Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Hikmah di balik musibah


__ADS_3

Pak Prayoga beranjak dari ruangan dan memanggil dokter yang berada di persis di sisi kamar perawatan ibu.


"Dokter! Tolong! Pasien di kamar perawatan 118 kesakitan lagi."


Dokter yang menangani ibu pun bergegas memasuki ruangan.


"Untuk saat ini sebaiknya jangan membuat pasien berpikir terlalu keras. Sebab dia akan merasakan nyeri hebat di kepalanya," ucap dokter sesaat setelah memeriksa ibu.


"Apa amnesia yang dialami ibu saya parah, Dok?" tanyaku.


"Berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien mengalami amnesia disosiatif. Yakni suatu keadaan dimana pasien kehilangan ingatanya hingga hal detail sekalipun," jelas dokter. 


"Jadi, ibu saya selamanya akan kehilangan ingatannya?" tanyaku lagi.


Dokter mengangguk pelan yang berarti menjawab "ya".


Aku memberanikan diri mendekati ibu saat beliau tidak kesakitan lagi.


"Aku datang ke sini membawakan makanan kesukaan Ibu," ucapku sembari duduk di tepi ranjang.


Tak kusangka perempuan yang kupanggil ibu itu tertarik dengan bungkusan plastik yang kuletakkan di atas meja.


"Aku mau memakannya sekarang," ucapnya.


Dengan sigap aku memindahkan bakso yang kini kuahnya tidak terlalu panas itu dari plastik ke dalam mangkuk.


"Ibu mau kusuapi?" tanyaku.


"Tidak usah. Kamu pasti repot menggendong bayimu."


"Bayi ini adalah cucumu, Ibu," gumamku dalam hati. Ibu pun lantas meraih mangkuk berisi bakso tersebut. Beliau lantas menyantapnya dengan lahap.


"Ehm, Nak Zura…"


Tiba-tiba pak Prayoga memanggilku.


"Ya, Pak."


"Bagaimana kalau saya membayar orang untuk menjaga Sabrina di sini? Saya tahu Nak Zura tidak bisa terlalu lama berada di rumah sakit ini dengan mengajak serta ehm…"


"Namanya Lyra, Pak," ucapku.


"Lyra masih begitu kecil, tidak baik berada terlalu lama berada di rumah sakit. Sementara kesibukan saya tidak mungkin menjaganya seharian penuh," ucap pak Prayoga.


"Untuk masalah biaya perawatan Sabrina, Nak Zura tidak perlu khawatir. Saya yang akan menanggung semuanya," imbuhnya.


"Tapi, Pak. Beliau adalah ibu kandung saya. Sudah menjadi kewajiban saya untuk merawat serta menanggung semua biaya perawatan beliau."


"Tidak apa, Nak. Saya juga sudah mendapatkan orang yang mau menjaga Sabrina."


Alhamdulillah, terima kasih ya Rabb. Di saat aku kebingungan memikirkan biaya rumah sakit ibu, Engkau mempertemukan hamba dengan pria sebaik pak Prayoga.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak. Semoga Allah membalas kebaikan hati Bapak," ucapku.


"Aamin. Oh ya, Nak Zura tinggal di mana?" tanyanya.


"Saya-ehm… saya tinggal di tempat kost tidak jauh dari pabrik tekstil LR."


"Loh. Memangnya Nak Zura tidak punya rumah? Ayahnya Lyra bekerja di mana? Maaf kalau saya banyak tanya."


Aku membuang nafas sebelum menjawab pertanyaan itu. 


"Saya tidak memiliki tempat tinggal, Pak. Rumah saya terbakar sekitar satu Minggu yang lalu dan tidak bisa ditempati lagi. Kalau ayahnya Lyra…ehm…dia…dia…"


"Kenapa, Nak? tanya pak Prayoga penasaran.


"Saya dan ayahnya Lyra tidak lagi tinggal bersama."


"Maksud Nak Zura kalian, …"


"Benar, Pak. Saya memutuskan untuk meninggalkan ayahnya Lyra karena dia menikahi perempuan lain tanpa seizin dan sepengetahuan saya. Saya tidak bisa memaafkan sebuah pengkhianatan."


"Bodoh sekali pria itu meninggalkan istri sebaik Nak Zura," ucap pak Prayoga.


Aku tersenyum hambar.


"Mungkin jodoh kami hanya sampai di sini, Pak."


"Apa yang Nak Zura lakukan sudah benar. Jadilah perempuan kuat dan punya prinsip. Jangan mau diinjak-injak oleh siapapun."


"Ya… baik. Saya ke sana sekarang," ucapnya sebelum menyimpan kembali ponselnya.


"Maaf, Nak Zura. Saya harus pergi sekarang. Ada urusan pekerjaan," ucapnya. Aku mengangguk paham.


"Mungkin tidak lama lagi orang yang saya minta menjaga Sabrina tiba di rumah sakit ini," ucap pak Prayoga.


"Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih untuk semua kebaikan Bapak," ucapku.


Pria paruh baya itu tersenyum tipis menanggapi ucapanku.


"Oh ya. Mungkin Nak Sabrina bisa mencatat nomor ponsel saya agar memudahkan kita berkomunikasi," ucapnya sembari menyodorkan ponselnya ke arahku. Aku pun lantas menyalin nomor ponselnya di ponsel milikku.


"Ya sudah, saya pergi dulu. Kalau orang yang menjaga Sabrina sudah datang, Nak Zura bisa pulang. Kasihan adik Lyra berlama-lama di rumah sakit. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Pak Prayoga memutar gagang pintu kemudian menariknya. Di saat bersamaan tampak seorang perempuan berdiri di tengah pintu. Jika dilihat dari wajahnya, usianya lebih tua beberapa tahun di atas ibu, namun lebih muda dari ibu mertuaku.


"Assalamu'alaikum," sapanya.


"Waalaikumsalam," jawab kami bersamaan.


"Nah, ini orang yang akan menjaga Sabrina. Namanya mbok Sumi," jelas pak Prayoga. Aku mengangguk paham.

__ADS_1


Penampilan mbok Sumi wajar seperti perempuan seusianya. Beliau mengenakan kemeja panjang dan kain jarik bermotif batik, sementara kepalanya tertutup hijab.


"Maaf, Mbak ini siapa?" tanyanya padaku.


"Nama saya Azzura, Mbok. Saya adalah putri kandung ibu Sabrina. Maaf, jika saya merepotkan Mbok. Saya memiliki bayi, jadi tidak bisa berlama-lama apalagi menginap di rumah sakit ini," ucapku.


"Tidak apa-apa, Mbak. Saya kenal baik dengan pak Prayoga. Dulunya beliau sering menjahit baju di tempat saya."


"Mbok Sumi bisa menjahit?" tanyaku.


"Dulu iya, Mbak. Tapi sekarang tidak lagi."


"Loh, kenapa, Mbok?" 


"Penglihatan saya sudah mulai kabur. Saya kesulitan melihat benda-benda berukuran kecil. Beberapa pelanggan saya mengatakan jika jahitan saya tidak serapi dulu, mereka juga tidak sekali dua kali tidak mau membayar ongkos jahit dengan alasan model bajunya tidak sesuai permintaan. Perlahan pelanggan saya meninggalkan saya hingga akhirnya saya benar-benar berhenti menjahit," ungkap mbok Sumi.


"Sayang sekali ya, Mbok. Jadi sekarang pekerjaan Mbok apa?"


"Apa saja, Mbak. Yang penting saya bisa makan dan menghidupi diri saya sendiri. Saya sering diminta memasak nasi di rumah tetangga yang punya hajatan. Tidak jarang juga saya diminta untuk merawat orang sakit atau menunggu di rumah sakit seperti yang diminta pak Prayoga sekarang."


"Nak Zura… Mbok Sumi…saya permisi dulu, Assalamu'alaikum," ucap pak Prayoga.


"Waalaikumsalam," jawab kami bersamaan.


Pak Prayoga pun lantas meninggalkan kamar perawatan ibu.


"Saya titip ibu saya ya, Mbok," ucapku.


"Baik, Mbak. Saya pasti akan merawat bu Sabrina sebaik mungkin."


"Jika ada perlu apa-apa, Mbok panggil dokter atau perawat saja," ucapku.


"Baik, Mbak."


Aku lantas berjalan menghampiri ibu.


"Bu, kalau ada perlu apa-apa dengan mbok Sumi ya. Aku pulang dulu." Kuraih tangan ibu lalu kukecup punggung tangannya.


"Assalamu'alaikum," ucapku.


"Waalaikumsalam," jawab mbok Sumi.


Aku berjalan keluar dari kamar perawatan ibu. Perasaanku kini sedikit tenang. Ada seseorang yang menjaga ibu di dalam sana serta pak Prayoga dengan kemurahan hatinya bersedia menanggung semua biaya perawatan ibu.


Terima kasih ya Rabb, di balik ujian berat yang Engkau berikan padaku, Engkau juga menghadirkan orang-orang baik di sekelilingku.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2