
"Katanya hanya mau makan bakso, kok baru pulang," tegur ibu saat aku dan Lyra baru saja memasuki ruang tamu.
"Tadi ibu mencari seseorang, Nek," ucap Lyra.
"Siapa?"
"Ehm … Lyra. Sudah sore mandi dulu, ya," titahku. Putri kecilku itu menganggukkan kepalanya. Ia pun lantas masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu mencari siapa?" tanya ibu.
"Bu Kinanti."
"Kenapa kamu mencari perempuan menjengkelkan itu? Toh dulu dia sendiri yang memilih pergi dari rumah ini."
"Tadi aku mendengar cerita dari pemilik kedai. Dia mengatakan beberapa jam yang lalu ada seorang wanita yang mampir di kedai miliknya. Wanita itu diusir dari rumahnya oleh menantunya, sementara anak laki-lakinya ditipu rekan bisnisnya hingga merugi milyaran rupiah. Sekarang anaknya dikirim ke rumah sakit jiwa. Aku merasa laki-laki yang tertipu itu adalah Fabian dan wanita itu bu Kinanti," paparku.
"Kalaupun wanita itu memang si Kinanti, Kenapa kamu harus peduli?" sungut ibu.
"Bu Kinanti sudah tidak muda lagi. Pasti tidak mudah hidup sendirian di luar sana," ujarku.
"Biarkan saja, itu konsekuensi dari kesombongannya. Kita juga tidak pernah tahu dari mana mereka dia mendapatkan uang untuk membuka konveksi itu. Pasti uang itu didapat dengan cara yang tidak baik, jadi pada akhirnya usahanya hancur," ucap ibu.
"Di sini kak Maureen yang keterlaluan. Tidak seharusnya dia mengusir bu Kinanti dari rumahnya."
"Maureen pasti punya alasan kenapa dia melakukan hal itu. Bukan tidak mungkin usahanya bangkrut, dan dia harus menjual rumah untuk membayar hutang ataupun gaji karyawan."
"Ehm … Bu. Bagaimana kalau kita datangi rumah kak Maureen?"
"Untuk apa? Apa kamu lupa apa yang sudah ia perbuat padamu?"
"Itu masa lalu, Bu. Insyaallah aku sudah melupakan semuanya. Aku juga sudah memaafkan kak Maureen. Biar bagaimanapun kak Maureen itu puteri Ibu juga 'bukan? Apa Ibu tidak memiliki sedikit pun rasa peduli padanya?"
"Kalau kamu memang ingin menemuinya, temui saja sendiri. Memang benar dia puteri ibu juga, tapi ibu benar-benar tidak menyukai sifatnya. Keras kepala, pembangkang, dan pendendam. Ibu menyesal melahirkan anak sepertinya."
"Sebenci apapun Ibu pada kak Maureen, aku yakin masih ada kasih sayang Ibu untuknya."
"Sudahlah, ibu malas membahas dia lagi". Ibu berlalu dari hadapanku lalu masuk ke dalam kamarnya.
Tiba-tiba Fina keluar dari dalam kamarnya.
"Bu, apa benar usaha konveksi pak Fabian menjadi korban penipuan? Tadi aku membaca beritanya di internet."
"Benar, Fin. Usahanya merugi hingga milyaran rupiah. Bahkan Fabian harus dikirim ke rumah sakit jiwa karena mengalami depresi."
"Itulah balasan bagi orang-orang sombong seperti mereka bertiga. Mereka lupa jika rida kehidupan berputar. Saat di atas mereka besar kepala, padahal mudah saja bagi Allah untuk menjatuhkan mereka," ujar Fina.
Aku mengulas senyum tipis.
"Kamu semakin bijak saja, Fin."
"A-a-pa?"
"Siapa yang mengajarimu?"
"Tidak ada yang ngajari kok."
"Oh ya, ibu lega, Rizal tidak pernah lagi mengirim buket bunga." Aku mengalihkan pembicaraan.
"Sudah beberapa hari belakangan Rizal tidak masuk kuliah."
"Oh, ya? Kenapa dia?"
"Dia sedang sakit."
"Kamu sudah menjenguknya?" tanyaku.
Puteri Angkatku itu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu masih marah sama dia? Atau masih kesal?"
"Aku-aku, …"
"Besok ibu temani kamu ke rumah bu Murni."
"Beneran?"
"Ya. Kamu sudah shalat Ashar?" tanyaku.
"Be-be-belum."
"Mari kita shalat berjamaah. Sudah lama kita tidak shalat besama." Aku merangkul pundak Fina lalu mengajaknya menuju mushola yang berada di rumah bagian belakang.
****
Malam itu kami tengah berkumpul di meja makan ketika terdengar suara seseorang mengetuk pintu depan rumahku. Bi Ami yang tengah menyiapkan makanan pun bergegas menghampiri pintu tersebut.
"Siapa, Bi?" tanyaku dari ruang makan.
Beberapa saat kemudian asisten rumah tanggaku itu itu pun kembali ke ruang makan.
"Ehm … itu … anu, …"
"Itu … anu … bicara itu yang jelas." Ibu menimpali.
"Yang di depan itu bu Kinanti."
Aku lekas beranjak dari tempat dudukku lalu berjalan menuju pintu depan. Benar rupanya, orang yang bertamu malam itu adalah mantan ibu mertuaku, bu Kinanti.
"Ibu, …"
"Nduk, …"
Tiba-tiba saja ibu kandung Fabian itu menjatuhkan lututnya lalu bersimpuh di hadapanku.
"Ya Allah. Jangan begini, Bu. Ibu bangun," ucapku seraya mengangkat kedua bahunya.
"Ibu tidak akan berdiri sebelum kamu memaafkan ibu."
"Aku sudah memaafkan Ibu, jauh sebelum Ibu meminta maaf," ujarku.
Bu Kinanti beranjak dari lantai.
"Nenek," panggil Lyra.
"Maafkan nenek, Sayang. Nenek sudah jahat sama kamu."
Lyra pun lantas menghambur ke dalam pelukannya.
Aku mengajak bu Kinanti duduk di sofa.
"Ibu sudah kehilangan semuanya. Usaha Fabian hancur, dia di rumah sakit jiwa dan Maureen yang serakah itu sudah menjual mobil juga rumah kami."
"Aku sudah tahu semaunya, Bu."
"Kamu tahu dari mana?"
"Pemilik kedai di dekat perempatan jalan sana yang menceritakannya padaku. Oh ya, Ibu sudah makan malam?"
Bu Kinanti menggelengkan kepalanya.
"Sedari siang tadi ibu hanya berputar-putar di kota ini. Selain rumah ini, ibu tidak tahu harus kemana."
"Perempuan tidak tahu malu. Kamu sendiri yang sok-sokan ngomong tidak butuh bantuan Zura lagi. Kenapa saat kesusahan Zura juga yang kamu cari?! Kalau kamu ingin tinggal lagi di rumah ini, jangan harap kami menerimamu lagi!" sungut ibu.
"Saya sadar, mungkin apa yang saya alami ini adalah teguran atas kesombongan saya beserta anak saya, Fabian. Tapi Bu Sabrina jangan khawatir, maksud kedatangan saya ke rumah ini bukan untuk meminta tempat tinggal, tapi meminta maaf. Soal tempat tinggal, nanti saya bisa tinggal di mana saja," ungkap bu Kinanti.
__ADS_1
"Bu … biarkan nenek tinggal di sini ya," rengek Lyra.
"Lyra, Sayang. Kesalahan nenek sudah terlalu banyak. Nenek tidak pantas lagi tinggal bersama kalian."
"Nenek sudah tidak punya rumah 'kan? Nenek mau tinggal di mana? Bagaimana kalau Nenek sakit? Siapa yang akan merawat Nenek?"
Tanpa penjelasan dariku pun rupanya Lyra sudah cukup paham dengan kondisi yang dialami neneknya saat ini.
"Tidak apa, Sayang. Nenek bisa menjaga diri kok," ucap bu Kinanti sembari membelai lembut rambut Lyra.
"Kalau mau pergi, pergi saja. Tidak usah kebanyakan drama," ketus ibu.
"Tunggu, Bu. Ibu bilang tadi belum makan malam 'bukan? Ibu makan malam dulu bersama kami."
Bu Kinanti mengulas senyum tipis.
"Dari dulu hatimu memang baik dan tulus, Nduk. Fabian begitu bodoh meninggalkanmu hanya demi perempuan keras kepala dan pembangkang seperti Maureen," ujarnya.
"Nenek makan dulu," bujuk Lyra.
"Tidak usah, Sayang. Nenek tidak ingin merepotkan kalian. Saya lega sudah meminta maaf pada kalian semua. Seandainya saya tidak memiliki umur lagi, saya tidak akan pergi membawa beban."
"Ibu jangan bicara seperti itu." Aku meraih tangan bu Kinanti lalu menggenggamnya.
" Umur tidak ada yang tahu, Nduk."
"Ibu makan dulu ya, malam ini Ibu menginap saja di rumahku. Besok kubantu mencari rumah kontrakan,"bujukku.
"Kenapa kamu malah memintanya menginap dirumah ini? Biarkan saja dia pergi. Toh dia bilang bisa menjaga diri 'kan?" protes ibu.
"Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum."
"Nenek mau pergi kemana?" tanya Lyra. Sorot matanya terlihat berkaca-kaca.
"Ibu harus pergi, Sayang."
"Ini sudah malam, Bu. Di luar sana dingin dan tidak aman. Ibu menginap saja di rumahku." Aku kembali membujuk mantan inu mertuaku itu.
"Maaf, Nduk. Ibu tidak bisa. Ibu harus pergi. Sekali lagi ibu minta maaf atas semua kesalahan ibu. Dan kamu, Lyra, belajar yang rajin, jadilah perempuan yang hebat seperti ibumu," ucap bu Kinanti.
"Nenek jangan pergi, Nek."
"Bu … menginap lah di rumahku malam ini." Untuk ke sekian kali aku membujuknya.
Tiba-tiba bu Kinanti meraih tanganku lalu menatapku lekat.
"Kamu perempuan yang baik, kamu pantas mendapatkan laki-laki yang baik pula. Maafkan semua kesalahan Fabian," ucapnya dengan suara bergetar.
"Bu … Ibu … tetap lah di sini, Bu."
Aku mencoba menahan lengannya saat ia hendak beranjak dari ruang tamu, namun percuma saja. Keinginannya untuk pergi lebih kuat.
"Assalamualaikum."
"Wa'aalaikumsalam."
Aku hanya bisa berdiri mematung menatap punggung yang sedikit bungkuk itu berlalu dari hadapanku. Detik kemudian buliran hangat mulai membasahi pipiku.
Bersambung …
Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1