
"Mas Fabian… Mila…"
Ya. Kedua pengunjung yang baru saja masuk ke dalam toko adalah mas Fabian dan Karmila. Meskipun sudah memutuskan menjauh dari kehidupan mas Fabian, aku tidak bisa memungkiri jika perasaan cemburu masih saja menyeruak memenuhi rongga dadaku.
"Loh… itu mas Fabian dan mbak Melly di sini juga toh?" tanya Bu Murni. Baginya Mila adalah Melly. Sebab, nama itulah yang pernah disebutkan oleh Mila saat keduanya pertama kali bertemu di rumah sakit.
Ya Rabb… apa yang harus kukatakan pada Bu Murni? Apakah ini saatnya aku berkata jujur padanya tentang siapa perempuan yang mengaku bernama Melly itu?
Tiba-tiba ponsel bu Murni berdering. Dia pun bergegas menjawab panggilan tersebut.
"Maaf, Mbak. Saya harus pergi sekarang. Saya baru ingat hari ini saya harus menghadiri rapat di kecamatan," ucap Bu Murni.
Terima kasih, Rabb ku. Engkau memberikan pertolongan di saat yang tepat. Aku tidak tahu berapa kebohongan lagi yang harus kulakukan pada Bu Murni seandainya dia tidak menjawab panggilan telepon itu.
"Eh, Mbak Zura belanja di sini juga? Memangnya Mbak punya uang?" cibirnya.
"Aku hanya belanja sedikit kok."
"Aduh, kasihan banget sih hidup Mbak. Mau belanja saja kelihatannya mikir banget. Lihat nih, mas Fabian baru saja gajian. Semua gaji bulan ini diberikan padaku."
Mila mengambil puluhan lembar uang pecahan seratus ribu dari dalam tasnya lalu memamerkannya padaku.
Kubalas ucapan itu dengan senyum tipis di bibir.
"Ini uang untuk membeli susu dan kebutuhan Lyra," ucap mas Fabian sembari menyodorkan dua lembar uang pecahan seratus ribu padaku.
"Jangan dipakai buat makan loh, Mbak. Uang itu hanya untuk keperluan Lyra," ucap Mila.
"Terima kasih." Kuterima uang senilai dua ratus ribu rupiah itu lalu menyimpannya di dalam tasku.
"Oh ya, Mbak. Aku datang ke sini untuk membeli baju hamil. Aku sudah telat datang bulan."
Hamil? Secepat itukah dia hamil?
"Oh ya. Saat Mbak hamil dulu mas Fabian romantis nggak? Dia sekarang semakin romantis banget loh. Apapun yang aku minta selalu dituruti. Semoga bayi kami nanti laki-laki," ucap Mila.
Sekali lagi kutanggapi ucapannya dengan senyum tipis.
"Aku boleh menggendong Lyra?" tanya mas Fabian.
Aku menganggukkan kepalaku. Meskipun telah membuatku terluka, bagaimana pun mas Fabian adalah ayah kandung Lyra. Aku tidak akan mengajari putriku membenci ayah kandungnya.
Baru beberapa saat berada di dekapannya, tiba-tiba Lyra menangis. Apakah dia tidak nyaman lagi berada di dekat ayahnya?
"Ibunya aja membenci Mas. Sudah pasti dia mer*cuni pikiran Lyra agar membenci ayahnya juga," ucap Mila.
"Jaga mulut kamu, Mila! Meskipun aku kecewa pada mas Fabian, aku tak pernah sekalipun mengajari Lyra membenci ayahnya!"
"Buktinya sudah cukup jelas kok. Lyra tidak nyaman lagi berada di gendongan Mas," ucap Mila.
__ADS_1
"Aku sudah selesai memilih baju. Aku bayar dulu di kasir," ucapku sembari mengambil alih Lyra dari gendongan mas Fabian.
"Kalau uangnya kurang hutang aku saja," ledek Mila.
"Tidak perlu. Insya uangku cukup."
Aku berlalu dari hadapan mereka lalu berjalan menuju kasir.
"Berapa semuanya, Mbak?" tanyaku pada kasir usai menghitung barang belanjaanku
"Tiga ratus ribu rupiah."
Aku mengambil lima lembar uang pecahan seratus ribu dari dalam tas ku lalu memberikannya pada kasir.
"Tiga ratus ribu saja, Mbak," ucap kasir.
"Yang dua ratus ribu masukkan saja ke kotak amal," ucapku.
"Masyaallah. Semoga Allah memberi rezeki yang banyak untuk Mbak sekeluarga."
"Aamiin."
Ya. Uang senilai dua ratus ribu itu adalah
uang yang diberikan mas Fabian padaku untuk keperluan Lyra. Semenjak memutuskan untuk pergi meninggalkan mas Fabian, aku sudah bersumpah pada diriku sendiri tidak akan pernah menerima lagi uang darinya. Aku yakin bisa hidup tanpanya.
"Lihat tuh Mas. Istri Mas memang tidak punya hati. Uang keperluan Lyra malah dimasukin ke kotak amal."
Aku sempat menoleh ke arah mereka sebelum akhirnya pergi meninggalkan toko.
Aku kembali menumpangi taksi yang akan mengantarku menuju tempat tinggalku.
Aku tersentak kaget saat taksi itu tiba-tiba berhenti.
"Kenapa kita berhenti, Pak?" tanyaku pada pengemudi taksi.
"Di depan ada kecelakaan, Mbak."
"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un."
"Siapa yang kecelakaan, Pak?" tanya pengemudi taksi pada salah satu polisi yang tengah mengatur lalu lintas di sekitar tempat terjadinya kecelakaan.
"Mobil sedan berwarna silver bertabrakan dengan truk. Dari laporan saksi mata, mobil itu melaju dengan kecepatan itu hingga akhirnya hilang kendali," jelas polisi.
Peristiwa kecelakaan itu membuat kemacetan yang cukup panjang. Entah mengapa aku begitu penasaran ingin melihat apa yang terjadi di luar sana. Apalagi mobil itu sama persis dengan mobil yang menabrak bagian belakang taksi yang kutumpangi pagi tadi. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari dalam taksi dan menembus kerumunan itu.
"Bagaimana keadaan korban, Pak?" tanyaku pada pria paruh baya yang berada di kerumunan.
"Korban laki-laki meninggal dunia di tempat, sementara korban perempuan mengalami luka yang cukup parah terutama di bagian kepalanya," jelas pria itu.
__ADS_1
Tidak berselang lama mobil ambulans tiba. Kedua korban yang telah berhasil dikeluarkan dari mobil itu lantas dibawa menuju mobil berwarna putih tersebut.
Tubuhku gemetar hebat dengan tangan dan kaki yang mendadak terasa dingin saat dua tandu melintas tepat di hadapanku. Mataku terbelalak saat memandang wajah korban perempuan itu.
"Ibu!" jeritku yang sontak mengundang perhatian beberapa pasang mata yang berada di tempat itu.
"Mbak mengenal perempuan ini?" tanya salah satu polisi.
"Ya, Pak. Beliau adalah ibu kandung saya," jawabku dengan suara bergetar.
"Kedua korban akan dibawa ke rumah sakit. Silahkan kalau Mbak ingin menyusul," ucap polisi.
"Baik, Pak."
Ya Rabb, bagaimana ini? Apa aku harus kembali lagi ke rumah sakit?
Tiba-tiba pikiranku tertuju pada kak Darren. Hanya dia lah satu-satunya keluarga yang kumiliki.
Aku mengambil ponselku lalu menghubungi nomor Fatimah.
Nada sambung terdengar, namun Fatimah tak kunjung menjawab panggilan dariku. Bukan Azzura namanya jika mudah menyerah.
Aku terus menghubungi nomor ponsel Fatimah hingga akhirnya terdengar suara seseorang dari seberang sana.
[Halo]
Aku hafal betul suara bariton itu. Dia adalah kakak kandungku, Darren.
[Ada apa lagi kamu menelpon?]
[Kumohon lupakan sejenak dendam di hati Kakak]
[Tidak usah bertele-tele. Apa yang ingin kamu sampaikan? Nanti kusampaikan pada Fatimah. Dia baru saja tidur]
[Ini soal ibu kita, Kak]
[Ibu? Kenapa dengan ibu? Beliau meninggalkan rumah saat usaha ayah bangkrut. Aku tidak pernah berharap bisa bertemu kembali dengan ibu. Aku bahkan menganggap jika ibu sudah tiada]
[Ibu kita masih hidup, Kak]
[Maksudnya kamu apa?]
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1