
"Ibu kenapa? Kelihatannya bingung sekali?" tanya Fina. Kurasa dia bisa menangkap kegelisahan di raut wajahku.
"Baju pengantin yang dipesan mas Keenan dan mbak Asha sudah siap. Aku mencoba menghubungi nomor yang tertera di kartu nama ini tapi mas Keenan tidak menjawab panggilanku," ungkapku.
"Mungkin mas Keenan sibuk, Bu. Lagipula acara pernikahannya masih dua hari lagi. Siapa tahu sore nanti atau besok pagi ada yang datang mengambil baju pengantin ini," ucap Fina.
Aku mengamati alamat yang tertera di kartu nama itu. Satu alamat kantor dan alamat lainnya adalah alamat rumah.
"Jalan Azalia no. 67. Sepertinya aku tahu di mana alamat ini," gumamku.
Setelah beberapa saat, akhirnya aku berhasil mengingat dimana alamat itu. Tempat tinggal Keenan berjarak beberapa kilometer saja dari perumahan tempat tinggal Fabian dan Mila.
"Ibu mau kemana?" tanya Fina saat melihatku menukar hijab harianku dengan hijab berukuran lebar yang selalu kukenakan saat keluar rumah.
"Aku ingin mengantar baju pengantin ini. Mungkin mereka terlalu sibuk hingga tidak sempat mengambil baju ini."
"Saya temani ya, Bu. Ibu pasti kerepotan membawanya sambil menggendong Lyra."
Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban setuju.
"Memangnya di mana rumah mas Keenan, Bu?" tanya Fina.
"Jalan Azalia no 67. Tidak begitu jauh dari rumah ayahnya Lyra. Aku khawatir mereka terlalu sibuk hingga tidak sempat mengambil baju ini."
Usai bersiap, kami pun lantas meninggalkan tempat kost kami.
"Perumahan Azalia, Pak," ucapku pada pengemudi taksi."
Sekitar dua puluh menit kemudian kami pun tiba di perumahan elite itu.
"Selamat pagi, Pak," sapaku pada security yang berjaga di depan pintu gerbang rumah berlantai tiga itu.
"Selamat pagi, Bu. Maaf, Ibu siapa dan ada perlu apa?"
"Nama saya Azzura. Apa benar ini kediaman mas Keenan?"
"Benar. Ibu ini kawannya mas Keenan atau rekan bisnisnya?" tanya security bernama Bondan itu.
"Bukan dua-duanya."
"Lantas, Ibu ada perlu apa mencari mas Keenan?"
"Kebetulan saya yang menjahit baju pengantin mas Keenan dan mbak Asha. Baju pengantin mereka sudah siap. Saya sudah berkali-kali mencoba menghubungi nomor telepon yang tertera di kartu nama mas Keenan, tapi mas Keenan tidak menjawab panggilan telepon dari saya," ungkapku.
"Sejak pagi tadi mas Keenan belum kembali dari acara pemakaman. Mungkin ia sengaja meninggalkan ponselnya di rumah.
"Pemakaman? Memangnya siapa yang meninggal?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Mbak Asha."
"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un." Tentu saja aku kaget bukan main mendengar jawaban itu.
"Apa saya tidak salah dengar, Pak? Mbak Asha yang Bapak maksud itu apakah mbak Asha calon istrinya, …"
"Benar, Mbak. Mbak Asha meninggal dunia pagi tadi saat menjalankan shalat subuh."
"Masyaallah, sungguh indah cara mbak Asha menghadap Nya," ujarku.
"Kami sempat tidak percaya saat keluarga mbak Asha menyampaikan kabar duka ini. Mas Keenan baru percaya setelah mendatangi rumah mbak Asha."
Aku baru paham apa maksud ucapan mbak Asha waktu itu. Meskipun acara pernikahan sudah dipersiapkan sedemikian rupa, namun hanya Allah yang paling berhak menentukan apakah acara pernikahan itu akan bisa terlaksana ataukah justru sebaliknya.
"Ya sudah, Pak. Saya titipkan saja baju pengantin ini pada Bapak. Sampaikan juga belasungkawa dari saya," ucapku.
"Baik, Bu. Nanti saya sampaikan."
"Kami permisi dulu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Baru beberapa langkah saja beranjak dari pintu gerbang itu, muncul lah mobil berwarna silver yang pernah dipakai kedua calon pengantin itu ke tempat kost kami dua Minggu yang lalu. Dengan sigap pak Bondan membuka pintu gerbang itu lalu mempersilahkan mobil tersebut masuk ke dalam pekarangan rumah yang luasnya mungkin lima kali lipat dari halaman tempat kostku. Aku sempat berpikir mas Keenan yang tengah dirundung duka itu akan langsung masuk ke dalam rumahnya. Namun aku salah. Setelah menutup pintu mobilnya, dia justru menghampiri kami.
"Mbak Zura, ya?" tanyanya.
"Iya, Mas. Saya datang ke sini untuk mengantar baju pengantin yang sudah Mas Keenan pesan dua Minggu kemarin."
"Pagi ini saya dan Asha berencana mengambil baju pengantin itu, tapi rencana hanya tinggal rencana. Allah sudah memanggil Asha lebih dulu sebelum ia mencoba baju pengantin itu," ungkapnya.
Sekilas kutatap pemilik sorot mata sayu itu. Aku menangkap kesedihan yang mendalam di dalam sana. Pun dia terlihat ikhlas dengan kepergian calon pengantin wanita nya itu.
"Maaf, kalau saya boleh tahu apakah mbak Asha sakit, atau, …"
"Asha tidak sedang sakit. Bahkan sebelum saya tidur kemarin malam, dia sempat mengirim pesan selamat malam, sampai jumpa lagi esok. Saya tidak menyangka jika itu adalah pesan terakhir untuk saya," jelasnya.
"Saya turut berduka cita atas meninggalnya mbak Asha. Beliau pergi dengan cara yang begitu indah. Insyaallah Allah akan menempatkannya di surga," ujarku.
"Aamiin. Terima kasih do'a nya, Mbak."
"Kalau begitu kami permisi dulu. Oh ya, bajunya sudah saya titipkan pada pak Bondan," ucapku. Laki-laki itu mengangguk paham.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku, Lyra dan Fina pun lebih meninggalkan rumah tersebut.
__ADS_1
"Kasihan sekali mas Keenan. Calon istrinya meninggal tiga hari menjelang hari pernikahan mereka," ucap Fina saat kami dalam perjalanan pulang.
"Benar kata mbak Asha. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana, selebihnya adalah hak mutlak Allah. Mbak Asha sudah merencanakan pernikahan, namun Allah rupanya merencanakan lain."
"Saya salut dengan mas Keenan. Walaupun merasa begitu kehilangan, dia terlihat ikhlas melepas kepergian calon istrinya."
"Kita memang tidak dibenarkan mencintai sesuatu secara berlebihan. Karena semua yang kita miliki hanyalah titipan dan ada kalanya Allah mengambil kembali titipan itu," ujarku.
"Semoga Allah memberi jodoh sebaik mbak Asha pada mas Keenan."
"Aamiin."
"Brakk!"
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras dari bagian belakang taksi. Sepertinya kendaraan lain menabrak taksi ini.
Pengemudi taksi pun lantas menepikan taksinya. Benar saja, mobil sedan berwarna putih itu yang menabrak bagian belakang kendaraannya.
"Turun kamu! Kamu harus membayar ganti rugi kerusakan taksiku!" teriak pengemudi taksi yang kutumpangi sembari menggedor kaca depan mobil tersebut.
"Fina, aku titip Lyra sebentar," ucapku sebelum turun dari taksi dan menghampiri mobil itu.
"Lihat! Gara-gara kecerobohanmu, bagian belakang taksiku penyok. Kamu harus bertanggung jawab!" seru pengemudi taksi.
Aku heran, pengendara mobil mewah itu tak bergeming meskipun suara teriakan di luar terdengar begitu keras.
"Turun kamu! Atau aku akan menelpon polisi!" ancam pengemudi taksi.
Bukannya bergegas keluar, pengendara mobil itu justru berniat tancap gas. Aku tidak boleh tinggal diam, bagaimana pun yang bersalah dalam kejadian ini adalah mobil sedan itu.
"Anda jangan coba lari dari tanggung jawab!" seruku sembari merentangkan kedua tanganku di hadapan mobil itu.
"Hei! Kamu mau cari mati ya?!" teriak pengendara mobil tanpa beranjak dari bangku kemudi.
"Anda sudah bersalah tidak menjaga jarak aman dengan kendaraan ini hingga akhirnya menabraknya. Anda harus bertanggung jawab atas kesalahan anda."
"Minggir! Atau kutabrak kamu!" ancamnya.
"Anda jangan egois, Pak. Lihat, kerusakan di bagian belakang taksi ini cukup parah. Anda harus bertanggung jawab."
"Sudahlah, Pa. Berikan saja uang ganti rugi pada pengemudi tersebut itu. Bagaimana jika ada orang yang merekam kejadian ini. Nanti Papa bisa kena masalah," ucap wanita yang duduk di samping bangku kemudi.
Entah mengapa aku begitu penasaran dengan wanita itu. Aku pun lantas mengamati wajahnya dari kaca depan mobil itu. Aku belum pernah melihat wanita itu sebelumnya. Tapi tunggu! Bayi yang berada di gendongannya itu sepertinya tidak asing bagiku. Bukankah bayi itu, …?"
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…