Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Malang tak dapat ditolak


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Aku mengajak ibu mengunjungi rumah skit jiwa tempat Fabian menjalani perawatan. Awalnya beliau menolak, namun setelah kuberi pengertian, akhirnya beliau menyetujui ajakanku.


Entah kebetulan atau tidak, kamar perawatan yang ditempati Fabian sekarang adalah kamar yang dulu pernah ditempati ibu saat menjadi penghuni tempat ini.


"Ini Bu Sabrina 'bukan? Masyaallah, saya senang sekali bisa kembali bertemu dengan Ibu dalam keadaan yang lebih baik," ucap seorang perawat yang bertugas di kamar perawatan itu.


"Alhamdulillah … Allah begitu baik pada saya. Jiwa saya bisa pulih kembali," ujar ibu.


"Oh ya, Ibu Sabrina ada perlu apa?"


"Ehm … kami ingin menjenguk salah satu pasien yang dirawat di sini, namanya Fabian." Aku menimpali.


"Oh, pak Fabian yang jadi korban penipuan itu ya? Saya miris sekali dengan apa yang dialaminya."


"Bagaimana keadaannya sekarang, Sus?"


"Masih belum ada perubahan, Bu. Ehm … maaf, apa Ibu ini istrinya?"


"Oh, bukan, Bu. Saya-saya saudaranya."


"Pak Fabian tidak sedang berada di dalam kamar perawatannya. Itu dia di sana." Perawat mengacungkan ibu jarinya pada sebuah bangku di taman kecil yang berada di bagian samping bangunan. Kami bertiga pun lantas menghampirinya.


"Pak Fabian, ada kunjungan untuk anda," ucapnya.


Fabian yang tengah sibuk memunguti daun-daun kering itupun lantas menoleh ke arah kami.


"Kembalikan uangku! Kamu penipu!" teriaknya histeris.


"Tenang, Bian. Aku Azzura, ibu dari putrimu, Lyra. Kamu masih ingat 'kan?"


Pria yang pernah menjadi imamku itu mengangguk pelan.


"Ikuti aku … astaghfirullahaldzim … astaghfirullahaldzim … " Aku menuntunnya untuk mengucapkan kalimat istighfar. Nyatanya dia mengikutiku, meskipun sorot matanya terlihat kosong.


"Kami turut prihatin atas apa yang menimpamu. Kuharap kamu bisa memetik banyak pelajaran dari semua ini."


"Lihat, uangku banyak." Fabian menyodorkan sebuah kantong plastik berisi penuh daun-daun kering.


"Aku kaya. Aku mau beli mobil baru dan membuka bisnis baru," ucapnya.


Ibu hanya diam sembari menatap iba pada mantan menantunya itu.


"Aku mau mengumpulkan uang lagi." Fabian beranjak dari tempat itu lalu menghampiri salah seorang pasien yang mengenakan jas dan dasi.


"Kita bekerja sama membangun bisnis," ucapnya. Pria yang hanya mengenakan celana pendek itu lantas menjabat tangan Fabian.


"Namanya pak Derry. Jiwanya terguncang setelah pabrik tekstil miliknya mengalami kebakaran setahun lalu," jelas perawat.


"Apa Fabian masih bisa sembuh, Sus?" tanyaku.


"Selain pengobatan secara medis, pasien juga membutuhkan dukungan moral terutama dari keluarganya. Maaf, apakah pak Fabian masih memiliki keluarga? Istri mungkin."


"Ehm … tidak, Sus. Ibunya baru saja meninggal dunia sementara istrinya pergi entah kemana."


"Sungguh malang nasibnya. Dalam kondisi seperti sekarang seharusnya dia mendapatkan pendampingan dari orang terdekatnya," ujar perawat prihatin.


"Insyaallah saya akan sering-sering mengunjungi Fabian," ucapku.


"Terima kasih atas kepedulian Ibu."


"Jika ada apa-apa, Ibu bisa menghubungi saya." Aku mengambil selembar kartu nama dari dalam dompetku lalu menyodorkannya pada perawat tersebut.


"Baik, Bu."


"Kalau begitu kami permisi dulu, selamat siang."


Aku dan ibu pun lantas meninggalkan rumah sakit jiwa.


"Ini tidak habis pikir, setelah apa yang Fabian lakukan padamu, kenapa kamu masih saja peduli padanya," ucap ibu.

__ADS_1


"Apa Ibu lupa? Fabian adalah ayah kandung Lyra. Aku mau Fabian sembuh seperti sedia kala agar dia bisa melanjutkan kembali hidupnya."


"Fabian sudah kehilangan segalanya. Usaha, tempat tinggal, bahkan keluarga. Untuk apalagi dia sembuh? Atau jangan-jangan kamu berniat rujuk dengannya?"


Aku mengulas senyum tipis.


"Sedikit pun aku tidak memiliki keinginan untuk kembali rujuk dengannya."


"Apa ini karena sudah ada seseorang yang mengisi hatimu?"


"Maksud Ibu apa?"


"Bagaimana hubunganmu dengan Keenan?"


"Apanya yang bagaimana? Hubungan kami biasa saja. Oh ya, aku jadi ingat siang ini aku ada janji dengan Herdian dan Keenan di cafe."


"Dua-duanya?"


"Ibu jangan berpikir macam-macam dulu. Kami bertiga bertemu untuk membicarakan rencana kerjasama. Keenan dan Herdian mendirikan supermarket da mereka memintaku untuk menjadi pemasok pakaian muslim yang akan mereka buka di salah satu lantainya."


"Setelah ini kamu pasti akan lebih sering bertemu Keenan."


"Ibu, sudahlah, berhenti menggodaku," gerutuku mulai sebal.


"Tidak dapat kakaknya, dapat adiknya. Itu bukan hal yang dilarang. Lagipula Keenan juga baik, sayang sama Lyra, mapan, tampan lagi. Nyaris tidak memiliki kekurangan."


"Ehm … Ibu pulang bareng pak Amin saja, aku bisa naik taksi ke cafe."


"Baiklah, hati-hati dengan hatimu."


"Apa maksud Ibu?"


"Siapa tahu setelah bertemu Keenan nanti kamu jadi, …"


"Assalamualaikum." Aku meraih tangan ibu lalu mencium punggung tangannya.


"Hati-hati, Nak."


Aku tersentak kaget saat tiba-tiba seseorang menghampiriku.


"Permisi, Bu. Apa Ibu sudah memesan meja sebelumnya?"


Rupanya seorang pelayan cafe.


"Meja nomor 27 yang sudah dipesan pak Keenan."


"Oh, di sebelah sana. Kawan Ibu sudah cukup lama menunggu." Pelayan itu mengacungkan ibu jarinya ke sebuah meja yang berada di dekat kolam. Ah, kenapa juga Keenan memilih meja di luar ruangan.


"Terima kasih," ucapku.


Aku pun lantas berjalan menghampiri meja bernomor 27 itu. Ternyata aku salah, pria yang kulihat dari kejauhan itu bukanlah Keenan, melainkan Herdian.


"Maaf, sedikit terlambat," ucapku.


"Oh, tidak apa. Perjanjian kita jam sebelas siang 'bukan?' Sepertinya saya yang datang terlalu cepat." Herdian meneguk jus jeruk miliknya yang tinggal sedikit hingga gelas itu benar-benar kosong.


"Anda bahkan sudah menghabiskan satu gelas jus."


"Silahkan duduk." Herdian beranjak dari tempat duduknya lalu menarik sebuah kursi untukku. Sungguh perlakuan yang begitu sopan dari seorang pria terhadap wanita.


"Terima kasih. Di mana Keenan? Saya pikir dia datang bersama anda."


"Rumah kami berlawanan arah. Mungkin sebentar lagi di sampai. Sepuluh menit yang lalu dia mengirim pesan pada saya sedang dalam perjalanan," ucap Herdian.


Aku mengangguk paham.


"Ngomong-ngomong saya ingin berterima kasih pada anda."


"Berterima kasih untuk apa?"


"Semalam pengasuh Haikal mengatakan pada saya jika Haikal sudah tidak pernah berbuat kenakalan lagi pada kawan-kawannya. Tidak hanya itu, setelah dekat dengan Lyra dan sering belajar bersamanya, nilai Haikal mengalami kenaikan. Ini semua berkat anda, Bu Azzura," papar duda beranak satu itu.

__ADS_1


"Berkat saya? Bagaimana Bapak bisa mengatakan demikian?"


"Haikal dulu sering merebut kotak bekal milik kawan sekelasnya, namun setelah anda berbaik hati membuatkan bekal untuknya, saya tidak pernah lagi mendengar laporan itu."


"Alhamdulillah, saya ikut senang jika Haikal sudah berubah."


"Seandainya saya memiliki istri sebaik anda," lirih Herdian.


"Bagaimana, Pak?"


"Oh, ti-ti-tidak apa."


Tidak lama kemudian Keenan menghampiri meja kami.


"Kalian sudah lama di sini?" tanyanya.


"Belum lama, baru setengah jam," jawab Herdian.


"Maaf, tadi saya antre di pom bensin."


Keenan menarik sebuah kursi lalu mendudukinya.


"Saya turut prihatin atas kejadian yang menimpa Fabian. Tadi pagi saya membaca beritanya di internet," ucap Keenan.


"Ya, kita tidak akan pernah tahu skenario yang sudah ditulis oleh Allah. Pun kita harus selalu berbaik sangka pada setiap ketentuan Allah. Allah selalu tahu apa yang terbaik untuk hamba Nya," ujarku.


"Apa Fabian yang kalian bicarakan itu pemilik konveksi yang tertipu pengusaha ekspor pakaian bernama Daniel?" Herdian menimpali.


"Ya," jawabku.


"Anda mengenal pak Fabian?"


Aku tersenyum tipis.


"Dia adalah mantan suami saya."


"Begitu rupanya. Saya pun nyaris menjadi korban penipuan Daniel. Beruntung saat itu logika saya bekerja. Saya merasa janggal dengan sistem pembayaran yang ditawarkan oleh penipu itu, akhirnya saya membatalkan kerjasama kami secara sepihak."


"Anda lebih beruntung dari Fabian," ujarku.


"Lantas, bagaimana keadaan pak Fabian sekarang?" tanya Herdian lagi.


"Kejadian itu membuat jiwa Fabian terguncang. Kini dia sedang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa."


"Saya memang tidak mengenal dekat pak Fabian. Akan tetapi apa yang dialaminya membuat saya turut prihatin."


"Dia masih memilki keluarga 'bukan?" tanya Keenan.


"Beberapa hari yang lalu dia masih memiliki istri dan ibu. Namun, kini istrinya justru memutuskan pergi entah kemana, sementara ibunya, …" Aku menggantung kalimatku. Rasanya terlalu berat untuk menceritakan jika ibunya Fabian telah tiada."


"Kenapa dengan ibunya?" tanya Herdian.


Aku menghela nafas berat.


"Ibunya Fabian meninggal dunia dua hari yang lalu. Beliau ditemukan meninggal dunia dalam keadaan bersujud di sebuah masjid yang tidak begitu jauh dari toko kueku. "Sungguh cara menghadap sang Rabb yang begitu indah 'bukan?"


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap Keenan dan Herdian bersamaan.


"Semoga beliau mendapatkan tempat yang layak di sisinya."


"Aamiin."


"Ngomong-ngomong, kenapa ibunya Fabian bisa ditemukan meninggal di masjid di dekat toko kue mu? Bukankah itu masjid itu jauh dari rumahnya?"


"Almarhumah ibu Kinanti diusir dari rumahnya oleh menantunya."


"Wanita macam itu. Setelah mengusir ibu mertuanya, lalu dia pergi tanpa peduli pada suaminya yang kini berada di rumah sakit jiwa," gerutu Herdian.


"Kemanapun wanita itu pergi, dia tidak akan pernah bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang," ujar Keenan.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2