
POV Author
"Aku pulang sekarang," ucap Fabian sesaat setelah sampai di rumah Mila.
"Mas sudah lama tidak ke sini. Temani aku sebentar saja," Mila meraih tangan Fabian lalu mengajaknya masuk ke dalam ruang tamu.
"Mengertilah, saat ini aku keadaan tidak memungkinkan bagiku berlama-lama di rumah ini,"
"Tapi, Mas. Aku kangen sama Mas."
Karmila melingkarkan sepasang tangannya di leher Fabian. Pria itu pun tak sedikit pun menepisnya. Dia bahkan melingkarkan tangannya di pinggang ramping istri sirinya itu. Entah siapa yang memulai, bibir kedekatanmu kini saling u beradu.
Fabian rupanya telah terbawa suasana. Dia mengangkat tubuh Mila dan membaringkannya di atas sofa.
"Jangan di sini, Mas. Nanti ada yang ngintip," bisik Mila.
Fabian yang tengah dikuasai hasrat itu pun lantas mengangkat tubuh Mila dari atas sofa, lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
Pukul 20.00
Fabian baru saja terbangun. Rupanya dia kelelahan setelah pertempurannya di atas ranjang dengan Mila dua jam yang lalu. Dia terperanjat saat memandang jam dinding di kamar itu. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Astaghfirullah!" serunya.
"Kenapa, Mas?" tanya Mila yang masih enggan membuka matanya. Tubuh polosnya pun hanya tertutup selimut.
"Aku harus pulang sekarang. Ada ibu dan Lyra yang harus kurawat," ucap Fabian sembari mengenakan kembali pakaiannya.
"Sudahlah, menginap di rumahku saja. Tadi kita hanya bermain sebentar. Aku masih ingin mengulanginya." Mila menggeser tubuhnya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Fabian.
"Jangan malam ini."
"Lyra 'kan sudah ada yang ngurus."
"Bagaimana dengan ibu? Astaghfirullah! Aku mengunci pintunya dari luar!"
Fabian lekas mengenakan kembali ikat pinggangnya, lalu merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan.
"Aku pulang dulu, Assalamu'alaikum."
"Mas… Mas Fabian. Tunggu! Jangan pergi!" teriak Mila.
Fabian tak menghiraukan ucapan Mila. Dia justru mempercepat langkahnya dan keluar dari rumah tersebut.
"Lihat saja nanti. Aku akan menjadi istri mas Fabian satu-satunya," gumam Mila.
__ADS_1
Fabian melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Tentu saja dia khawatir dengan keadaan ibunya yang terkunci sendirian di dalam rumahnya. Tak hanya pada sang ibu, dia juga mencemaskan Lyra. Bu Murni pasti akan kewalahan mengatasi Lyra saat dia haus.
Fabian menepikan mobilnya di depan sebuah mini market untuk membeli susu formula beserta botol susu bagi Lyra.
Hal memalukan terjadi saat dirinya mengantre di depan meja kasir. Tampak beberapa orang yang berdiri di belakangnya tertawa cekikikan sembari melirik ke arahnya. Rupanya Fabian sadar jika mereka tengah mentertawai dirinya.
"Maaf, Bu. Apa yang Ibu tertawakan? Apa ada yang salah dengan saya?" tanyanya.
"Lihat itu Mas. Celananya terbalik. Mas pasti buru-buru ya," ucap perempuan yang berdiri persis di belakang Fabian dan sontak disambut gelak tawa dari beberapa pengunjung di mini market itu tak terkecuali sang kasir.
Fabian malu luar biasa. Wajahnya terasa memerah dan panas. Demi apapun, ini adalah hal paling memalukan yang pernah dia alami seumur hidupnya. Karena terburu-buru, dia tidak menyadari mengenakan celananya dalam keadaan terbalik.
"Ambil saja kembaliannya," ucap Fabian setelah menyerahkan selembar uang pecahan lima puluh ribu pada kasir. Jika boleh memilih, rasanya ingin menghilang saja dari tempat itu.
"Maaf, Pak. Tapi ini uangnya masih kurang sepuluh ribu," ucap kasir.
"Memangnya berapa harga susu bayi ini?"
"Enam puluh ribu, Pak."
Sekali lagi para pengunjung tertawa cekikikan. Fabian lekas mengambil selembar uang pecahan sepuluh ribu dari dalam dompetnya lalu menyodorkannya pada sang kasir.
"Lain kali kalau pakai celana jangan buru-buru, Mas," celetuk salah satu pria yang berada di antrean.
Fabian yang sudah kepalang malu itu memilih tak menanggapi ucapan pria tersebut.
Fabian melajukan kembali mobilnya menuju arah pulang ke rumahnya.
Sepuluh menit kemudian dia tiba di rumahnya. Dari halaman rumahnya dia bisa mendengar suara tangisan Lyra yang begitu nyaring.
"Mas Fabian ini dari mana saja?" tanya pak Hasan, suami Bu Arum yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.
"Ehm, saya-saya… mobil saya tiba-tiba mogok, Pak. Saya harus membawanya ke bengkel."
"Dari tadi putri Mas tak berhenti menangis. Saya dan istri saya pun bingung harus berbuat apa. Kami takut salah memberi susu," ungkap pria berkumis tebal itu.
"Ma-ma-af, Pak. Merepotkan. Saya sudah membeli susu untuk putri saya."
"Ya sudah. Cepat Mas buatkan susu untuk Lyra. Kasihan dia, pasti kehausan."
Tidak berselang lama bu Murni pun keluar dari dalam rumahnya.
"Mas Fabian ini gimana? Sudah dua jam yang lalu mbak Zura membalas pesan saya dan mengatakan kalau mas Fabian sudah dalam perjalanan pulang. Kenapa baru sampai sekarang?"
"Ma-ma-af, Bu. Mobil saya tadi mogok. Saya harus membawanya ke bengkel."
__ADS_1
"Mana susu untuk Lyra? Biar saya yang membuatnya. Mas Fabian cepat masuk ke dalam rumah saja. Saya khawatir ibu Kinanti kenapa-napa," ucap bu Murni.
Fabian pun lantas memberikan kantong plastik berisi satu kotak susu formula beserta botolnya pada bu Murni kemudian bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Ruang pertama yang dituju adalah kamar tamu. Tampak sang ibu tengah menangis kesakitan di atas tempat tidurnya. Namun satu hal yang membuat amarahnya meledak adalah dia mendapati sang ibu buang air besar di atas tempat tidur.
"Astaghfirullah, Ibu! Kenapa Ibu jadi merepotkan begini? Lihat kasur ini. Kotor dan menjijikkan!" bentaknya.
Perempuan yang usianya lebih dari kepala enam itu tak mampu menanggapi ucapan Fabian. Hanya air matanya saja yang berbicara.
"La-la-par," lirih sang ibu.
"Ibu pikir hanya Ibu saja yang lapar? Dari tadi aku pun belum makan."
Buliran bening itu semakin deras membasahi pipi keriput sang ibu. Fabian Yusuf kini benar-benar telah berubah. Dia berani berkata kasar dan membentak ibu kandungnya sendiri.
"Ibu pikir siapa yang akan membersihkan tempat tidur ini!" bentak Fabian lagi. Dia tak memperdulikan Isak tangis sang ibu yang semakin menjadi. Tangis itu bukan karena rasa sakit fisik yang dideritanya. Melainkan luka batin yang teramat pedih.
"Kenapa kamu jadi berubah begini, Nak," gumam sang ibu.
"Maaf, Mas. Tidak baik berkata kasar pada ibu," ucap bu Murni yang tiba-tiba saja berdiri di depan pintu kamar tamu. Lyra tampak tertidur pulas di dekapannya.
"Siapa yang tidak kesal melihat tempat tidur kotor dan menjijikkan begini?"
"Sabar, Mas. Namanya juga orang sakit. Mas ini paham agama 'kan? Mas pasti lebih tahu jika merawat orangtua adalah salah satu kewajiban anak terhadap orang tua. Waktu Mas kecil dulu, ibu Kinanti yang membersihkan kotoran Mas waktu maaf buang air besar," ujar bu Murni.
Suasana hening sejenak.
"Ini Lyra sudah tidur," ucap Bu Murni.
"Maaf, Bu. Merepotkan," ucap Fabian sembari mengambil alih Lyra dari gendongannya.
"Oh ya. Bagaimana keadaan mbak Zura?"
"Zura masih harus dirawat sampai kondisinya membaik."
"Jadi, siapa yang menemaninya di rumah sakit? Mbak Melly ya?" tanya Bu Murni.
Bersambung….
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
🙏🙏