
"Ehm … sebenarnya Mila tidak ada rencana menginap di rumah kami. Tapi karena hujan tak kunjung reda, mungkin dia akan bermalam di sini. Bapak jangan khawatir, Mila akan tidur di kamar tamu bersama ibu saya," ungkap mas Fabian.
"Peraturan di komplek perumahan ini tamu harus menginap harus lapor pada saya. Boleh saya lihat KTP Mbak Mila?"
Mila mengambil kartu identitas dari dalam dompetnya lalu menyodorkannya pada pak Burhan.
"Karmila, tempat tanggal lahir kota S."
Entah mengapa Mila cepat-cepat mengambil kembali kartu identitasnya sebelum pria yang cukup disegani di komplek perumahan ini selesai mengamatinya.
"Jadi, Mbak Mila ini bukan asli warga kota ini?" tanya pak Burhan.
"Bu-bu-bukan, Pak. Saya-saya, …"
"Sebaiknya kita ke rumah Bapak sekarang. Saya takut sesuatu yang buruk terjadi pada ibu saya," potong mas Fabian.
Aku menangkap senyum tipis di bibir Mila. Kurasa dia senang lantaran pak Burhan tidak lagi bertanya ini dan itu lagi padanya.
Mas Fabian mengambil payung berukuran cukup besar yang kuletakkan di sudut ruangan. Hanya payung itu yang kami punya selain yang tadi dibawa ibu.
"Aku ikut!" seru Mila.
"Kamu di rumah saja temani Zura," ucap mas Fabian.
"Aku juga khawatir pada ibu," rengeknya yang kuyakini hanyalah basa-basi.
"Mari, Mas."
Mila melirik ke arahku sejenak sebelum akhirnya mengikuti mas Fabian dan pak Burhan yang beranjak dari ruang tamu.
Hati ini tetap saja perih melihat mereka berjalan beriringan di bawah payung yang sama. Pun aku tak bisa berbuat banyak. Kurang bijak rasanya jika aku melarangnya pergi. Mas Fabian bahkan pak Burhan akan menganggap sikapku kekanak-kanakan.
Tiba-tiba perutku bersuara yang menandakan aku mulai diserang rasa lapar. Kuakui, semenjak melahirkan Lyra, aku merasa selera makanku meningkat. Bahkan saat posyandu beberapa hari yang lalu berat badanku mengalami kenaikan. Untuk saat ini aku sama sekali tak memperdulikan berat badan ataupun bentuk tubuhku. Yang terpenting Lyra tidak pernah kekurangan asupan ASI. Karena hanya itulah satu-satunya sumber kehidupan baginya.
Aku sudah selesai makan malam namun mas Fabian dan ibu mertuaku tak kunjung datang padahal rumahku dan pak Burhan hanya berjarak beberapa blok saja.
Aku beranjak dari dari ruang makan lalu berjalan menuju teras rumah. Hujan belum reda meskipun tak sederas sore tadi.
"Assalamualaikum."
Aku bernafas lega saat kudengar suara mas Fabian memasuki teras rumah. Dia terlihat mengangkat tubuh ibu dengan dibantu pak Burhan.
"Waalaikumsalam."
"Ibu gak kenapa-napa 'kan, Mas?" tanyaku khawatir.
Mas Fabian hanya menggelengkan kepalanya. Dia dan pak Burhan lantas membawa ibu masuk ke dalam kamar tamu.
"Terima kasih, Pak," ucap mas Fabian.
"Sebaiknya mas Bian secepatnya membawa bu Kinanti berobat. Sepertinya beliau sangat kesakitan," ucap pak Burhan. Mas Fabian mengangguk paham.
"Saya permisi dulu, Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
"Ibu kenapa, Mas?" tanyaku.
"Dari tadi ibu mengeluh punggungnya sakit."
"Mas bawa ibu ke rumah sakit saja sekarang," ucapku.
"Aku takut, …"
"Takut kenapa, Mas?"
"Aku takut jika ibu harus dioperasi. Pasti akan membutuhkan biaya yang besar."
"Jadi mau Mas gimana sekarang?"
"Mas besok akan memanggil mbok Jum untuk memijit ibu. Mungkin setelah dipijit keadaan ibu akan membaik."
"Tapi, Mas. Ibu kesakitan terus dari tadi. Aku justru takut jika ibu dipijit."
"Insyaallah gak apa-apa."
"Apa gak sekarang saja, Mas?" protesku.
"Rumah mbok Jum cukup jauh dari sini. Lagipula ini sudah malam. Belum tentu beliau mau memijit di malam hari."
"Mas coba saja dulu. Semoga beliau mau memijit ibu sekarang."
"Besok saja. Ibu juga sudah tidak kesakitan lagi.
"Membantah suami itu nggak baik lho Mbak." Tiba-tiba Mila menimpali perdebatan kami.
"Aku nggak membantah. Aku justru menyarankan agar ibu secepatnya mendapatkan penanganan," ujarku.
"Mas Fabian bilang besok ya besok."
Aku enggan menanggapi lagi ucapan Mila.
"Mas mau makan malam?" tanyaku.
Dia menganggukkan kepalanya.
Aku bergegas meninggalkan ruang tamu dan menuju dapur.
"Gulai ayamnya sudah kuhangatkan. Mas jangan makan sambal lagi," ucapku.
Aku bisa merasa saat itu Mila melirik sinis ke arahku.
"Oh ya. Setelah makan malam Mas antar Mila pulang. Gak enak sama tetangga apalagi tadi pak Burhan sudah bilang tamu menginap harus lapor," ucapku. Mas Fabian mengangguk pelan.
"Mari kuantar pulang," ucap mas Fabian usai makan malam.
Aku mengamati wajah Mila. Dari raut wajahnya aku bisa membaca dia enggan meninggalkan rumah ini.
__ADS_1
Mila mengambil tasnya dan melengang begitu saja dari hadapanku. Tanpa pamit apalagi mengucapkan salam.
"Assalamualaikum," sindirku.
"Kamu gak pamit dulu sama Zura?" tanya mas Fabian.
"Aku pulang," ucapnya datar.
Setelah meraih tangan mas Fabian dan mengecup punggung tangannya, mereka pun meninggalkan ruang tamu.
"Duarrrr!" Aku terperanjat saat tiba-tiba terdengar suara petir yang cukup memekakan telinga. Sedetik berselang hujan pun kembali turun dengan derasnya.
"Oek…Oek…"
Aku lekas berlari menuju kamar. Suara petir itu pasti telah mengagetkannya hingga membuatnya terbangun.
"Sepertinya hujan memang tidak mengizinkan aku pulang malam ini." Meski dengan suara pelan, aku bisa mendengar ucapan Mila.
"Biar Mila menginap saja malam ini," ucap mas Fabian. Dia akan tidur bersama ibu di kamar tamu. Aku shalat isya' dulu."
Lagi-lagi aku menangkap senyum menyebalkan itu dari bibir Mila sebelum akhirnya berjalan menuju kamar tamu. Meskipun berat hati, aku harus rela Karmila menginap di rumahku malam ini.
Aku masuk ke dalam kamar dan menyusui Lyra yang terbangun lantaran suara petir yang cukup keras tadi.
Rasanya baru sebentar saja aku memejamkan mata. Aku terperanjat saat memandang jam dinding di kamarku. Sudah hampir jam sebelas malam tapi mas Fabian belum juga masuk ke kamar.
Pikiran buruk pun seketika memenuhi kepalaku.
Apa mas Fabian sedang bersama Mila?
Apa mereka sedang berduaan di kamar tamu? Ah tidak mungkin! Ibu ada di kamar itu juga.
Aku merapikan kembali kancing pakaianku. Dengan gerak perlahan aku beranjak dari atas ranjang agar Lyra tidak ikut terbangun. Aku harus memastikan semuanya baik-baik saja.
Aku membuka pintu lalu menutupnya kembali. Tujuan pertamaku adalah kamar tamu. Aku harus memastikan jika Mila kini sedang tertidur pulas di dalam sana. Kuputar gagang pintu lalu aku mendorongnya. Aku berjingkat saat tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari arah belakang.
"Mbak Zura ngapain di sini?"
Loh? Kok Mila ada di luar kamar. Tunggu dulu. Aku melihatnya berkeringat seperti habis melakukan sesuatu yang menguras tenaga.
"Dek…kamu belum tidur?"
Aku bertambah heran saat tiba-tiba mas Fabian muncul dari arah toilet. Nafasnya juga tampak tak beraturan.
Ada apa sebenarnya dengan mas Fabian dan Mila? Apakah mereka…?
Bersambung….
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
🙏🙏