
Hari ini aku berniat mengunjungi mantan ibu mertuaku di panti jompo. Tidak lupa kubawakan oleh-oleh makanan kesukaannya, kue lapis legit.
Sudah cukup lama menunggu, namun taksi tak kunjung melintas. Hingga tiba-tiba sebuah mobil yang pernah sekali kulihat berhenti tepat di hadapanku.
"Mbak Zura? Sedang apa di sini?"
"Mas Keenan? Ehm … saya-saya sedang menunggu taksi," jawabku.
"Memangnya Mbak Zura mau kemana?" tanyanya lagi.
"Saya ingin mengunjungi seseorang di panti jompo."
"Sepertinya kita searah. Tujuan saya ke Lembaga Pemasyarakatan. Daripada berlama-lama di sini, mari bareng saya saja. Kasihan dik Lyra nya kepanasan."
"Ehm, ti-ti-tidak usah, Mas. Tidak lama lagi taksinya pasti datang."
"Kalau tidak mau ya sudah, tidak perlu dipaksa," ucap seorang laki-laki yang duduk persis di samping bangku kemudi. Tunggu! Kenapa wajah mereka begitu mirip? Apakah mas Keenan memiliki saudara kembar?
"Mari, naik." Laki-laki yang kupanggil mas Keenan itu lantas menekan sebuah tombol hingga sepersekian detik kemudian salah satu pintu mobil terbuka.
"Cepat naik! Jangan buang-buang waktu!" bentak laki-laki yang mirip mas Keenan itu.
Aku heran. Mereka berdua bersaudara. Tapi mengapa sifat mereka begitu berlawanan? Tutur kata mas Keenan halus dan penuh kelembutan. Tapi, laki-laki yang mirip dengannya cenderung kasar.
"Tidak perlu bicara kasar begitu pada perempuan. Silahkan, Mbak."
Meski awalnya ragu, aku pun akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil tersebut.
"Kalau boleh saya tahu, siapa yang berada di panti jompo?" tanya Keenan.
"Mantan ibu mertua saya."
"Oh ya. Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan mas Fabian."
"Hah?! Apa maksudnya Fabian ayahnya Lyra? Di mana kalian bertemu?"
"Kami bertemu di Lembaga pemasyarakatan. Saya tidak sengaja menemukan ponselnya yang terjatuh di area parkir."
Aku mengangguk paham.
"Maaf, memangnya ada saudara Mas Keenan yang ditahan di sana?" tanyaku.
"Bukan saudara, Mbak. Tapi ibu kandung saya."
Aku memilih tak melanjutkan pertanyaanku lagi. Kurasa itu kurang etis bagiku yang belum lama mengenalnya.
"Apapun masalah yang dialami ibu kalian saya do'a kan semoga segera menemukan jalan keluar terbaik."
"Aamin. Terima kasih do' a nya."
Sekali lagi aku mengamati wajah keduanya melalui kaca spion yang berada tepat di atas bangku kemudi. Hemm … sepertinya mereka memang kembar.
"Pasti Mbak menyangka kalau kami kembar," ucap Keenan. Sepertinya dia merasa kuamati.
"Kalian memang begitu mirip."
"Tapi sayangnya kami bukan saudara kembar. Laki-laki yang duduk di samping saya ini bernama Gibran, dia adalah kakak saya. Hanya saja jarak usia kami hanya satu tahun," ungkap Keenan.
"Begitu rupanya."
__ADS_1
Tiba-tiba mobil itu berhenti.
"Kenapa kita berhenti?" tanyaku.
"Mbak Zura mau ke panti jompo 'kan? Kita sudah sampai."
Astaghfirullah. Karena terlalu asyik mengobrol, aku tidak menyadari jika aku sudah sampai di tempat tujuanku.
"Ini, Mas ongkosnya," ucapku sembari menyodorkan selembar uang pecahan lima puluh ribu pada mas Keenan.
"Ya Allah, Mbak. Kenapa Mbak membayar saya? Saya hanya berniat membantu. Simpan saja uang itu untuk membeli popok Lyra."
"Rejeki kok ditolak. Kalau kamu tidak mau, uangnya buat aku saja. Lumayan buat beli rokok." Tiba-tiba saja Gibran merebut uang itu dari genggamanku lalu dimasukkannya ke dalam saku kemejanya. Keenan hanya menggeleng heran melihat sikap saudara kandungnya itu.
Detik kemudian pintu terbuka. Aku pun bergegas melangkah keluar dari mobil berwarna silver itu.
"Terima kasih, Mas," ucapku.
"Sepertinya kita seumuran. Panggil nama saja biar lebih akrab," ucap Keenan.
"Ehem!" Gibran berdehem hingga membuat Keenan sedikit kikuk.
"Apa kapan kalian mau ngobrol terus?" protesnya.
"Mas Gibran ini jadi orang kok nggak sabaran banget!" Giliran Keenan menggerutu.
"Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam. Dadah Lyra." Keenan melambaikan tangannya ke arah Lyra yang berada di gendonganku. Putri kecilku yang sudah berusia setahun itu pun membalas lambaian tangannya.
"Dadah … A-yah."
"Panggil paman, Sayang. Jangan ayah," ucapku.
"Pa-man."
"Ma-ma-af, mungkin Lyra belajar bicara," ucapku gugup.
"Tidak apa. Saya maklum," ujar Keenan.
"Astaga. Masih belum selesai juga mengobrolnya," gerutu Gibran lagi.
"Maaf, Mbak. Saudara saya memang sedikit cerewet," sindir Keenan.
"Ayo, cepat lah. Ibu sudah menunggu kita," ucap Gibran.
"Kami permisi dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mobil itu pun lantas berlalu dari hadapanku.
Untuk pertama kalinya aku memasuki sebuah tempat bernama panti jompo. Tempat di mana pria atau wanita lanjut usia "diasingkan" oleh keluarganya lantaran enggan ataupun tidak sanggup mengurus mereka ketika memasuki usia senja.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang petugas yang menyambutku di depan pintu masuk.
"Saya ingin menemui ibu Kinanti."
"Mari ikut saya." Petugas itu menuju sebuah ruangan, sementara aku mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
"Ibu, …" Detik itu juga cairan bening di mataku meleleh. Aku pun lantas menghambur ke dalam pelukannya.
"Zura, …"
"Bagaimana kabar Ibu?" tanyaku.
"Ibu kangen sama kalian," lirihnya. Aku bisa menangkap sepasang netra itu berkaca-kaca.
Alhamdulillah, cara ibu berbicara sedikit lebih baik dari saat terakhir kami bertemu beberapa bulan kemarin.
"Aku dan Lyra juga kangen dengan Ibu."
"Ne-nek," celoteh Lyra.
"Iya, Sayang. Ini nenekmu," ucapku.
"Kamu sudah besar, Sayang," ucap ibu.
"Ya, Bu. Lyra baru saja merayakan ulang tahunnya yang pertama."
"Fabian tega sama ibu."
"Keadaan Fabian sekarang begitu sulit. Dia kehilangan semua harta bendanya, dan Mila kini berada di penjara. Fabian tidak mampu membayar perawat. Itulah sebabnya dia terpaksa mengirim ibu ke tempat ini," jelasku.
"Bawa ibu tinggal bersamamu."
Bagaimana ini? Di tempat kost ku sekarang ada Fina yang tinggal bersamaku. Haruskah aku mengajak beliau juga?
"Ibu janji tidak akan merepotkanmu."
"Aku minta maaf, Bu. Untuk sekarang ini aku belum bisa mengajak Ibu tinggal bersamaku. Tapi aku janji, suatu saat nanti aku pasti mengajak Ibu keluar dari tempat ini," ucapku.
"Kamu janji, Zura?" tanya ibu.
Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban.
"Oh ya, aku membawakan makanan kesukaan Ibu," ucapku seraya meraih kantong plastik berwarna hitam itu lalu memberikannya pada ibu.
"Rupanya kamu masih ingat makanan kesukaan ibu."
"Tentu saja, Bu. Aku bahkan masih ingat makanan apa saja yang Ibu sukai dan tidak Ibu sukai".
"Bagaimana kabar Mila?"
"Beberapa hari yang lalu aku mengunjunginya. Dia baik-baik saja, Bu."
"Apa hubungannya dengan Fabian baik-baik saja?" tanya ibu lagi.
Apa yang harus kukatakan? Haruskah aku mengatakan jika Fabian berniat menceraikan Mila?
Bersambung …
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
__ADS_1