
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku pada gadis yang belum lama kukenal itu.
Dari gadis itu, pandanganku beralih pada kak Darren.
"Jadi benar yang dikatakan Fatimah? Kalau Kakak punya perempuan lain di luar?"
"Aku ehm … ehm …"
"Widya! Kamu tahu 'bukan kalau kak Darren ini sudah berkeluarga? Kenapa kamu menggodanya?"
"Tunggu! Kamu panggil pak Darren apa? Kakak?"
"Ya. Kak Darren memang kakakku."
"Zura, please. Jangan membuat keributan di tempat ini," ucap kak Darren.
"Sekarang kutanya. Apa benar Kakak menjalin hubungan dengan Widya?"
"Ti-ti-tidak. Kami tidak memiliki hubungan khusus. Widya adalah salah satu mahasiswa di kampus tempatku mengajar.
"Lantas, kenapa Kakak jalan berduaan dengannya?"
"Aku hanya menemani Widya membeli baju."
"Mustahil seorang dosen mau berjalan berdua dengan mahasiswa nya jika mereka tidak memiliki hubungan khusus," ujarku.
"Sudahlah, Pak. Jangan dit
tup-tutupi lagi. Kita jujur saja tentang hubungan kita." Widya yang tidak beranjak dari tempat duduknya itu menimpali.
"Gadis tak tahu malu! Memangnya tidak ada laki-laki lajang yang bisa kamu dekati selain kakakku!" seruku.
"Kamu jangan cuma nyalahin aku dong. Pak Darren sendiri yang bilang kalau dia sudah lelah menjalani pernikahan dengan istrinya dan ingin mencari istri baru.
Aku menatap lekat mata kakak laki-lakiku itu.
"Ucapan Widya tidak benar 'kan, Kak?" tanyaku.
Kak Darren terdiam dan menundukkan wajahnya.
"Kenapa Kakak diam? Kakak ingin tahu bagaimana rasanya dikhianati? Itu sangat menyakitkan. Ingat Anisa, dia juga perempuan. Apa Kakak rela jika kelak dia disakiti pasangannya?"
"Kamu mau tahu alasannya kenapa aku begini?" tanya kak Darren.
"Fatimah istri dan ibu yang baik. Dia kurang apa, Kak?"
"Pencemburu. Suka mengatur. Tidak pandai memasak. Jarang berdandan. Itu sifat yang tidak kusukai dari sahabatmu itu. Ditambah lagi dia tidak bisa memberiku anak laki."
"Astaghfirullah. Kakak tahu ilmu agama 'bukan? Menikah itu bukan tentang kata suka dan tidak suka. Lebih dari itu. Menikah adalah saling menerima kekurangan masing-masing. Kalau masalah jenis kelamin anak, itu bukanlah kesalahan Fatimah, melainkan hak mutlak Allah. Kakak seharusnya bersyukur Fatimah bisa melahirkan putri secantik Anisa. Lihat di luar sana, begitu banyak pasangan yang sudah lama menikah namun tak kunjung mendapatkan momongan," ungkapku.
"Sudah ceramahnya?" ucap kak Darren ketus. Rupanya kalimat panjang lebar yang meluncur dari bibirku hanya masuk di telinganya kanan dan keluar melalui telinga kirinya.
"Kita pergi saja, Pak. Nggak perlu buang-buang waktu meladeni perempuan yang sok alim ini," ucap Widya.
__ADS_1
"Sok alim kamu bilang? Kamu ini mahasiswa, seharusnya kamu cerdas dan bisa mikir apakah mendekati laki-laki yang sudah berkeluarga itu adalah tindakan yang benar atau tidak."
"Kami saling mencintai. Lalu di mana salah nya?"
"Tentu saja kamu salah. Laki-laki yang kamu dekati ini sudah memiliki istri dan anak."
Widya mengalihkan pandangannya pada kak Darren.
"Tidak lama lagi Pak Darren akan menceraikan istrinya. Bukan begitu, Pak?"
Lagi-lagi kak Darren diam. Ia tidak mengiyakan ataupun menyangkal ucapan Widya.
"Kakak pasti akan menyesal melepas istri sebaik Fatimah demi gadis yang tidak punya harga diri sepertinya!" Aku mengacungkan jari telunjukku ke arah wajah Widya.
"Kurang ajar kamu!" Widya beranjak dari tempat duduknya dan berusaha menarik hijabku namun aku justru mendorongnya hingga ia terjatuh kembali di bangku depan.
"Sakit, Pak. Hu …hu…hu…"
Kak Darren pun lantas memeluk gadis manja itu dan mengusap bagian punggung nya. Sungguh pemandangan yang membuatku muak.
"Lakukan saja yang ingin Kakak lakukan. Semoga Allah mengampuni dosa kalian."
Aku berlalu dari hadapan keduanya, lalu kembali menuju toko alat menjahit.
******
Sesampainya di rumah.
"Sepertinya kamu kesal sekali. Apa toko nya tutup?" tanya ibu.
"Atau karena surat gugatan cerai dari Fabian itu?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Bukan, Bu. Aku justru lega Fabian tak menggantung statusku."
"Lantas?"
"Tadi aku bertemu kak Darren."
"Kenapa lagi dengan kakakmu itu sampai membuatmu kesal begini?"
"Aku memergoki kak Darren jalan berduaan dengan perempuan lain."
"Astaga! Apa kamu tidak salah lihat?"
"Tidak, Bu. Aku bahkan mengobrol panjang lebar dengan mereka."
"Apa kamu mengenal perempuan itu?" tanya ibu lagi.
"Aku kenal betul siapa gadis itu. Ibu pun juga mengenalnya."
"Siapa, Nak?"
__ADS_1
"Widya."
"Hah?! Maksud kamu Widya anaknya Yoga?"
"Hanya satu nama Widya yang kita kenal 'bukan?"
"Bagaimana Darren bisa berhubungan dengan Widya?"
"Widya adalah salah satu mahasiswa di kampus tempat kak Darren mengajar."
"Rupanya benar dugaan Fatimah kalau kakakmu main perempuan di luar sana," ujar ibu.
"Apakah sudah tidak ada lagi laki-laki setia di dunia ini? Setelah aku, kini giliran sahabatku yang dikhianati pasangannya."
"Pasti ada alasan kenapa Darren selingkuh dari Fatimah."
"Apapun alasannya, selingkuh bukanlah jalan pintas dan tidak dibenarkan. Apalagi alasan kak Darren selingkuh karena ia menganggap Fatimah tidak menarik lagi, suka mengatur, dan karena dia melahirkan anak perempuan. Sementara kak Darren sangat menginginkan anak laki-laki."
"Itulah sebabnya ibu merawat diri. Ibu tidak mau jika sudah menikah lagi, Yoga berpaling pada wanita lain karena menganggapku tidak menarik lagi di matanya."
"Tidak hanya soal penampilan. Aku harap ibu bisa menjaga baik-baik hubungan Ibu dan pak Prayoga dan jangan pernah lagi mendua," ujarku.
"Ibu sudah kapok main-main sama laki-laki. Ibu janji Yoga akan menjadi laki-laki yang terakhir dalam hidupku," ucap ibu.
"Syukurlah, kalau Ibu berpikiran begitu."
"Ibu sadar, apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai," ucap ibu. Kutanggapi ucapannya dengan senyum. Semoga ibu benar-benar membuktikan ucapannya. Semua orang mungkin pernah melakukan kesalahan. Namun yang terpenting mereka mau memperbaiki diri dan tidak akan mengulangi kesalahannya.
Tiba-tiba kami dikejutkan oleh seseorang yang mengetuk pintu rumah kami, lebih tepatnya menggedornya. Aku pun bergegas membuka pintu itu. Tampak seorang perempuan paruh baya yang sama sekali tidak kukenal.
"Maaf, Ibu siapa, dan ada perlu apa ke sini?"
"Mana Sabrina?"
"Ibu saya ada di dalam. Ibu ada perlu apa?"
"Nama saya Helena. Saya adalah calon istri Prayoga."
"Ibu pasti bercanda. Beberapa hari yang lalu pak Yoga baru saja melamar ibu. Bahkan mereka berencana menikah akhir bulan ini," ucapku.
"Saya serius. Saya calon istri Prayoga dan dia berjanji akan menikahi saya secepatnya."
"Saya mengenal betul pak Prayoga. Beliau begitu baik dan perhatian pada ibu saya. Tidak mungkin beliau berbuat begitu."
"Kalau kamu tidak percaya, mari ikut saya, kita temui Prayoga. Kita buktikan saya berkata benar atau hanya omong kosong!"
Siapa sebenarnya perempuan ini? Apa benar yang diucapkannya? Apakah pak Prayoga hanya mempermainkan ibu?
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading…