
Beberapa hari kemudian.
Setelah diliburkan beberapa hari lantaran masa berkabung, pagi ini Lyra kembali masuk sekolah.
"Bu, aku mau bekal nasi goleng yang cantik," ucap Lyra saat aku mengepang rambutnya.
"Nasi goleng yang cantik itu seperti apa, Sayang?" tanyaku.
"Nasi yang ada bunga nya."
"Mungkin maksud Lyra nasi goreng yang begini, Bu." Fina memperlihatkan layar ponselnya ke arahku. Tampak foto nasi goreng di dalam wadah yang dihias cantik dengan aneka sayuran.
"Iya … sepelti itu!" serunya penuh semangat.
"Ya sudah, ibu siapkan dulu bekalnya. Lyra sarapan dulu sama mbak Fina," ucapku.
Keduanya pun lantas berjalan beriringan menuju ruang makan.
Aku baru saja meracik bumbu nasi goreng yang diminta Lyra, tiba-tiba rasa mual menyerangku. Aku pun menghentikan pekerjaanku sejenak. Lekas kutuangkan air hangat ke ke dalam sebuah gelas kemudian kuteguk hingga setengahnya.
"Ibu kenapa?" tanya bi Ami yang baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk Lyra dan Fina.
"Perut saya mual lagi, Bi."
"Apa tidak sebaiknya Ibu memeriksakan diri ke dokter? Saya khawatir Ibu kenapa-napa."
"Sebenarnya dulu saat Lyra masih bayi, dokter pernah memvonis saya mengalami gejala usus buntu. Akan tetapi sakit itu menghilang dengan sendirinya. Baru beberapa hari belakangan ini saya merasa gejala yang dulu saya alami kembali muncul," ungkapku.
"Jangan menundanya lagi, Bu. Ibu harus secepatnya memeriksakan diri ke rumah sakit."
"Ya, Bi. Setelah mengantar Lyra ke sekolah, saya akan langsung ke rumah sakit."
"Ibu mau masak apa?" tanyanya saat mendapati irisan bawang merah di atas meja dapur.
"Lyra minta dibuatkan nasi goreng dengan hiasan sayuran."
"Kalau buat nasi gorengnya saja itu urusan kecil, tapi untuk urusan hias menghias, saya angkat tangan." Wanita yang rambutnya mulai ditumbuhi uban itu terkekeh.
"Saya minta tolong lanjutkan menggoreng nasinya, lalu siapakah wortel dan sayuran lainnya. Biar saya yang membuat hiasannya."
"Nasi goreng cantik nya sudah siap," ucapku seraya meletakkan kotak bekal berisi nasi goreng lengkap dengan hiasannya di atas meja makan.
"Terima kasih, Bu." Lyra lantas menghadiahiku dengan sebuah kecupan lembut di pipi kananku.
"Jangan lupa dihabiskan ya, Sayang."
"Siap, Bos."
"Ehm … Bu," panggil Fina.
__ADS_1
"Ada apa, Fin."
"Hari ini aku harus membayar iuran sekolah."
"Iuran apa?"
"Ehm … iuran untuk korban bencana alam."
Aku mengulas senyum.
"Baik, ibu ambil uangnya dulu."
"Segini cukup 'kan?" Aku menyodorkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu pada gadis yang sudah kuanggap layaknya putri sendiri itu.
"Cukup banget."
"Hmmmm? Aku mengerutkan keningku."
"Mak-mak-sud aku, cukup, Bu. Ibu guru tidak menentukan jumlahnya kok. Ya sudah aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum." Fina lantas meraih tangan kananku kemudian menciumnya penuh takdzim.
"Dadah Lyra."
"Dadah Mbak Fina."
Fina pun meninggalkan ruang makan dan berangkat menuju sekolahnya.
"Ibu, ayo belangkat," ucap Lyra usai menghabiskan sarapannya.
Setibanya di sekolah.
Suasana sekolah biasanya ceria. Namun tidak dengan pagi ini. Tak terlihat murid-murid yang bermain ataupun berlarian di halaman sekolah. Ternyata peristiwa kecelakaan yang merenggut lima belas nyawa murid di sekolah ini benar-benar sudah merenggut keceriaan di tempat ini.
"Assalamu'alaikum," sapa seorang pengajar yang wajahnya asing bagiku.
"Waalaikumsalam, Bu."
"Ibu siapa?" tanya Lyra dengan mata polosnya.
Wanita berhijab itu membungkukkan badannya.
"Panggil saya ibu guru Syifa, nama kamu siapa?"
"Nama saya Lyla."
"Namanya Lyra, Bu. Maaf, dia belum bisa mengucapkannya huruf R. Oh, jadi Ibu guru Syifa ini pengajar baru di TK ini?"
"Benar, Bu. Hari ini adalah hari pertama saya mengajar di sekolah ini. Sebelumnya saya mengajar di TK Harapan."
"Saya rasa Ibu sudah tahu apa yang terjadi di sekolah ini."
__ADS_1
"Ya, semoga semua korban mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah Subhanallahu wata'ala."
"Aamiin."
Tidak berselang lama muncul seorang wanita bersama seorang anak laki-laki.
"Bukankah itu bu Mala dan Saddam?" batinku.
Aku bisa melihat ekspresi tidak suka di wajahnya saat melihatku.
"Assalamu'alaikum, Bu Mala?" sapaku.
"Waalaikumsalam," jawabnya datar.
Dari bu Mala, pandanganku beralih pada Saddam. Anak laki-laki yang tidak lain adalah keponakanku. Ya, meskipun dia saudara satu ayah dengan putriku, Lyra.
"Hai, anak tampan," sapaku.
"Bibi siapa?"
"Ehm … panggil saja bibi Azzura. Bibi adalah ibunya Lyra," jelasku.
Kulihat senyum mengembang di bibir bocah laki-laki itu. Begitu mirip dengan cara Fabian tersenyum.
"Saddam, main di dalam kelas, yuk," ajak Lyra.
"Ayok." Kedua bocah itu pun lalu masuk ke dalam kelas.
"Ibu-ibu, saya permisi dulu," ucap pengajar baru itu sebelum ia masuk kembali ke dalam ruang guru.
"Apa kita bisa bicara sebentar?" ucap bu Mala. Dia pun lalu mengajakku menuju sebuah bangku.
"Bagaimana dengan kabar putera kandung saya?" tanyanya.
Tentu saja pertanyaan itu membuatku kebingungan. Bagaimana aku harus menjelaskan padanya jika putera kandungnya yang oleh kak Maureen diberi nama Rayyan itu menjadi salah satu korban tewas dalam kecelakaan bus sepekan lalu?
"Kenapa Bu Zura diam saja? Jangan-jangan Ibu hanya ingin menipu saya."
"Bukan begitu, Bu. Sebelumnya saya minta maaf. Mungkin yang akan saya sampaikan bukan hal yang enak didengar."
"Apa sebenarnya maksud Ibu?"
Bu Mala menatapku penuh selidik.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰