. Sakit, Mas. Hu…hu… hu." Mila mengusap pipinya yang mungkin terasa panas karena tamparanku barusan.


"Azzura binti Prasetya! Cepat minta maaf pada Mila!" seru mas Fabian.


Ya Allah… di mana mas Fabian Yusuf yang kukenal lembut dan penyayang itu? Dia bahkan lebih membela perempuan lain dibandingkan istrinya sendiri. Apakah cinta untukku benar-benar sudah hilang, Mas?


Bersambung….


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2