Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Sulit kupahami


__ADS_3

"Sejak kapan Ibu mengganti parfum?" tanyaku.


"Ehm, baru beberapa hari belakangan ini. Ibu mencoba aroma baru," jawabnya.


Tidak hanya aroma parfum yang berbeda, penampilan ibu pun kini terlihat lebih segar. Wajahnya bersih, rambut hitamnya yang sudah melebihi pinggang itu kini dipangkas hingga sebahu. Warnanya pun kini sedikit kemerahan. Kurasa beliau mewarnainya. Sungguh, ibu terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usianya.


"Malam ini kamu nggak usah masak. Ibu sudah membeli pizza," ucap ibu sembari meletakkan kotak berukuran besar makanan cepat saji itu di atas meja makan.


"Ibu tidak seharusnya membeli makanan itu. Sayang uangnya. Harga satu box pizza itu mungkin sebanding dengan uang belanja dua hari," ujarku.


"Sesekali tidak apa menyenangkan lidah. Jangan dikasih makanan itu-itu saja," tukas ibu. "Oh ya, yang tadi itu perawat di rumah sakit 'kan?" tanyanya kemudian.


"Benar, Bu. Namanya Khumayra. Kebetulan dulu kami satu kelas saat SMA. Tadi kami tidak sengaja bertemu di supermarket saat aku membeli popok untuk Lyra. Jadi kuajak mampir," jelasku.


"Apa kawanmu itu belum menikah atau punya anak?" tanya ibu penasaran.


"Mayra pernah menikah, tapi pernikahannya gagal. Kini dia tinggal bersama kakak laki-lakinya. Kebetulan dia baru pulang bekerja dari luar kota."


"Ya sudah, ibu ke kamar dulu," ucap ibu. Dia pun lantas beranjak dari ruangan itu lalu masuk ke dalam kamarnya.


****


Setelah makan malam dan menidurkan Lyra, aku kembali berkutat dengan mesin jahitku. Aku ingin segera menyelesaikan jahitan dua pelanggan baruku.


Entah mengapa malam ini pikiranku begitu gelisah. Suara ibu yang memanggil namaku dan Lyra seolah begitu jelas terdengar di telingaku. Kucoba menepisnya, namun kini aku justru membayangkan ibu yang dimarahi Fabian dan Karmila lantaran semalaman terus menangis memanggil nama kami.


"Aww!" Aku memekik kesakitan saat salah satu jariku tertusuk jarum jahit. Ini pasti karena pikiranku tak terpusat di satu titik saja.


Kupandang jam dinding di ruang tamu. Pukul 22.30. Bagiku ini belum terlalu larut. Mungkin dua jam lagi jahitan pesanan pelangganku selesai. Demi mengusir rasa kantuk yang mulai menyerang, aku pun memutuskan untuk menyeduh teh hangat.


Aku beranjak dari tempat dudukku lantas kulangkahkan kakiku menuju dapur. Namun, langkahku terhenti saat melintasi kamar ibu. Dari tempatku berdiri, aku bisa mendengar jika ibu tengah mengobrol dengan seseorang melalui sambungan telepon. Meski pelan, telingaku masih bisa menangkap suara ibu.


[Baru ketemu tadi, masa sudah kangen]


[Jangan besok, Sayang. Aku tidak enak pada Zura jika setiap hari keluar rumah. Apalagi aku harus membantunya menjaga Lyra. Dia kerepotan kalau menjahit sambil mengurus Lyra]


[Lusa? Ehm, …Memangnya kamu mau ajak aku kemana?]

__ADS_1


[Hotel? Mau ngapain ngajak aku ke hotel? Jangan nakal ya. Nanti kucium kalau ketemu]


[Kamu 'kan belum pernah menikah. Bagaimana kamu bisa tahu posisi atas dan bawah?]


[Kalau ditanya aku suka posisi atas atau bawah, aku lebih suka posisi di atas. Aku bisa mengendalikan permainan. Kamu sendiri kuat berapa lama?]


[Hah? Obat kuat? Jangan deh. Kalau aku kewalahan gimana?]


[Eh. Kamu jangan ngeledek ya. Walaupun usiaku sudah kepala lima, tapi aku masih kencang loh. Aku masih kuat melayani beronde-ronde]


[Kamu nakal banget sih. Ya sudah, kita ketemu malam Minggu ya. Aku mau beli jamu rapet wangi dulu biar kesat. Hi hi hi]


[Selamat malam, mimpiin aku ya, Sayang. Emmmmuah]


Aku yang tadinya berdiri di depan pintu kamar ibu, tanpa kusadari tubuh ini telah luruh di lantai. Siapa lawan bicara ibu di telepon barusan? Kenapa mereka membicarakan hal yang menjijikkan itu? Sungguh, tubuhku gemetar hebat, dengan tangan dan kaki yang mendadak terasa dingin. Sekian lama hidup menyendiri, wajar saja bila ibu kesepian. Tapi, aku tidak rela jika ibu harus melakukan perbuatan yang melanggar norma agama dan etika.


Perlahan aku bangkit dari lantai dan berniat mengetuk pintu kamar ibu. Aku harus membicarakannya malam ini juga. Aku tidak akan membiarkan perempuan yang begitu kukasihi itu tersesat semakin jauh dalam kubangan dosa.


"Oek…oek…"


Aku terperanjat saat mendengar adzan subuh berkumandang. Rupanya setelah menyusui Lyra malam tadi aku tertidur hingga pagi.


"Jahitan! Oh tidak! Aku belum menyelesaikan jahitanku. Setelah menunaikan ibadah subuh, aku pun melanjutkan kembali pekerjaanku. Alhamdulillah, jahitan pelanggan baruku selesai pada jam enam pagi. Bersamaan dengan Lyra yang juga bangun dari tidurnya.


"Assalamu'alaikum, Solehah nya ibu," sapaku sembari mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipinya. Seperti biasa, putri kecilku ini akan menjawab salamku dengan membulatkan bibirnya.


Tiba-tiba pandanganku tertuju pada buku KIA yang berada di rak. Aku baru ingat, bulan ini Lyra belum mendapatkan imunisasi. Akupun memutuskan membawa Lyra ke klinik terdekat untuk mendapatkan imunisasi.


"Cucu nenek mau ke mana, pagi-pagi begini sudah wangi?" tanya ibu saat mendapati aku baru saja keluar dari dalam kamar dengan membawa tas perlengkapan bayi.


"Ini sudah siang, Bu. Sudah hampir jam sembilan. Sarapan sudah siap di meja makan. Cucian hanya tinggal menjemur," ucapku.


"Maaf, Nak. Ibu bangun kesiangan karena ehm…"


"Ibu menelepon hingga larut malam ya?" tanyaku setengah menyindir.


"I-i-iya, Nak. Semalam ibu mengobrol dengan kawan lama ibu."

__ADS_1


"Kawan Ibu yang mana?"


"Ehm, itu… kawan lama ibu saat kita masih punya bisnis keluarga."


"Bukan kawan Ibu yang lain?"


"Kawan ibu yang mana?"


"Maaf ya, Bu. Aku tidak bermaksud lancang. Tapi aku tidak sengaja mendengar obrolan Ibu dengan seseorang di sambungan telepon. Siapa laki-laki itu, Bu? Kenapa Ibu membicarakan hal yang menjijikkan itu?"


Suaraku tiba-tiba saja bergetar, sorot mataku pun berkaca-kaca.


"Kamu ini bicara apa, Nak? Ibu 'kan sudah bilang, ibu menelepon kawan lama ibu. Kenapa kamu jadi berpikiran buruk begini pada ibu?"


"Aku tidak asal bicara, Bu. Aku mendengar Ibu membahas posisi hubungan badan. Bagaimana bisa Ibu membicarakan hal menjijikkan itu dengan seorang laki-laki yang tidak memiliki hubungan sah dengan Ibu?"


"Sepertinya kamu salah dengar. Ibu dan kawan ibu tidak membahas yang aneh-aneh kok. Kami hanya membahas tentang salon dan barang branded," bantah ibu.


"Jadi, Ibu mau bilang aku mengada-ada?"


"Apa yang kamu pikirkan tidak sama seperti yang kamu dengar," bantah ibu lagi.


"Baik, aku pinjam ponsel Ibu."


"T-t-tapi buat apa, Nak? Kamu punya ponsel sendiri 'kan? Ponsel ibu kehabisan baterai."


Aku tak begitu saja mempercayai ucapan ibu. Aku berlalu dari hadapannya kemudian menerobos masuk ke dalam kamarnya.


"Zura! Tunggu!" 


Bersambung….


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2