Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Selalu salah


__ADS_3

"Apa Ibu mengenal kedua pasien ini?" tanya dokter.


"Benar, Dokter. Mereka adalah suami dan ibu mertua saya. Apa yang sebenarnya terjadi, Dokter?"


"Mas Fabian dan ibu Kinanti menjadi korban ledakan tabung gas di rumah kalian." Pak Hasan yang baru saja menghampiri kami itu menimpali.


Mengapa hanya mas Fabian saja yang brada di rumah sakit ini? Di mana Lyra? Apakah dia…? Membayangkannya saja aku tidak sanggup apalagi jika harus kehilangan malaikat kecilku itu.


"Di mana putri saya, Pak?" tanyaku dengan suara gemetar. Aku begitu takut jika putri semata wayangku itu kenapa-napa.


"Mbak Zura tenang saja. Lyra aman bersama istri saya di rumah," jelas pak Hasan.


"Jadi, Lyra tidak kenapa-napa, Pak?"


"Tidak apa-apa, Mbak."


Alhamdulillah, aku begitu lega mendengarnya.


"Kebetulan menjelang tengah malam Lyra rewel. Dia tidak berhenti menangis. Istri saya pun mendatangi rumah kalian dan mengajak Lyra tidur di rumah kami."


"Kenapa tabung gas di rumah saya bisa meledak? Selama ini mas Fabian selalu memastikan dia telah memasang selang regulator dengan baik," ucapku.


"Saya dan istri saya tidak tahu persis penyebabnya. Kita akan mendapatkan keterangan dari mas Fabian setelah dia sadar nanti."


"Ibu, mohon segera urus administrasi kedua pasien. Saya akan segera memeriksa mereka, permisi," ucap dokter. Dia lantas masuk ke dalam ruang UGD.


Tentu saja aku kebingungan. Uang tabungan milikku telah habis untuk biaya operasi ibu kemarin. Sementara mas Fabian sendiri pun sepertinya tidak memiliki banyak uang tabungan.


"Mbak Zura kenapa?" tanya pak Hasan. Sepertinya beliau paham jika aku tengah dilanda kebingungan.


"Ehm, saya-saya tidak memiliki uang untuk membayar biaya rumah sakit mas Fabian dan ibu," ucapku sedikit canggung.


"Pakai uang saya dulu tidak apa, Mbak."


"Tapi, Pak. Saya tidak ingin merepotkan Bapak."


"Jangan bicara begitu, Mbak. Kita ini kan bertetangga. Sudah seharusnya saling membantu," ujar pak Hasan.


"Saya minta maaf susah seringkali merepotkan keluarga Bapak."


"Tidak, Mbak. Saya senang bisa membantu."


Tidak berselang lama dokter keluar dari ruang tindakan.


"Bagaimana keadaan suami dan ibu saya, Dokter?" tanyaku.


"Pasien laki-laki susah siuman. Dia hanya pingsan karena terlalu lama menghirup asap. Tapi, …"


"Tapi kenapa, Dokter? Ibu saya baik-baik saja 'bukan?" tanyaku.


"Pasien perempuan mengalami luka bakar yang cukup parah di bagian wajahnya. Kami menyarankan agar pasien lekas menjalani operasi."


"Op-op-operasi, Dok?"


"Benar, Bu. Jika tidak segera dioperasi, saya khawatir akan terjadi infeksi pada kulit pasien terutama di bagian wajah."


Tubuhku semakin lemas rasanya. Baru beberapa hari yang lalu menjalani operasi di bagian punggungnya, kini ibu harus kembali menjalani operasi di bagian wajahnya. Ya Rabb, kuatkan kami menghadapi semua cobaan ini.

__ADS_1


"Apa operasi ibu Kinanti harus hari ini, Dok?" tanya pak Hasan.


"Lebih cepat lebih baik, Pak," jawab dokter.


"Apa saya boleh menemui mereka?" tanyaku.


"Silahkan."


Pak Hasan mengambil alih kursi rodaku dari suster Diana lalu mendorongnya masuk ke dalam ruangan UGD. Kulihat mas Fabian sudah tersadar, namun ibu belum.


"Mas. Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa tsnujg gas di rumah kita bisa meledak?" tanyaku pada mas Fabian.


"Apa kamu tidak sadar, jika semua ini terjadi gara-gara kamu."


"Kenapa Mas nyalahin aku?"


"Semalam ibu haus dan minta minum. Tapi semua teko dan botol kosong. Aku pun harus merebus air."


"Hal sekecil itu mengapa Mas besar-besarkan. Tinggal merebus air saja semua orang juga bisa 'kan?"


"Aku kelelahan mengurus ibu dan juga Lyra hingga aku ketiduran dan lupa mematikan kompor."


"Mas yang ceroboh. Kenapa jadi nyalahin aku?"


"Kalau saja ada air minum, aku tidak perlu merebus air. Peristiwa ini tidak akan terjadi!"


"Maaf, Mas. Bukannya mau ikut campur. 


Saya pikir musibah ini terjadi karena kecerobohan Mas Fabian. Jika mas Fabian mematikan kompor, tabung gas tidak akan meledak." Pak Hasan menimpali.


Kualihkan pandanganku pada ibu yang terbaring lemah di atas ranjang pasien tidak jauh dari ranjang mas Fabian. Tidak hanya wajah, bagian tubuh lainnya juga terlihat terbakar.


"Dokter mengatakan ibu harus secepatnya dioperasi, Mas," ucapku.


"Mikirin rumah kita yang terbakar saja aku sudah pusing. Sekarang harus ditambah lagi dengan urusan biaya operasi."


"Jadi, Mas mau membiarkan saja keadaan ibu begini?"


"Jadi aku harus bagaimana? Aku tidak memiliki uang tabungan lagi."


"Sudah, Mas, Mbak. Jangan ribut lagi. Di sini bukan tempat yang tepat untuk berdebat. Saya bersedia membantu kalian membayar biaya operasi ibu Kinanti. Kebetulan saya memiliki uang tabungan."


Kalimat yang baru saja meluncur dari mulut pak Hasan mampu membuatku sedikit tenang. Urusan mengembalikan pinjaman itu, bisa kupikirkan nanti.


"Maaf, Pak. Kami selalu merepotkan Bapak," ucapku.


"Tidak apa-apa, Mbak. Saya senang bisa membantu."


Tidak berselang lama dokter masuk ke dalam ruangan.


"Bagaimana, Pak, Bu. Apa sudah mengambil keputusan kapan pasien akan dioperasi?" tanyanya.


"Ya, Dokter. Sekarang juga ibu Kinanti bisa mendapatkan tindakan operasi," jawab pak Hasan.


"Baiklah, Bapak dan Ibu bisa segera mengurus administrasi. Sementara kami akan mempersiapkan ruang operasi."


"Baik, Dokter," ucapku.

__ADS_1


"Maaf, Mbak. Saya harus ke ATM dulu untuk mengambil uang. Saya hanya membawa sedikit uang tunai," ucap pak Hasan.


"Sekali lagi terima kasih untuk bantuannya, Pak. Saya janji akan mengembalikan pinjaman itu secepatnya," ucapku.


"Sudahlah, Mbak. Jangan bahas itu dulu. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan ibu Kinanti," ujar pak Hasan.


"Saya permisi."


Pak Hasan pun lantas meninggalkan ruangan.


"Uang Mas habis di Mila 'kan?" tanyaku sesaat setelah pak Hasan berlalu.


"Kamu ngomong apa sih?"


"Sudahlah. Mas nggak perlu bohong lagi. Uang tabungan Mas pasti habis untuk membelikan rumah baru untuk Mila. Dari penampilannya dan gaya hidupnya aku juga tahu, itu semua membutuhkan uang yang tidak sedikit."


Mas Fabian diam. Kurasa dia tidak memiliki kalimat untuk menanggapi ucapanku barusan.


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan. Entah siapa yang memberitahunya jika mas Fabian dirawat di rumah sakit ini.


"Mas, nggak apa-apa 'kan?" tanyanya sembari memeriksa beberapa bagian tubuh mas Fabian.


"Aku baik-baik saja kok. Ibu yang terluka cukup parah."


"Kenapa bisa begini, Mas?" tanyanya lagi.


"Aku lupa mematikan kompor saat merebus air hingga tabung gas di rumah kami meledak."


"Memangnya di rumah tidak ada air minum?" 


"Semua teko dan botol kosong."


"Berarti ini salah Mbak Zura."


"Kenapa kamu nyalahin aku?"


"Kalau Mbak Zura mengurus rumah dengan baik, kalian tidak akan kehabisan air minum. Jadi, mas Fabian tidak akan merebus air. Lupa itu manusiawi, Mbak. Mas Fabian pasti lelah mengurus ibu dan Lyra sekaligus."


Apa-apaan ini? Mereka sekarang kompak memojokkanku.


"Kamu jangan asal bicara, Mila. Selama ini aku sudah berusaha mengurus rumah dengan baik."


"Tapi nyatanya apa? Mas Fabian memilih menikah lagi 'kan? Itu berarti mas Fabian sudah mulai bosan dengan Mbak."


Mila sudah keterlaluan. Beraninya dia merendahkanku begini. 


"Kamu, …!" Aku mengangkat tangan kananku bersiap melayangkan tamparan di wajahnya.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2