
(POV Author)
Pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu ternyata pak Irwan, dekan di kampus ini.
"Saya-saya bisa menjelaskan, Pak. Ini tidak seperti yang Bapak lihat," ucap Darren.
"Semua sudah jelas. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri pak Darren dan mahasiswi ini melakukan tindakan mes*m di ruangan ini."
"Bukan begitu, Pak. Saya-saya, …"
"Kami minta maaf, Pak. Kami hanya terbawa suasana," potong Widya.
"Widya, Diam!" bentak Darren.
"Siapa nama kamu?" tanya pak Irwan pada Widya.
"Widya, Pak," jawabnya dengan wajah tertunduk.
"Mentang-mentang hanya berdua, kalian pikir bisa bebas melakukan apapun di ruangan ini?"
"Tidak, Pak. Demi Allah kami tidak melakukan apapun," bantah Darren.
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan. Apa yang saya lihat sudah cukup untuk menentukan sikap apa yang harus saya ambil. Maaf, Pak Darren. Dengan sangat menyesal saya harus mengatakan jika hari ini adalah hari terakhir anda mengajar di kampus ini," ucap pak Irwan.
"Saya mohon pertimbangan kembali keputusan Bapak."
"Maaf, Pak. Universitas hanya mempekerjakan pengajar yang bermoral," ujar pria berkumis tebal itu.
"Bapak salah paham. Kami tidak memiliki hubungan apapun dan kami tidak melakukan apa-apa di ruangan ini."
"Saya dan pak Darren saling mencintai." Widya kembali menimpali.
"Widya! Cukup!" bentak Darren.
"Widya. Kamu juga akan mendapatkan sanksi dari kampus. Kamu saya skors selama satu bulan," ucap pak Irwan.
"Tapi, Pak. Saya-saya, …"
"Selamat sore."
Pak Irwan membalikkan badannya dan meninggalkan ruangan itu.
"Puas kamu sekarang!" seru Darren.
"Bapak tidak usah susah payah mengajar lagi. Jika Bapak mau, Bapak bisa menceraikan istri Bapak menikah dengan saya lalu bekerja di perusahaan milik ayah saya."
"Widya. Keluar dari ruangan ini!"
"Saya mencintai Bapak."
"Keluar!"
Kali ini Darren menggebrak meja dengan cukup keras hingga membuat Widya berjingkat. Dia pun tak punya pilihan selain meninggalkan ruangan itu dan masuk ke dalam ruang kelasnya.
"Kamu dari mana, Wid?" tanya Monica, sahabat Widya yang duduk persis di belakang bangkunya.
"Dari toilet."
*****
__ADS_1
Darren pulang ke rumahnya.
"Lho, kok sudah pulang, Mas?" tanya Fatimah yang tengah memasak di dapur.
"Ehm-ehm, mas mendadak pusing. Jadi izin tidak mengajar."
"Mas sakit?"
"Mungkin mas kelelahan."
"Ya sudah. Mas istirahat saja di kamar."
Darren beranjak dari dapur lalu berjalan menuju kamar.
"Gara-gara mahasiswi genit itu aku harus kehilangan pekerjaanku," gerutunya kesal.
Darren baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang ketiga tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Widya tertera di layar ponselnya. Tentu saja Darren mengabaikan panggilan yang menurutnya tidak penting itu. Dia membiarkan saja hingga ponsel itu berhenti berdering. Namun hanya selang beberapa saat ponselnya kembali berdering. Darren pun terpaksa menjawab panggilan tersebut.
[Halo, Pak Darren]
[Ada apa lagi kamu menghubungi saya?]
[Saya-saya minta maaf, Pak. Saya tidak bermaksud, …]
[Sudahlah. Jangan ganggu saya lagi! Gara-gara perbuatanmu saya kehilangan pekerjaan saya!]
[Bapak nurut saja kata saya. Bapak bercerai dari istri Bapak lalu nikahi saya. Saya jamin Bapak bisa mendapatkan posisi tinggi di perusahaan ayah saya.]
[Benar-benar sudah tidak waras kamu. Dengar, saya tidak akan pernah meninggalkan istri saya hanya untuk gadis tidak bermoral sepertimu!]
[Bapak yang sudah membuat saya tidak waras. Saya benar-benar mencintai Bapak.]
[Cinta tidak pernah salah. Saya tidak akan menyerah untuk mendapatkan cinta Bapak.]
[Kamu benar-benar gila!]
"Siapa yang gila, Mas? Mas mengobrol dengan siapa?"
Darren tersentak kaget saat tiba-tiba Fatimah masuk ke dalam kamar.
"Ehm, ti-ti-tidak. Tadi nomor salah sambung," jawab Darren sedikit gugup.
Beruntung Fatimah percaya.
"Makan malam sudah siap."
"Nanti saja, kita shalat Maghrib berjamaah dulu," ucap Darren. Fatimah mengangguk setuju. Keduanya pun lantas beranjak dari kamar lalu menuju mushola yang berada di balik ruang dapur.
Sementara itu di rumah Karmila.
Karmila baru saja selesai menyiapkan makan malam di atas meja makan. Malam itu dia sengaja memasak sedikit lebih banyak karena dia hendak mengundang Fabian makan malam bersamanya. Dia bahkan sudah berdandan secantik mungkin agar semakin menarik perhatian pria tersebut.
Karmila mengambil ponselnya untuk menghubungi Fabian.
[Halo, Mas]
[Ya. Ada apa?]
[Aku ingin mengundang Mas makan malam di rumahku. Mas bisa 'kan datang sekarang?]
__ADS_1
[Maaf, aku tidak bisa.]
[Kenapa?]
[Sekarang aku berada di rumah sakit]
[Astaga! Mas sakit?]
[Ibu yang dirawat usai menjalani operasi.]
[Jadi, Mas nggak bisa datang?]
[Tidak bisa. Mas harus menjaga ibu]
[Kenapa ibu dibawa ke rumah sakit? Bukannya pagi tadi mas meminta tukang pijit untuk datang ke rumah?]
[Azzura membawa ibu kesini tanpa seizinku. Bahkan dia mengambil keputusan sendiri untuk menyetujui operasi ibu]
[Mbak Zura kok gitu ya? Aku pikir dia istri yang menurut suami. Tapi ternyata dia suka membantah. Lalu di mana mbak Zura sekarang?]
[Zura di rumah bersama Lyra. Anak yang sehat tidak diizinkan mengunjungi rumah sakit.]
[Jadi, Mas sendirian menjaga ibu?]
[Ya. Kamu kan tahu, aku anak satu-satunya ibu.]
[Aku temani ya.]
[Tidak usah. Kamu di rumah saja. Lagipula bermalam di rumah sakit tidak nyaman. Di sini hanya ada satu buah sofa.]
[Tidak masalah. Aku tidak keberatan walaupun harus tidur satu sofa dengan Mas. (suara cekikikan)]
[Kamu bisa saja.]
[Aku dibolehin 'kan, nemenin Mas?]
[Boleh gak ya?]
[Kalau nggak boleh aku mau ngambek. Kamu gak aku kasih jatah selama satu bulan]
[Eitts. Gak bisa gitu dong. Ya sudah, kamu boleh nemenin mas di sini.]
[Oh ya, Mas sudah makan malam?]
[Belum. Mas tidak bisa ninggalin ibu sendirian]
[Ya sudah. Nanti aku bawakan makanan kesukaan Mas. Kebetulan aku masak banyak. Tunggu aku ya, Mas]
Panggilan terputus.
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
__ADS_1