
"Rahma kenapa, Cik?" desakku.
"Satu jam yang lalu saya menemukan Rahma meninggal dunia di dalam kamarnya."
Duniaku seketika runtuh. Aku hampir tidak mempercayai apa yang baru saja kudengar. Rahma, gadis periang yang sudah kuanggap layaknya adik sendiri itu kini telah tiada. Apakah aku sedang bermimpi? Ataukah ini hanya sebuah lelucon?
"Meninggal, Cik? T-t-tapi, … apa yang menyebabkan Rahma meninggal? Beberapa hari yang lalu dia masih bekerja di tempat saya," ucapku.
"Saya kurang paham, Mbak. Awalnya saya mendatangi kamat kost nya untuk menagih uang sewa kamar. Saya pikir Rahma sudah berangkat bekerja. Namun saya heran kenapa dia tidak mematikan lampu teras. Akhirnya saya mengetuk pintu kamarnya sambil memanggil namanya. Tapi tidak ada jawaban. Hingga akhirnya saya mengintip ke dalam melalui lubang ventilasi. Saya terkejut mendapati Rahma tergeletak di atas lantai. Saya semakin khawatir karena Rahma tak kunjung bangun meskipun saya sudah meminta bantuan warga untuk menggedor pintu kamarnya. Akhirnya saya nekad meminta warga mendobrak pintu. Apa yang terjadi sungguh sulit saya percaya. Rahma bukan pingsan, tapi sudah meninggal dunia," ungkap cik Leni panjang lebar.
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."
Tiba-tiba saja sendiku terasa lemas hingga kakiku tak kuat menopang badanku sendiri. Aku membiarkan kedua lututku luruh di atas tanah.
"Astaghfirullahaldzim … Astaghfirullahaldzim …
Astaghfirullahaldzim …
Kalimat istighfar tak henti terucap dari bibir ini. Rahma benar-benar telah pergi. Aku tidak akan pernah melihatnya lagi sampai kapanpun.
"Kira-kira apa yang menyebabkan Rahma meninggal, Pak?" tanyaku setelah aku berhasil menguasai diri.
"Penyebab kematian saudara Rahma masih kami selidiki. Akan tetapi kami tidak menemukan adanya bekas kekerasan atau tindak penganiayaan pada tubuh korban. Kemungkinan besar saudara Rahma meninggal karena sakit. Kami menemukan sebuah botol berisi obat pereda rasa nyeri di atas meja," ungkap polisi.
Rahma sakit? Kenapa selama ini dia tidak pernah cerita? Atau dia sengaja memendamnya sendiri karena tidak ingin membuat orang lain khawatir?
"Maaf, apa boleh saya tahu jenis obat apa yang Bapak temukan di dalam kamar Rahma?" tanyaku lagi.
"Kami masih menyelidiki obat jenis apa yang dikonsumsi korban. Namun jika dilihat dari gambar yang tertera di botol obat tersebut, korban menderita penyakit pada bagian lambung."
Aku menjerit histeris saat kantung jenazah yang mengangkut jenazah Rahma melintas tepat di hadapanku. Aku berusaha merengkuh tubuh itu namun cik Leny menghalauku.
"Rahma! Rahma!" pekikku.
Aku benar-benar tak bisa lagi menguasai diri. Kutepis tangan cik Leny yang sedari tadi memegangi kedua lenganku. Aku pun merengkuh tubuh yang kini telah kaku.
"Maaf, Bu. Korban harus segera kami bawa ke rumah sakit untuk mencari tahu penyebab pasti kematiannya," ucap salah satu petugas ambulance.
"Rahma! Rahma!" Aku merasakan seseorang menarik lenganku sebelum akhirnya pandanganku mulai kabur hingga akhirnya semuanya benar-benar terlihat gelap.
Entah sudah berapa lama aku pingsan. Wajah yang pertama kali kulihat saat membuka mata adalah wajah ibu.
"Alhamdulillah … kamu sudah sadar, Nak. Minum dulu teh hangatnya." Ibu menyodorkan segelas teh hangat ke arahku.
Butuh beberapa saat sebelum aku mengingat apa yang terjadi padaku. Tangisku kembali pecah saat aku ingat Rahma telah meninggal dunia di dalam kamar kost nya.
"Rahma, Bu, Rahma, …"
"Ya, Nak. Pak Amin sudah menceritakan semuanya."
__ADS_1
"Ibu. Hu … hu … hu …Lyla takut."
Lyra yang sedari tadi berada di gendongan ibu tiba-tiba saja menghambur ke dalam pelukanku.
"Ibu tidak apa-apa, Sayang," ucapku sembari mengecup pucuk kepalanya.
"Lyra ketakutan saat pak Amin membawamu pulang dalam keadaan pingsan." Ibu mertuaku menimpali.
"Apa yang terjadi pada Rahma, Nak?"
"Rahma ditemukan meninggal dunia di dalam kamarnya. Polisi menemukan obat penyakit lambung di atas meja. Kemungkinan besar penyakit itu yang menjadi penyebab kematiannya."
"Auntie Lahma kenapa, Bu?" tanya Lyra dengan mata polosnya.
"Auntie Rahma sudah pergi menghadap Allah, Sayang."
"Jadi, auntie Lahma tidak menjemput Lahma sekolah lagi?"
"Tidak, Sayang. Auntie Lahma sudah tenang di sisi Allah," jelasku. Untunglah Lyra cukup memahami ucapanku.
"Pak Amin."
"Ya, Bu."
"Tolong panggilkan salah satu karyawan di bagian produksi yang mejanya paling dekat dengan meja Rahma."
"Baik, Bu."
"Duduklah, ada sedikit yang ingin saya tanyakan padamu," ucapku. Gadis itu mengangguk paham.
"Apa Rahma pernah mengeluh sakit?" tanyaku memulai obrolan.
"Seingat saya Rahma tidak pernah mengatakan dirinya sakit. Dia bahkan selalu menjadi karyawan yang paling bersemangat saat Ibu meminta kami bekerja lembur. Rahma sedang rajin menabung untuk membeli sepeda motor," ungkap Vivi.
Ya. Di mataku Rahma memang selalu terlihat ceria. Dia begitu pandai menyembunyikan kesedihannya hingga
hari-hari terakhir menjelang kepergiannya pun aku tak mendapatkan firasat apapun tentangnya. Selamat jalan Rahma. Sampai kapanpun kamu akan menjadi adik perempuanku.
*****
Sehari kemudian.
"Bu, …"
"Ya, Nak."
"Anu … anu."
"Anu-anu apa? Kamu ini mau bicara apa?"
__ADS_1
Ibu yang tengah membaca majalah di ruang tamu itu pun meletakkan majalah yang tengah dibacanya, ia lantas menoleh ke arahku.
"Ehm … anu-anu, makan malam."
"Makan malam? Ini bahkan baru jam sebelas siang."
"Maksudku-maksudku nanti malam."
"Astaga, Zura. Kamu ini kenapa? Makan malam ya nanti malam."
Aku merutuki diriku sendiri. Kenapa aku harus panik begini? Tenang, Zura … tenang.
"Ehm … maksudku bukan makan malam di rumah ini."
"Oh, kamu mau mengajak ibu makan malam di luar, begitu 'kan? Mau ngomong begitu saja susah banget."
"Bu-bu-bukan, Bu."
"Lantas?"
"Ehm … anu-anu Gibran mengundang keluarga kita untuk makan malam di rumahnya besok malam."
"Hah?!"
"Kok Ibu jadi panik."
"Ibu bukan panik, hanya kaget kenapa tiba-tiba Gibran mengundang kita makan malam di rumahnya. Jangan-jangan, …"
"Jangan-jangan apa, Bu?"
"Jangan-jangan dia ingin melamarmu dan sekalian membicarakan pernikahan kalian."
"Tidak kok Bu. Sebenarnya ibunya yang mengundang kita makan malam."
"Ehm! Jadi ceritanya sudah ketemu calon mertua," goda ibu yang sontak membuatku salah tingkah.
"Jadi begini, kemarin saat berada di kios bunga aku bertemu dengan seorang wanita yang tiba-tiba sakit perut. Aku pun membawanya berobat ke klinik. Aku baru tahu jika wanita itu adalah ibunya Gibran setelah mengenali asisten rumah tangga yang bersama dengannya," ungkapku.
"Pasti calon ibu mertuamu kagum karena kebaikanmu. Jadi dia ingin mengangkatmu sebagai menantunya," ucap ibu.
Menantu? Apa ini artinya Gibran benar-benar akan menjadi suamiku? Kenapa tiba-tiba aku panas dingin begini?
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰 🥰🥰🥰