Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Bebas


__ADS_3

Di lembaga pemasyarakatan.


Siang itu Maureen baru saja menyelesaikan makan siangnya ketika tiba-tiba sipir memanggil namanya.


"Saudara Karmila."


"Karmila atau yang sebenarnya bernama Maureen itu pun lekas beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati pintu jeruji besi.


Ya, Bu. Apa ada kunjungan untuk saya?" tanyanya.


"Selamat, hari ini anda bebas. Anda menjadi salah satu narapidana yang mendapatkan remisi." Tangan kanan sipir itu terulur.


"Ap-ap-apa, Bu? Saya bebas?" tanya Maureen seraya menjabat tangan sipir wanita itu.


"Benar. Saat ini juga anda bisa keluar dari tempat ini dan kembali pada keluarga anda."


"Allahu Akbar! Maureen tak bisa lagi menahan rasa syukur sekaligus harunya. Dia pun lantas bersujud di tempatnya berdiri. Karena mendapat remisi, masa tahanannya yang seharusnya empat tahun hanya menjadi tiga tahun saja.


"Aku pamit dulu, terima kasih pada kalian sudah menemaniku melewati hari-hari yang berat," ucapnya pada kawan satu sel nya.


"Kami minta maaf jika saat awal-awal kamu masuk di tempat ini, kami sering berlaku kasar padamu," ucap salah satu tahanan.


Maureen mengulas senyum.


"Sudahlah, aku sudah melupakan semuanya. Semoga kita dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik," ujarnya.


"Jangan pernah lagi menginjakkan kaki di tempat ini lagi. Semoga kehidupan anda lebih baik di masa yang akan datang," ucap sipir.


"Terima kasih, Bu. Saya pamit dulu, Assalamu'alaikum."


Maureen melambaikan tangannya ke arah kawan-kawanya yang berada di dalam sel tahanan sebelum benar-benar meninggalkan tempat tersebut.


"Pulang? Kemana aku harus pulang? Apa Fabian masih mau menerimaku?" gumamnya.


Meskipun sedikit ragu, dia tidak punya pilihan selain mendatangi rumah Fabian. Namun, sesampainya di tempat tinggal lamanya itu, ia tak menemukan lagi rumah itu. Setelah bertanya pada warga, ia mendapat informasi jika rumahnya hancur karena musibah gempa bumi sekitar tiga tahun silam. Melalui warga lainnya ia mendapatkan informasi jika kini Fabian tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil bersama ibunya. Setelah pencarian yang cukup melelahkan, Akhirnya sampai lah ia di tempat tinggal Fabian.


"Assalamu'alaikum," sapanya dari depan pintu.


"Waalaikumsalam," sahut seseorang dari arah dapur.


Beberapa saat kemudian penghuni rumah itu pun muncul. Tentu saja ia kaget bukan main mendapati siapa tamunya siang itu.


"Kar-Kar-Kar-mila. Kamu?"


"Iya, Bu. Ini aku, Karmila."


"Bukankah kamu masih di dalam tahanan? Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini? Jangan bilang kau kamu melarikan diri dari tahanan."


"Astaghfirullahaldzim. Bagaimana Ibu bisa menuduhku begitu? Aku bisa bebas lebih cepat karena mendapatkan remisi. Masa tahananku yang seharusnya empat tahun hanya menjadi tiga tahun saja," jelas Maureen.


"Lantas, kenapa kamu mencari Fabian?"


"Apa maksud Ibu? Mas Fabian tidak pernah sekalipun menjatuhkan kata talak padaku. Itu berarti kami masih suami istri yang sah 'bukan?"


"Fabian itu sudah bosan sama kamu. Lagipula apa kata orang nanti jika di penghuni rumah ini adalah mantan narapidana."

__ADS_1


"Kenapa Ibu bicara begitu?"


"Sudahlah, pulang saja sana ke rumah adikmu yang sudah sukses itu. Aku saja diusir karena dia menganggapku hanyalah beban yang merepotkan."


"Maksud Ibu Azzura? Mana mungkin dia tega mengusir Ibu. Aku tahu hatinya begitu tulus."


"Maaf, aku sedang sibuk!"


Bu Kinanti menarik gagang pintu lalu masuk ke dalam rumah.


"Biarkan aku tinggal di sini, Bu," lirih Maureen.


"Cepat tinggalkan rumah ini atau aku akan meneriakimu pencuri!" ancam bu Kinanti.


Maureen pun tidak punya pilihan selain meninggalkan rumah tersebut.


Maureen terus berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya ia pingsan di depan sebuah rumah karena kelelahan.


"Kamu ini dari mana mau kemana, Nak?" tanya si pemilik rumah sesaat setelah ia sadar.


"Saya-saya baru saja bebas dari tahanan. Tapi saya tidak punya tujuan."


"Memangnya kamu tidak memiliki keluarga?"


Maureen menggelengkan kepalanya.


"Saya sempat menemui ibu mertua saya tapi beliau menolak saya tinggal kembali bersamanya."


"Jadi, sekarang kamu mau kemana?"


"Ya sudah, sebentar lagi hari gelap. Sebaiknya kamu menginap di rumah saya saja. Kebetulan saya hanya tinggal sendiri."


"Maaf merepotkan, Bu, ehm…"


"Panggil saya Mira."


"Ya, Bu Mira."


"Nama saya Maureen."


"Kamu pasti lapar 'kan? Saya masak sebentar untuk makan malam."


"Terima kasih. Bu Mira begitu baik sama saya padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya."


"Sebagai sesama manusia kita memang harus saling tolong menolong 'bukan?"


Maureen menanggapi ucapan Mira dengan senyum simpul di bibir.


"Terima kasih, ya Allah. Engkau memberi pertolongan dari arah yang tak disangka-sangka," gumamnya.


****


"Tadi Karmila ke sini," ucap bu Kinanti pada Fabian di sela makan malam mereka.


"Yang benar saja. Dia kan masih di dalam tahanan. Mana mungkin datang ke sini."

__ADS_1


"Dia bilang dapat remisi. Jadi bisa bebas setahun lebih cepat."


"Masuk akal juga," batin Fabian. "Lantas, di mana dia sekarang?"


"Ibu usir dia.


"Hah?! Kenapa Ibu mengusirnya?"


"Memangnya kamu mau tinggal bersama mantan narapidana? Lagipula kamu memang punya niatan untuk menceraikannya 'bukan?"


"Tapi tidak seharusnya Ibu mengusir Maureen. Kasihan dia kalau malam-malam begini tidur di luar."


"Kenapa kamu harus kasihan padanya? Jangan-jangan setelah berpisah dari Silvia, kamu justru ingin kembali pada Maureen."


"Bukan begitu, Bu. Aku hanya, …"


"Sudahlah, jangan membahasnya lagi.


Lebih baik kita pikirkan mau kita gunakan untuk apa uang 500 juta dari tuan Anthony," ucap bu Kinanti.


Suasana hening sejenak.


"Kamu kenapa? Apa kamu tidak suka kita sekarang punya banyak uang?"


"Aku hanya sedang berpikir. Apakah tindakan kita sudah benar meminta uang sebesar itu karena mobil tuan Anthony tidak sengaja menabrak Amira? Bukankah maut adalah takdir yang sudah tertulis sebelum kita lahir ke dunia?"


"Kenapa kamu harus berpikir sejauh itu. Tuan Anthony yang bilang sendiri jika dia bersedia memberikan apapun bagi keluarga pejalan kaki yang ditabraknya?"


"T-t-tapi, Bu, …"


"Sudahlah, uang 500 juta itu jumlah yang kecil bagi tuan Anthony. Ehm … bagaimana kalau kita uang itu kita gunakan untuk membuka usaha?"


"Usaha apa, Bu?"


"Bagaimana kalau konveksi?"


"Begitu banyak jenis usaha. Kenapa Ibu memilih konveksi?"


"Ibu rasa kamu pasti tahu alasannya."


"Memangnya apa alasan Ibu memilih usaha itu?"


"Kita akan menyaingi usaha Zura. Kita harus tunjukkan jika usaha kita bisa lebih sukses dari dia," ucap bu Kinanti penuh semangat.


Bu Kinanti, perempuan yang begitu dikasihi Azzurra, kini justru menganggapnya sebagai musuh.


Bersambung …


Hi, Kak. Mampir juga ya di novel baruku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2