
Tentu saja kemunculan perempuan itu membuat ibu tersentak kaget. Dari tempatku berdiri aku bisa mendengar suara perempuan itu dengan cukup jelas.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menyetujui hubunganmu dengan ayahku!"
Siapa perempuan itu? Apakah dia yang bernama Widya?
"Dengar perempuan penggoda! Jauhi ayahku atau kamu akan menyesal!"
Ibu nyaris terjatuh saat perempuan itu tiba-tiba mendorong tubuhnya.
Aku tidak boleh diam saja. Akhirnya aku pun memutuskan menghampiri keduanya.
"Maaf, Mbak ini siapa? Kenapa tiba-tiba memaki ibu saya?" tanyaku.
"Perkenalkan. Nama saya Widya. Putri tunggal dari bapak Prayoga."
Benar dugaanku, perempuan itu memang lah Widya. Aku pun lantas mengamati wajahnya. Jika dilihat dari wajahnya, usianya mungkin baru dia puluh tahun an.
"Maaf, menurut saya kurang baik berdebat di pinggir jalan begini. Jika memang ada yang ingin Mbak bicarakan dengan ibu saya, sebaiknya kita bicarakan saja di dalam," ucapku.
"Tidak perlu! Saya hanya ingin mengingatkan pada perempuan ini agar menjauhi ayah saya. Jangan berharap kalian bisa menikah!"
"Kami saling mencintai. Ayahmu sendiri yang mengatakan dia akan tetap menikahiku meskipun tanpa persetujuanmu!"
__ADS_1
"Kamu lihat saja nanti. Jika kalian tetep menikah, aku akan mengacaukan semuanya!" ancam Widya.
"Kamu pikir aku takut dengan ancaman itu 'hah!"
"Aku tahu kamu mendekati ayahku hanya karena mengincar hartanya saja 'kan? Dasar perempuan mata duitan!"
"Jaga mulutmu, Nona! Gadis tidak tahu sopan santun!" seru ibu.
"Kamu yang tidak tahu diri! Sudah tua masih saja menggoda laki-laki!"
Perdebatan mereka terhenti saat tiba-tiba pemilik kost muncul dan menghampiri kami.
"Astaga! Kamu lagi. Kenapa senang sekali membuat kegaduhan di tempat ini? Apa kamu sudah bosan tinggal di sini?"
Dari ibu, pandangan cik Leni beralih ke Widya.
"Kamu siapa? Kenapa membuat keributan di tempat kost saya?" tanyanya.
"Perlu Nyonya tahu, perempuan ini bukan perempuan baik-baik."
"Jaga mulutmu!" seru ibu.
"Saya tidak peduli dengan urusan pribadi kalian. Saya tidak suka siapapun membuat keributan di tempat ini. Saya harap Nona segera tinggalkan tempat ini atau saya akan memanggil petugas keamanan!" ancam cik Leni.
__ADS_1
"Liihat saja nanti. Jika kamu tidak menghiraukan ucapanku, aku akan membuat hidupmu kacau!" ancam Widya. Dia lantas masuk ke dalam taksi yang kebetulan melintas tepat di depan tempat kost.
"Ini peringatan yang terakhir. Sekali lagi Bu Sabrina membuat keributan, silahkan tinggalkan tempat ini. Selamat siang!"
"Ibu lihat sendiri 'kan? Widya tidak menyetujui rencana pak Prayoga untuk menikahi Ibu. Apa Ibu tidak takut dengan ancaman Widya? Sepertinya dia tidak main-main."
"Halah. Itu hanya gertak sambal. Ibu sama sekali tidak takut. Yoga saja lebih mentingin ibu dibandingkan anaknya sendiri."
"Tapi, Bu, …"
"Ibu pergi sekarang."
Ibu menghentikan taksi yang melintas, ia pun lalu masuk ke dalamnya.
Apakah keputusan pak Prayoga untuk menikahi ibu adalah keputusan yang tepat? Bagaimana jika Widya tidak main-main dengan ancamannya? Bagaimana jika dia benar-benar membuat hidup ibu kacau? Tapi, jika bukan pak Prayoga, pria mana yang mau menikahi ibu yang kini tengah berbadan dua?
Ya Rabb skenario apalagi yang sudah Engkau siapkan untuk kami?
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1