
"Ibunya Lyra!" panggil anak laki-laki yang duduk di sofa.
Ah, ternyata ketiga orang itu adalah Haikal bersama pengasuh dan sopir pribadinya.
"Haikal, kamu rupanya, Nak."
"Sepulang sekolah tadi Haikal memaksa mengajak saya dan pak Idris untuk mencari rumahnya Lyra," papar bi Tini, sang pengasuh.
"Aku sudah minta maaf sama Lyra," ucap Haikal.
"Lyra sudah maafin Haikal belum?" tanyaku pada Lyra. Gadis kecilku itu menganggukkan kepalanya.
"Bagus klau begitu. Tapi kamu harus janji jangan mengulanginya lagi ya," ucapku.
Bocah laki-laki itu mengangguk paham.
"Oh ya, Bi Ami sudah masak?" tanyaku pada asisten rumah tanggaku.
"Sudah, Bu. Hari ini bibi masak sop ayam dan udang goreng tepung kesukaan non Lyra."
"Haikal, Bibi dan Pak Idris ikut makan siang di sini, ya," ucapku.
"Ehm … tidak usah, Bu. Saya tidak ingin merepotkan."
"Saya tidak merasa direpotkan. Sesekali kita makan bersama tidak apa 'bukan?"
"Iya, Bi. Makan siang di rumahnya Lyra saja, perutku sudah lapar," rengek Haikal.
"Tapi, …"
"Ayo, Bi."
Haikal menggandeng tangan bi Tini lalu mengajaknya menuju ruang makan.
*****
"Sekarang kita pulang yuk, Mas," ucap bi Tini usai makan siang selesai.
"Aku masih mau main sama Lyra."
"Ini sudah hampir jam satu, waktunya Mas Haikal tidur siang."
"Aku tidak mengantuk. Lyra, kita menggambar yuk."
Lyra menganggukkan kepalanya. Keduanya pun lantas meninggalkan ruang makan kemudian masuk ke dalam kamar Lyra.
Entah sudah berapa kali bi Tini membujuk Haikal untuk pulang ke rumahnya, tetapi bocah laki-laki itu selalu menolak.
"Kalau Haikal belum mau pulang, biarkan saja dia di sini dulu. Mungkin dia masih ingin bermain bersama Lyra," ucapku.
"Benar, Bi Tini dan Pak Idris tidak apa kalau mau pulang. Pasti ada pekerjaan yang harus kalian kerjakan 'bukan? Nanti biar saya yang antar pakai taksi," ucap ibu.
Bi Tini dan pak Idris terlihat mengobrol beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan pulang lebih dulu dan meninggalkan Haikal di rumahku.
"Mas Haikal ini paling tidak suka dipaksa. Daripada dia tantrum, lebih baik saya membiarkannya di sini dulu," ucap bi Tini.
__ADS_1
"Tolong Ibu awasi mereka berdua bermain ya," ucapku pada ibu.
"Memangnya kamu mau kemana lagi?"
"Saya dan pak Amin mau mengantar pesanan pak Willy."
"Pak Willy? Bukankah dia sudah lama memutuskan hubungan kerja sama dengan konveksi kita?"
"Beberapa jam yang lalu beliau menelponku dan mengatakan ingin kembali menjadi pelanggan konveksi kita."
"Apa Ibu bilang. Suatu saat nanti dia pasti sadar jika konveksi milikmu lebih baik dari yang lain."
"Allah yang sudah menggerakkan hatinya," ujarku.
Tidak berselang lama pak Amin muncul.
"Kita jadi berangkat, Bu?" tanyanya.
"Ya, Pak. Mari ke ruang produksi."
"Ibu ke arah mana?" tanya pak Idris.
"Jalan merdeka."
"Tempat tinggal kami di sekitar jalan merdeka."
"Oh ya?"
"Ya, Bu. Di perumahan Gladiool."
Setelah berpamitan pada ibu, kami pun lantas meninggalkan ruang tamu.
****
Aku dan pak Amin tiba di rumah menjelang adzan Maghrib. Di saat aku baru saja turun dari mobil itulah sebuah mobil berwarna silver memasuki halaman rumahku. Tidak berselang lama pintu terbuka. Tampak seorang pria yang usianya beberapa tahun di atasku.
"Permisi, apa benar ini rumah bu Azzura?" tanyanya.
"Benar, Pak, saya Azzura. Bapak siapa dan ada perlu apa?"
"Saya Herdi. Saya datang ke rumah ini untuk menjemput anak saya, Haikal."
"Oh, ayahnya Haikal ternyata. Saat saya mau keluar rumah tadi, Haikal masih asyik bermain dengan puteri saya. Bi Tini sudah berkali-kali membujuknya untuk pulang, tapi Haikal selalu menolak. Dia bilang masih ingin bermain. Mari silahkan masuk, Pak," ucapku.
Pria berperawakan tinggi itu pun lantas mengikutiku masuk ke dalam ruang tamu.
"Haikal mana, Bu?" tanyaku pada ibu.
"Haikal ketiduran di kamar Lyra. Ibu tidak tega membangunkannya," jawabnya.
Tiba-tiba pandangan ibu tertuju pak Herdian yang kini berada di ruang tamu.
"Siapa pria itu? Pacar baru kamu?" tanya ibu setengah berbisik.
"Ibu jangan ngaco, beliau ini pak Herdian, ayahnya Haikal."
__ADS_1
"Oh, maaf saya kira, …"
Aku pun mengajak pak Herdian menuju kamar Lyra. Aku tersenyum mendapati kedua bocah itu tertidur di atas kasur lantai. Sementara buku gambar dan pensil warna tampak berserakan di sana.
Haikal tak terusik meskipun pak Herdi mulai mengangkat tubuhnya dan membopongnya.
"Ehm … Pak. Apa kita bisa bicara sebentar?"
Pria itu menganggukkan kepalanya. Kami pun meninggalkan kamar Lyra dan berjalan beriringan menuju ruang tamu.
"Tadi Haikal mengatakan pada saya jika dia selalu merasa kesepian di rumahnya karena semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Alasan Haikal berbuat nakal pada kawan-kawan sekolahnya hanya untuk mencari perhatian saja. Jadi, saya harap Bapak bisa sesekali meluangkan waktu Bapak untuknya," paparku.
Pak Herdian membuang nafas.
"Mungkin selama ini saya terlalu sibuk dengan urusan saya sendiri hingga saya tidak mempedulikannya," ucap pak Herdian seraya mengusap lembut rambut putera semata wayangnya itu.
"Saya dengar Haikal juga merebut bekal milik kawan sekelasnya. Setelah saya tanya, dia menjawab jika dia iri melihat isi kotak bekal kawan-kawannya yang bagus dan bervariasi."
"Mau bagaimana lagi? Bi Tini memang kurang paham dalam menyajikan bekal untuk anak seusia Haikal."
Aku mengulas senyum.
"Tadi saya sudah membuat perjanjian dengan Haikal."
"Perjanjian?"
"Ya. Saya mau membuatkan bekal untuknya asalkan dia tidak berbuat nakal lagi pada puteri saya ataupun pada kawan lainnya."
"Saya salut dengan Bu Zura. Haikal ini bukan saudara ataupun kerabat Ibu. Tapi Ibu begitu peduli padanya."
"Saya hanya melakukan hal kecil saja, Haikal hanya perlu sedikit perhatian dan kasih sayang," ujarku.
"Seandainya mantan istri saya bisa lebih peduli pada Haikal, mungkin saat ini kami masih bersama."
"Apa maksud Bapak?"
Pak Herdian tersenyum getir.
"Meskipun sudah menikah dan memiliki anak, mantan istri saya begitu susah diatur. Dia selalu sibuk dengan kawan-kawannya. Bahkan suatu saat saya mendapatinya tengah berduaan dengan seorang pria di taman. Saat saya tanya, mana yang dia pilih, ternyata dia lebih memilih pria itu. Maaf, Bu. Saya jadi curhat begini."
"Tidak apa, Pak."
"Ya sudah, saya permisi dulu. Terima kasih telah membuka pikiran saya jika perhatian dan kasih sayang adalah hal yang penting bagi anak yang masih dalam proses pembelajaran. Saya janji, mulai sekarang saya akan lebih memperhatikan Haikal."
Pak Herdian pun lantas meninggalkan ruang tamu kemudian menuju mobilnya yang berada di halaman. Pria itu melempar senyumnya ke arahku sesaat sebelum melajukan mobilnya dan meninggalkan halaman rumahku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1