
Keesokan paginya.
"Kamu nggak sarapan dulu, Fin?" tanyaku saat mendapati putri angkatku itu keluar dari dalam kamarnya dan melengang begitu saja melewati meja makan.
"Aku tidak lapar," jawabnya datar.
"Ya sudah, ibu siapkan bekal. Nanti kamu makan di kampus," ucapku.
"Tidak perlu. Aku sedang tidak selera makan."
"Kamu sakit? Kalau kamu sakit izin saja pada dosenmu," ucapku.
Fina menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, minum dulu susu nya. Jangan berangkat kuliah dengan perut kosong."
Aku menuangkan susu ke dalam gelas lalu memberikannya pada Fina. Bukannya menerima gelas berisi susu segar itu, Fina justru menepisnya. Yang terjadi berikutnya adalah gelas tersebut terjatuh dan berceceran di atas lantai.
"Lyra sudah selesai sarapan nya?" tanyaku. Putri kecilku itu menganggukkan kepalanya.
"Bi, tolong mandikan Lyra," titahku pada bi Ami. Tentu saja aku tidak ingin Lyra melihat perdebatan kami selanjutnya.
"Baik, Bu." Asisten rumah tanggaku itu pun lantas menggandeng tangan Lyra lalu mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.
"Keterlaluan kamu, Fin! Cepat minta maaf pada ibumu! Anak tahu diuntung!" sentak ibu yang kini duduk tepat di hadapanku.
"Aku 'kan sudah bilang, aku tidak lapar!" tegas Fina. Ia lantas berlalu dari hadapan kami.
Tidak ada asap jika tidak ada api. Aku yakin ada penjelasan kenapa sikap Fina berubah kasar dan dingin padaku.
"Fina! Tunggu!" seruku.
__ADS_1
Gadis yang sudah lebih dari enam tahun tinggal bersamaku itu pun menghentikan langkahnya.
"Katakan pada ibu, apa yang membuatmu kasar dan dingin begini," ucapku seraya menatap lekat matanya.
Fina terdiam dan menundukkan wajahnya.
"Jika ibu punya salah, katakan apa salah ibu. Jangan hukum ibu dengan cara seperti ini," ujarku.
"Aku sudah terlambat."
Fina mencoba kembali kakinya, namun aku menahannya. Aku justru merengkuh tubuh gadis yang begitu kukasihi itu ke dalam pelukanku.
"Ibu tahu, kamu pasti punya alasan dengan sikapmu yang lain dari biasanya ini," ucapku.
Fina masih enggan bersuara.
"Lyra bilang pada ibu, pagi kemarin pagi kamu menangis setelah membuang buket bunga ke dalam tempat sampah. Apa benar begitu?" ucapku sesaat setelah melonggarkan pelukanku.
"Fina … ibu menyayangimu seperti halnya ibu menyayangi Lyra. Apa yang membuatmu marah sama ibu? Cerita lah."
"Maksud kamu apa bicara begitu, Nak?"
"Sudahlah, Ibu tidak usah berpura-pura lagi. Selama ini Ibu diam-diam berhubungan dengan Rizal 'kan?"
"Rizal? Maksudmu Rizal kawan kuliahmu itu? Bagaimana kamu bisa menuduh ibu begitu? Mana mungkin ibu berhubungan dengan Rizal. Ibu sadar diri, siapa Rizal, dan siapa ibu. Kami tidak mungkin menjalin hubungan."
"Tapi Rizal sangat mengagumi Ibu."
"Apa? Rizal menyukai Ibu? Itu mustahil."
"Rizal lah orang yang mengirim buket bunga itu."
__ADS_1
"Apa?! T-t-tapi, dari mana kamu tahu?"
"Aku yang melihat dengan mata kepalaku sendiri saat Rizal meletakkan buket bunga itu di meja teras rumah."
"Itu tidak mungkin," bantahku.
"Apanya yang tidak mungkin? Aku sendiri yang melihatnya. Meskipun mengenakan topi dan masker, aku hafal betul postur tubuhnya. Laki-laki itu Rizal. Selama ini dia mendekatiku hanya karena ingin tahu banyak hal tentang Ibu," papar Fina.
Aku mengulas senyum.
"Kamu suka sama Rizal?" tanyaku seraya mengusap lembut kepalanya yang tertutup kain hijab. Fina mengangguk pelan.
"Dengar, sah-sah saja mengagumi seseorang. Tapi kamu perlu tahu, ibu tidak memiliki perasaan apapun pada pemuda itu. Ibu bahkan menganggapnya seperti keponakan ibu sendiri. Mungkin dia hanya mengagumi ibu saja. Tapi belum tentu dengan perasaannya. Usia kami terpaut jauh. Sepertinya tidak mungkin dia menyukai ibu. Bisa saja dia mendekatimu karena memang menyukaimu," paparku.
"Maafkan aku, Bu. Mungkin sikapku sudah menyakiti hati Ibu. Aku hanya cemburu karena berpikir Rizal lebih menyukai Ibu."
"Kamu ini perempuan yang baik. Allah pasti akan mempertemukanmu dengan laki-laki yang baik pula. Kamu paham 'kan, maksud ibu?" tanyaku. Fina mengangguk paham.
"Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menyukai atau membenci kita. Tapi dengan kebaikan hatimu, ibu yakin kamu tidak akan sulit menemukan siapa laki-laki yang sudah Allah persiapan sebagai jodohmu," ujarku.
"Ibu memang malaikat tak bersayap bagiku. Aku begitu beruntung memiliki ibu sepertimu," ujar Fina.
"Ibu juga beruntung dipertemukan denganmu. Karena kamu lah aku kuat. Kamu selalu menemani hari-hari beratku saat keadaanku terpuruk," ucapku.
"Ibu. Hu … hu … hu…" Kubiarkan saja Fina terisak di pundakku.
Bersambung …
Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰