
Aku semakin bingung saat tiba-tiba Mila menyibak rambutnya yang tergerai itu. Sebenarnya apa rahasia yang ia maksud?
"Kamu pasti masih ingat tanda lahir ini," ucapnya seraya memperlihatkan setitik tana hitam kebiruan di bagian tengkuk lehernya.
Setahuku hanya satu orang yang memiliki tanda lahir di bagian tubuh itu. Dia adalah kakak perempuanku yang bernama Maureen. Ya Rabb … apa maksud semua ini? Apakah perempuan yang kini duduk berhadapan denganku ini adalah kak Maureen yang sudah begitu lama menghilang?
"Kamu sudah tahu jawabannya 'bukan?"
"Masyaallah … Kak Maureen? Apa benar ini Kakak?" tanyaku tentu saja dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari sebelumnya.
"Ya, ini aku, Maureen," jawabnya.
"T-t-tapi … kenapa wajah Kakak, …"
"Kamu pasti tidak mengenaliku karena wajah ini bukan wajah Maureen yang kamu kenal."
"Kenapa wajah Kakak jadi berubah begini?" Seribu pertanyaan mulai memenuhi kepalaku.
"Saat api mulai membesar, aku, ayah, ibu dan kak Darren keluar dari rumah. Kami terpaksa meninggalkan Kakak karena pintu kamar kakak terkunci. Kami juga sudah berteriak memanggil nama Kakak tapi Kakak tidak mendengarnya. Kami pikir Kakak sudah, …"
Karmila atau yang sebenarnya kak Maureen tersenyum tipis.
"Kalian pasti berpikir aku sudah tewas terbakar dalam peristiwa itu. Tapi tanpa kalian ketahui aku keluar dari kamarku dan memasuki kamar ayah dan ibu. Aku sempat mengambil buku tabungan milik ayah dan sebagian perhiasan milik ibu. Dengan uang itulah aku melakukan operasi pada wajahku," ungkapnya.
"Kenapa Kakak harus menyamar sebagai Karmila dan mengobrak-abrik rumah tanggaku dengan mas Fabian?"
Aku merasa kedua netraku memanas. Hingga akhirnya bulir-bulir bening itu tumpah.
"Aku iri padamu."
"Iri?"
"Ibu dan ayah selalu memperlakukanmu seperti seorang putri, sedangkan perlakuan mereka padaku dan kak Darren seperti anak tiri. Bertahun-tahun aku berjuang hidup seorang diri hingga pada suatu hari aku bertemu dengan mas Fabian. Dia menolongku saat aku hampir dilecehkan pria mabuk saat aku pulang bekerja. Dia lah laki-laki pertama yang membuatku jatuh cinta."
"Tunggu. Bukankah Kakak sudah menikah dan suami Kakak tewas karena ditabrak mobil Fabian?"
Kak Maureen menggeleng pelan.
"Itu hanya sandiwara. Aku sempat sedih dan kecewa saat tahu mas Fabian sudah menikah dan istrinya baru saja melahirkan. Aku pun mulai menyelidiki tempat tinggal dan keluarga mas Fabian. Aku cukup kaget saat tahu istri mas Fabian ternyata kamu. Dari situlah dendam lamaku kembali muncul. Aku berniat merebut mas Fabian darimu. Pada awalnya dia tak tergoda dengan rayuanku, tapi imannya goyah juga hingga pada akhirnya kami melakukan hubungan suami istri di rumah kontrakanku. Agar dosa kami tak semakin bertambah, kami memutuskan untuk menikah secara siri."
"Ja-ja-di siapa laki-laki yang ditabrak Fabian?" tanyaku.
"Dia hanyalah laki-laki yang kubayar untuk berpura-pura tewas setelah mobil mas Fabian menabraknya. Meskipun yang terjadi sebenarnya dia yang menabrakkan diri pada mobil mas Fabian."
"Astaghfirullahaldzim," ucapku.
"Aku benar-benar minta maaf, aku sudah membuat hidupmu hancur. Aku menyesal, Zura," ucap kak Maureen sembari menggenggam erat kedua tanganku. Kulihat kedua netranya kini mulai basah.
__ADS_1
Kesalahan yang dilakukan kak Maureen memang terlampau besar. Namun, pantaskah jika aku menyimpan dendam padanya?
"Kamu mau 'kan maafin kakak?" tanyanya penuh harap.
Aku menyeka air mataku yang sedari tadi tak berhenti mengalir, lantas kutatap mata kakak perempuanku itu.
"Insyaallah aku sudah memaafkan Kakak," ucapku.
"Terima kasih, Zura." Kak Mauren pun lantas merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.
Aku melangkah meninggalkan lembaga pemasyarakatan dengan dada yang begitu lapang. Meskipun pengakuan kak Maureen cukup mengejutkan, tapi kini aku merasa lega lantaran Allah sudah mempertemukanku dengan kakak perempuanku.
"Ibu tidak menyangka perempuan yang selama ini kita kenal sebagai Karmila, ternyata adalah kakak kandungmu, Nduk," ucap mantan ibu mertuaku saat dalam perjalanan pulang.
"Iya, Bu. Kak Maureen yang kupikir tewas dalam peristiwa kebakaran itu ternyata selamat," ujarku.
"Tetap saja ibu tidak suka dengan sifatnya yang pendendam. Hanya karena merasa iri dan sakit hati padamu, ia begitu tega melampiaskannya dengan masuk ke dalam rumah tanggamu sebagai orang ke tiga yang pada akhirnya benar-benar berhasil membuat hubungan kalian hancur. Orang sejahat sepertinya, apa mau kamu memaafkannya begitu saja?"
Aku membuang nafas.
"Apa yang dilakukan kak Maureen memang begitu menyakitkan. Tapi, bukankah setiap orang pernah melakukan kesalahan? Aku yakin kak Maureen sudah menyesali kesalahannya dan dia mau berubah."
"Semoga," ucap ibu.
Beberapa saat kemudian kami tiba di rumahku. Ibu tampak bingung sekaligus kagum melihat tempat tinggalku sekarang.
"Alhamdulillah, Bu. Ini semua berkat doa Ibu juga," ujarku.
"Seandainya saja kamu masih bersama Fabian, dia pasti merasa bangga memiliki istri sepertimu."
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba Lyra yang berpakaian seragam itu muncul dan berlari ke arahku.
"Ibu … "
"Kamu sudah pulang, Sayang. Mana nenek?"
"Di sana."
"Kamu larinya cepat sekali. Nenek kalah," ucapnya dengan nafas tersengal.
"Assalamu'alaikum," sapa mantan ibu mertuaku.
"Waalaikumsalam. Ibu ini pasti ibu Kinanti, mantan ibu mertua Zura."
"Benar, Bu."
"Selamat datang di rumah ini. Saya Sabrina, ibu kandung Azzura," ucap ibu.
__ADS_1
"Nenek ini siapa, Bu?" tanya Lyra dengan mata polosnya.
"Beliau nenek kamu juga, Sayang," jawabku.
"Hore! Aku punya dua nenek!" soraknya.
"Kamu senang, Sayang?" tanyaku.
"Senang sekali, Bu. Rumah ini jadi semakin ramai. Tapi, …"
Dalam hitungan detik saja wajah riangnya berubah murung.
"Tapi kenapa, Nak?"
"Kenapa Ibu tidak mengajak ayah juga untuk tinggal di rumah ini?"
Aku menatap sejenak mata mantan ibu mertuaku sebelum memberi jawaban untuk pertanyaan putri kecilku itu. Aku mengerti, anak sekecil itu belum paham apa itu perceraian.
"Ayahmu tidak bisa ikut tinggal bersama kita."
"Kenapa, Bu? Aku punya dua orang nenek dan semuanya tinggal di rumah ini. Masa ayah tidak boleh."
"Ehm …"
"Lyra Sayang, ayahmu sedang banyak urusan di luar rumah. Jadi, dia tidak bisa tinggal di sini. Oh ya, nenek tadi membuat puding. Lyra mau mencobanya tidak?" Ibu menimpali. Putri kecilku itu mengangguk cepat.
"Kita masuk, ganti baju, lalu makan puding." Ibu menggandeng tangan Lyra lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Mari, Bu. Masuk ke dalam." Aku dan mantan ibu mertuaku baru saja beranjak dari halaman rumah ketika tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam memasuki pekarangan rumahku. Tidak berselang lama seorang pria yang mengenakan kacamata hitam turun dari mobil tersebut.
"Siapa itu, Nduk?" tanya ibu.
Aku baru bisa melihat wajah pria itu dengan jelas setelah ia melepaskan kaca mata hitamnya dan berjalan mendekat ke arahku.
"Pria ini? Bukankah dia …?" Ah! Kenapa tiba-tiba aku salah tingkah begini?"
Bersambung …
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
Happy reading…
__ADS_1